Jun 8, 2016

Pojok Rumah Yang Menyembuhkan Jiwa



Pojok Kerjaku Yang Baru


Ada sebuah frase indah.
                                             "Rumah adalah tempat di mana hati berada.”

Kalimat ini, pasti bersemayan di hati setiap orang yang mencintai tempat tinggalnya. Di manapun itu.
Demikian pula aku.

Dan menurutku, di setiap bagian dalam rumah, pasti ada sebuah pojok istimewa. 
Dan aku mempunyai pojok atau ruang istimewa itu. Sebuah pojok yang awalnya hanyalah sebuah mimpi masa kecil biasa.
Di rumah orang tuaku dulu, kami punya perpustakaan keluarga. Kecil namun nyaman. Lewat koleksi bacaan mereka, aku jatuh hati pada buku dan aromanya.

Sejak itu, aku menyukai perpustakaan dan buku. 
Papa membuatkan satu ruangan khusus bagi kami, agar nyaman membaca dan menyimpan koleksi buku .
Bertahun berjalan, aku tetap menyimpan sebuah impian dengan malu-malu.


Ketika aku menikah, dan bersuamikan seorang penimpun buku.
Ia juga seorang laki-laki, yang tak romantis. Namun saat kakinya menginjak pintu masuk sebuah bazar buku, sanggup berujar, “Hemmm, betapa aroma buku itu terasa seksi di penciumanku”. Saat itulah, aku semakin percaya, ia memang jodohku.

Hingga suatu ketika, kami berdua diuji dengan kehilangan salah seorang janin dari janin kembarku. Aku mencari cara menyembuhkan jiwa yang resah.
Ternyata menjadi penulis, adalah jawaban bagi luka.

Menjalani dunia kehidupan penulis, menerbitkan buku bahkan keluar dari profesi lamaku, tak pernah terlintas di benak sedikitpun. Dulu kukira, menjadi dosen adalah peran utamaku.

Setelah sembilan tahun menikah, baru lahir anak-anak kami. Semua itu membumilantakkan segala skala prioritas pribadiku.

Pada akhirnya, kulirik dunia kerja dari rumah yang berhubungan dengan cerita dan buku.

Maka memiliki pojok kerja sendiri, yang membuatku nyaman menulis dan menggarap naskah, kembali menjadi salah satu mimpi kecilku. Terbayang, adanya ruang menulis dan membaca, menjadi mimpi indah jika terwujud. Maka kubalut erat dalam hati dan kuazzamkan terus menerus dalam doa sendu.

Kuhayalkan satu pojok dari rumah, ada sebuah ruang yang menyembuhkan jiwa. Ruang yang menyimpan segudang ide menulis dan setumpuk karya serta segenap aroma buku.

Awal tahun 2016, perlahan mimpi puluhan tahun itu menjelma. Aku sempat tergugu.



Pojok  Perpustakaan Keluargaku

Tak mengira, Allah Maha Baik, menambah rejeki keluargaku, hingga mimpi memiliki ruang kerja sekaligus perpustakan keluarga terwujud menjadi satu.   





Patah Hati Berbuah Domain Diri

Berdiri di samping banner buku " Dan Akupun Berjilbab" yang aku susun.
Isi buku ini berasal dari lomba "Jilbab Pertama"
yang aku gusung di Multiply tahun 2010, terbit 2011 akhir dan best seller di tahun 2012.


Aku sudah lama mengenal blog. Sekitar awal tahun 2004. Sebelumnya cukup rajin menuliskan kisah dan curhatan hati di blog milik (alm) Friendster.

Belajar ngeblog dengan lebih rutin justru di Blogspot, dan kemudian makin intens di Multipy, yang sebentar lagi akan "membunuh diri".

Aku benar-benar patah hati, ketika tahu Multiply tak akan lama bisa dinikmati. Nyaris pertengahan bulan Ramadan tahun 2012, aku menghentikan tulisanku di sana. Sibuk menyimpan file-file dan akhirnya migrasi ke Blogspot lamaku, dan menjajal areal baru di Wordpress.


Tapi aku kehilangan gairah ngeblog.
read more