Jun 15, 2016

"Angpau" Bagi Imam Masjid

Menara Mesjid Yang Terlihat dari Luar
Pinjam dari sini 


Enam tahun lalu, kala hujan deras mendera kota Guangzhou, memaksaku untuk duduk lebih lama dalam masjid Guang Ta Lu. Tak lama, kulihat seorang perempuan, berlari masuk masjid dan menemui Sang Imam.

Kulirik, perempuan itu berbicara sebentar dengan Sang Imam. Si Perempuan diminta menutupi kaki dan kepalanya dengan sarung dan kopiah. Reflek telingaku mencuri dengar. Aku penasaran.

Qulhuwallah hu ahad….” Sayup Sang Imam membacakan surat Al-Ikhlas, berlanjut dengan doa meminta ampunan dosa bagi orang tua. Prosesi berlangsung sekitar 15 menit. Tak lama perempuan itu berdiri dan mendekati Sang Imam. Mataku mencuri lihat kejadian setelah itu. Ada “angpau” yang berpindah tangan ke Imam masjid.
          
Rasa ingin tahu yang mencengkeram kuat, membuatku nekad mengajak berbincang imam masjid bernama Ibrahim itu.
          
“Chinesse Imams are poor. We don’t have time to do bussiness” Demikian simpulan ustaz Ibrahim. Kalimatnya menimpali penjelasanku tentang banyaknya kyai di Indonesia yang berkecukupan.
          
Sedikitnya Imam masjid di Guangzhou, lantaran minim umat muslim yang mampu membaca Alquran, membuat Para Imam tak sempat bekerja di luar tugas sebagai Imam masjid.  
      
Ternyata, perempuan tadi datang meminta Sang Imam membantu, mendoakan neneknya, yang baru saja meninggal. Dia tak mampu menghapal doa, maka melalui Sang Imam, dia berharap dapat mengirimkan doa. Sebagai imbalan, Sang Imam diberi angpau, uang pengganti jasa karena telah membantu mendoakan neneknya. 

Aku terharu.               


Patah Hati Berbuah Domain Diri

Berdiri di samping banner buku " Dan Akupun Berjilbab" yang aku susun.
Isi buku ini berasal dari lomba "Jilbab Pertama"
yang aku gusung di Multiply tahun 2010, terbit 2011 akhir dan best seller di tahun 2012.


Aku sudah lama mengenal blog. Sekitar awal tahun 2004. Sebelumnya cukup rajin menuliskan kisah dan curhatan hati di blog milik (alm) Friendster.

Belajar ngeblog dengan lebih rutin justru di Blogspot, dan kemudian makin intens di Multipy, yang sebentar lagi akan "membunuh diri".

Aku benar-benar patah hati, ketika tahu Multiply tak akan lama bisa dinikmati. Nyaris pertengahan bulan Ramadan tahun 2012, aku menghentikan tulisanku di sana. Sibuk menyimpan file-file dan akhirnya migrasi ke Blogspot lamaku, dan menjajal areal baru di Wordpress.


Tapi aku kehilangan gairah ngeblog.
read more