Oct 3, 2017

9 Tips Menaikkan Semangat Menulis

Bagi seorang penulis yang otodidak dan amatir seperti aku, harus punya trik tersendiri dalam menaikkan atau boosting semangat menulis. Karena sering kali godaan sebagai ibu rumah tangga dan istri, berikut tugas sehari-hari membuat terlena dan nyaris padam api semangat menulis dalam jiwa.

Biasanya ada beberapa kegiatan yang kulakukan, jika ingin menaikkan semangat tersebut. Antara lain:


1. Membaca


Bukanlah perkara remeh terkait membaca ini. Seorang penulis yang mengaku bisa nulis tanpa perlu membaca, buatku sungguh aneh sekaligus luar biasa. Karena bagiku, membaca adalah salah satu sumber inspirasi, sekaligus memperkaya kosa kata dan pemikiran atau ide.

Membaca, buku apa saja, adalah salah satu boosting yang sangat ampuh bagiku. Jadi kalau sedang stuck atau kesulitan memulai menulis, aku memilih menghabiskan waktu untuk membaca banyak buku yang aku tertarik atau sukai genrenya. Gak spesifik. Tergantung moodku atau rencana buku yang akan kutulis.

Membaca buku hingga tamat, beda dengan membaca buku sebagai referensi. Aku  memilih membaca buku sampai tamat, jika buku itu bukanlah referensi tulisanku, melainkan sekedar pengisi waktu atau sebaliknya, kubutuhkan sebelum memulai menulis. Sementara untuk referensi menulis, aku biasanya menggunakan daftar isi dan indeks sebagai panduan membaca. Bagian yang terkait tulisanku saja yang kubaca. Jadi jangan heran, jika aku punya banyak buku, tak berarti 100 persen aku tamat membacanya ;)


Yuk Membaca!
Foto diperagakan oleh Model Sevy Andriani :)
Jangan lupa baca juga pojok kesukaanku saat membaca dan menulis: http://www.dianonasis.com/2016/06/pojok-rumah-yang-menyembuhkan-jiwa.html

Beberapa bacaanku bulan Maret 2017 kemaren, saat belajar tentang komik dan cerita islami, serta
kepo dengan buku penulis lainnya :)






2. Menghadiri Launching Buku atau Bedah Buku

Ini kegiatan yang paling kusuka, sayangnya tidak sering bisa kulakukan. Bukan perkara sedikitnya kegiatan ini, tapi kemampuanku  meraih waktu untuk duduk cantik di ruangan membahas buku yang dilaunching atau dibedah, tidak semudah saat belum punya momongan. hehehe

Tapi, biasanya sepulang dari acara ini, hati ini senang bukan kepalang dan mulai semangat menulis lagi tuh!

Bareng Teh Pipit Senja, saat launching buku
Muslimah Bersyukurlah!

Bareng Komunitas Penulis Perempuan (WSC)
saat launching buku Berdamai Dengan Ayah 


3. Mengikuti Pelatihan Menulis Offline maupun Online, serta kegiatan workshop 

Ini juga kegiatan yang mengasyikkan sekaligus menambah ilmu pengetahuan. Selama punya anak balita, aku lebih  memilih untuk mengikuti pelatihan di online, atau group2 di FB (medsos). Bahkan aku sempat membuka kelas Permen tahun 2015-2016. Namun tahun ini aku vakum dulu, karena konsentrasi untuk menulis kembali.

Beberapa kali memberi latihan kepenulisan, atau sebaliknya ikut dalam workshop menulis, dijamin, pulangnya kita akan penuh dengan ide dan semangat menulis kembali. Luar biasa efek dari sebuah pelatihan atau workshop tersebut!

Saat membeli pelatihan menulis di salah satu SMP islam di Depok
bareng BAW goes to school 

baca juga kisahku saat menuju gathering penulis di Bandung:  http://www.dianonasis.com/2017/03/perjalanan-menuju-pulang-dan-selama.html


Ini salah satu kegiatan brainstorming saat Room To Read Workshop
di Yogyakarta bulan Agustus 2017 kemarin 


4. Berjumpa atau Silaturahim dengan Teman Sesama Penulis

Nah, jika kesempatan pelatihan tidak memungkinkan, maka cara lain adalah dengan bertemu dan berkumpul dengan teman sesama penulis dalam lingkup non formal alias ajang makan siang bareng saja. Sekedar melepaskan kangen sekaligus ngobrolin hal-hal sepele, tapi terkait dunia menulis juga.

Buatku, hingga detik ini, bertemu teman sesama penulis, merupakan salah satu cara yang amat ampun dalam menjaga lilin semangat menulis dalam jiwa ini... Beneran lhoo

Tak jarang, aku mengundang beberapa teman main ke rumah untuk sekedar ngobrol dan diskusi perihal dunia kepenulisan. :)



Sesama penulis cernak Tangsel nih!


Jumpa Kak Wyk dan mbak Deka di Mal

Sengaja meluangkan waktu menemui mentor dan temen juga
Meet teh Ary and mbak Dhani

5. Ke Toko Buku

Kalau ini udah kayak obat deh buatku... Rasanya kalau seminggu gak ke toko buku, ada yang salah dengan hidup ini. Hahaha

Walhasil, aku selalu meluangkan waktu minimal sebulan itu beberapa kali ke toko buku. Sekedar mencari buku baru, atau melihat buku teman, sekaligus merapal harapan, semoga buku ku kembali nongol di toko buku seperti era 2010 - 2013 lalu. hehehe

Kak Billa bersama buku The Cousin karyaku 

Kak Billa mejeng cantik di depan buku Bundanya 


6. Ke Book Fair atau Bazar Buku

Cara lain yang juga ampuh menaikkan semangat menulis, sekaligus bikin jebol kantong adalah mengunjungi pameran buku, bazar buku atau book fair. Ini sungguh rekreasi  yang menyenangkan buat penulis, termasuk aku dan keluarga.

Punya suami yang juga  demen ke pameran buku, bikin suasana semakin nyaman. Kebayang donk, kalau kita demen ke pameran buku, suami demen ke pameran burung atau mobil. Hahaha.. gak nyambung dan bakalan saling komplain..:)

Ini foto saat buku Dan Akupun Berjilbab akan dilaunching di IBF 2009
I love this moment

Saat ke International Book Fair.
PBA Community ada booth sendiri, dan teh Ary sedang launching buku ke 6 serial Keo Noaki
aku juga bertemu Erlita Pratiwi, penulis cerita misteri anak

Dan ini momentum bazar gede di BSD.
Aku sampe bolak balik ke bazar ini


Lihat juga tulisanku tentang trik datang ke BBWB ya : http://www.dianonasis.com/2016/05/tips-ala-dian-onasis-saat-belanja-buku.html

7. Mencoba Mengatur  Waktu Dengan Baik dan Nyaman

Hal lain yang gak begitu mudah dilakukan adalah, mencoba pengaturan waktu atau time management disesuaikan dengan kondisi.

Beberapa penulis akhirnya menaikkan kembali semangatnya, dengan mengubah jadwal menulis. Ada juga yang beradaptasi dengan kondisi rumah tangga, sehingga memilih menulis saat anak sekolah. *tunjuk hidung sendiri

Ada juga yang karena situasi tertentu memilih malam hari atau dini hari. Semuanya bisa jadi pilihan, dan dicari yang tetap bikin semangat menulis muncul kembali dan konsisten....:)

Aku hingga hari ini, belum bisa mendapatkan situasi yang tepat untuk menulis. Tapi kalau dipukul rata-rata, kesempatan paling besar adalah saat anak-anak sekolah. Karena aku tipikal penulis yang harus tenang sekitarnya kala menulis...hehehe



Foto tidak ada hubungan dengan sub isi :D hahaha


8. Jalan-Jalan ke Suatu Tempat dan Amati Sekitar

Pergi jalan-jalan, baik yang berbiaya murah, misalnya taman dekat rumah yang gratisan, ke TMII atau Ancol, bisa juga ke lokasi yang jarang terdengar, atau unik, seperti Rumah Quran Raksasa di Palembang, atau Kebun Alquran di Bogor.

Itu juga yang aku lakukan bersama keluarga. Jalan-jalan gak mesti ke luar negeri, ah!... banyak alternatif lain yang bisa dipilih untuk menyegarkan kembali pemikiran dan mental serta hati kita. Salah satunya taman. Kalau tinggal di Bandung apalagi tuh, banyak taman. Atau tinggal di Lombok, banyak pantai, tinggal di Depok, banyak universitas yang asri, atau taman komplek rumah sekalipun

Moto-moto tanaman dan serangga dari dekat, juga termasuk cara menyenangkan hati, dan menimbulkan banyak ide setelahnya :)

Ayooo, kita jalan-jalan ke lokasi terdekat!


Ikut kegiatan pengajian kantor suami.
Berkunjung ke Kebun Alquran di Bogor


Silahkan baca detail Catatan tentang ke kebun Alquran di sini: http://www.oenidian.com/2016/12/travelling-mom-kebun-alquran-belajar.html

Mengunjungi Rumah tempat menyimpan ayat Quran terbesar di dunia...



9. Bukti Terbit  Muncul (Media atau Berupa Buku)

Nah!

Kalau yang ini kadang bikin baper memang. Hahaha
Apalagi kalau tidak atau belum produktif lagi menulis seperti aku.
Karenanya, jika mendapat bukti terbit dari buku yang ada tulisanku, rasanya seru dan kembali semangat menulis lagi.

Mudah-mudahan segera lahiran buku lagi nih! Terutama buku solo, agar semangat menulis tak pernah padam, sampai kapanpun. Amiiiin


Bukti Terbit Buku Solo termutakhir... 2016
Belum ada yang baru...:(

Baiklah,

Demikian tips dariku tentang berbagai cara menaikkan semangat menulis. Mudah-mudahan memberi solusi meski sedikit, atau minimal memunculkan ide baru bagi teman sekalian untuk kembali menata mental dan duduk manis mengetik naskah barunya...

Selamat berkreatifitas!




Patah Hati Berbuah Domain Diri

Berdiri di samping banner buku " Dan Akupun Berjilbab" yang aku susun.
Isi buku ini berasal dari lomba "Jilbab Pertama"
yang aku gusung di Multiply tahun 2010, terbit 2011 akhir dan best seller di tahun 2012.


Aku sudah lama mengenal blog. Sekitar awal tahun 2004. Sebelumnya cukup rajin menuliskan kisah dan curhatan hati di blog milik (alm) Friendster.

Belajar ngeblog dengan lebih rutin justru di Blogspot, dan kemudian makin intens di Multipy, yang sebentar lagi akan "membunuh diri".

Aku benar-benar patah hati, ketika tahu Multiply tak akan lama bisa dinikmati. Nyaris pertengahan bulan Ramadan tahun 2012, aku menghentikan tulisanku di sana. Sibuk menyimpan file-file dan akhirnya migrasi ke Blogspot lamaku, dan menjajal areal baru di Wordpress.


Tapi aku kehilangan gairah ngeblog.
read more