Oct 3, 2017

What A Day! Pengalaman Perdana Mengunjungi Lapas Anak di Tangerang



Lapas Anak Laki-Laki Tangerang

"Dian, ada waktu hari Selasa nanti. Mau ikut ke Lapas Anak Tangerang, gak?" Demikian pertanyaan lewat komentar di FB milik Kak Wyk. Aku sempat tercenung sebentar. Tapi tidak lama. Aku segera menjawab, "InsyaAllah jika jam sekolah anak-anak, Dian mau, Kak."

Singkat cerita, aku sepakat untuk ikut kegiatan Kak Wyk di hari Selasa depan. 

Dan pagi ini, saat aku punya niat untuk memperbaiki hape Mama dan beberapa kegiatan lainnya, tiba-tiba, WA ku berbunyi. Kulirik dan kaget juga.

"Jadi ikut pagi ini ke Lapas, Dian?" Demikian isi WA dari Kak Wyk. 



Astargfirullah, aku baru inget. Aku janji hari Selasa ini untuk ikut kegiatan kunjungan tersebut. Terus terang, aku tidak tahu sebetulnya ini jenis kegiatannya apa dan bagaimana. Tapi entahlah, Allah sudah menggerakkan hati dan rasa ingin tahuku, untuk pergi ke sana, selepas mengantar Aam sekolah. 

Bermodal GPS, aku telusuri jalan di daerah Tangerang. Ini pertama kali, aku ke Lapas, dan tak tahu jalan ke sana. Sayangnya, Google Maps tersebut mengarahkan tepat di alamat yang diberikan Kak Wyk, namun posisinya di depan toko kue. :) 

Akhirnya, kumatikan Google Maps, lalu menggunakan cara klasik, alias tanya sana sini, kutemukan juga Lapas yang ternyata berdekatan dengan mesjid al Azhom yang posisinya di belakang Lapas. 

Di sana aku bertemu Kak Wyk dan dua orang kenalan baru, Mbak Suci dan mbak Lisya. Mereka ternyata sudah bertahun menjalani kegiatan ini.

Saat kakiku, mulai mengikuti langkah teman-teman ini, jantungku mulai berdetak lebih cepat. Aku tidak punya trauma apapun terhadap Penjara atau Lembaga Pemasyarakat atau Lapas ini. Tapi tetap saja, memasuki gerbang, dimana kebebasan manusia sebagai mahluk hidup dibatasi dengan banyak aturan dan tertutup seperti itu, membuatku menghela napas panjang berkali-kali.

Aku sempatkan bertanya ke Kak Wyk, perihal latar belakang kegiatan ini dan harus  ngapain. Kak Wyk menjelaskan secara singkat, jika itu adalah bagian dari kegiatan komunitas Gerakan Peduli Remaja, detailnya aku masih harus cari tahu, tapi yang pasti, Gerakan ini sudah lebih 5 tahun lalu berjalan. Aku geleng-geleng, kenapa aku baru dengar dan ikut ya? *malu juga hati ini... 

Singkat cerita, kaki kami berhenti di sebuah mushola di tengah Lapas. Aku ingin memoto semuanya, tapi kutahankan. Ada hal-hal yang menarik dan segera difoto, tapi ada hal menarik lainnya, namun tak patut difoto di saat baru pertama kali lihat. Buatku Lapas juga begitu. Rasanya hati ini belum siap memoto situasi kondisinya. Meskipun, situasinya tidak lebih kurang, agak mirip pesantren atau pemondokan atau sejenis itu. Karena toh, bagaimanapun juga, anak-anak di bawah usia 19 tahun ini adalah manusia biasa, yang kebetulan khilaf atau memang harus diberi hukuman yang setimpal dengan kesalahannya. 

Sesaat, aku mencoba memahami kondisi ini dengan background ilmu hukum yang kumiliki. Berseliweran teori-teori  hukum yang nyaris hilang dari sel-sel kelabu otakku. Tentang teori  kejahatan, teori keadilan dan banyak lagi. Paling tidak, semua pikiran saat  itu cukup menenangkan hatiku untuk tidak shock dengan situasi anak-anak di sini.

"Pikirkan juga korban dari kejahatan yang anak-anak ini lakukan, Dian." Separuh hatiku menanamkan hal tersebut, mengantisipasi terlalu jatuh kasihan pada mereka. Aku berusaha keras menjadikan logika nomor satu, ketimbang emosiku. 

Bareng Kak Wyk, Perempuan berjiwa sosial. Salah satu orang tua yang keren dalam mendidik anak2nya. 

Seharusnya kegiatan ini bermula pukul 10.30. Tapi karena kelalaianku mencari alamat Lapas, membuat kegiatan ini molor 30 menit. Hiks. Semoga lain kali tidak terjadi lagi. Amiiin.

Pukul 11.00 anak-anak tersebut mulai kumpul. Bunda Suci (mbak Suci) langsung memulai acara dengan membagi 3 kelompok. *anak-anak diminta memanggil kami dengan sebutan Bunda.

Aku ikut dengan Kak Wyk. 20 menit pertama kuperhatikan Kak Wyk mendengarkan bacaan Alfatiha anak-anak tersebut. Ya...kegiatan ini sejenis dengan pengajian kecil, tapi juga ajang curhat sekaligus ajang menerima ilmu agama islam. Tapi tidak spesifik perihal hukum. Tidak. Sepertinya direncanakan ke depan untuk kebaikan psikologis mereka sebagai anak-anak.

Kuperhatikan dengan cermat Kak Wyk membimbing anak-anak tersebut. 5 tahun beliau sudah bolak balik ke Lapas ini. Aku sesekali memang membaca info dan cerita Kak Wyk di medsosnya. Tapi saat itu hanya terpikir "MasyaAllah Kak Wyk, dari Bekasi yang jauh sana aja mau ke Tangerang. Kog aku yang di Tangsel nggak terpikir ya ke situ?"

Yup!
Begitulah pemikiranku saat itu. Kucoba memaklumi diri sendiri. Bahwa ini bukan perihal mau tidak mau. Tapi perihal ada kesempatan dan mengambil kesempatan tersebut. Sepertinya, baru hari Selasa pagi tahun 2017 ini lah kesempatan itu datang, dan aku memiliki waktu cukup untuk meraup kesempatan baik ini. 

Selang beberapa waktu melihat cara kak Wyk membimbing anak-anak tersebut, kuberanikan diri memanggil 2-3 anak lain yang belum dapat giliran membaca alfatiha. Astaga, ada yang bener-bener berantakan bacaannya, dan kupikir, bisa jadi anak ini tak pernah mengaji atau sholat sebelumnya. Namun ada yang fasih mengajinya, sehingga aku jadi tercenung sesaat. Ada apa dengan dunia anak ini? bacaan sholat bagus, namanya indah dalam kalimat islam, namun harus menghabiskan beberapa tahun di penjara? *Terus terang, sambil membimbing, sambil otakku terus berpikir. 

anak-anak ini sungguh luar biasa ujian hidupnya


Mataku pun dengan cermat, mengamati semua anak yang ada di sana. Tak lama selesai mendengarkan bacaan Alfatiha mereka, kak Wyk memberikan aku waktu untuk mengenalkan diri dan sedikit membicarakan tentang Hijrah kepada mereka. 

Sebelum aku cerita tentang Hijrah, kuminta mereka memperkenal diri, nama, berapa lama di Lapas dan kasus apa yang menyebabkan mereka ada di sana.

Jawaban mereka membuatku terdiam, namun berusaha terlihat tenang. Tapi Ya Allaaah, aku tau hati dan jantungku berdegum kuat sekali. Nyaris aku khawatir mereka mendengar dentuman jantung layaknya meriam di malam takbiran. 

Rata-rata mereka baru masuk tahun 2016 dan 2017, dan sebagian besar nama mereka berunsur Islami. Hukuman yang mereka jalani bervariasi, mulai dari 4 bulan hingga 4 tahun. Kasusnya, mulai dari sekedar nyuci hape, nyolong mobil Tronton, narkoba hingga perkosaan. Sampe sini, aku menarik napas lamaaa sekali dan berusaha menghembuskannya dengan tenang. Perkosaan. Dan tiga anak itu terlihat lugu sekali di mataku. Buru-buru kubayangkan perasaan korban, agar logikaku kembali bekerja dengan baik. Suka tidak suka, selama duduk di hadapan mereka, aku menstabilkan hati, dengan terus mengingat korban mereka. Kalau tidak, aku dapat saja tak tahan dan memeluk anak-anak ini. :( 

*saat selesai kegiatan ini, aku juga baru tahu, kalau di kelompok mbak Suci malah kebanyakan anak-anaknya masuk karena kasus pembunuhan. Menghilangkan nyawa orang lain. Bukan perkara sepele sama sekali. Dan kecenderungannya kalau pembunuh adalah introvert, tidak seterbuka anak-anak lapas dengan kasus yang ada di kelompok Kak Wyk dan aku. 

Baiklah... singkat cerita, aku menceritakan sedikit tentang Umar Bin Khattab. Seorang yang Kejam dan Pembenci Rasululullah nomor satu, yang kemudian malah menjadi sahabat Rasul serta dimakamkan di sebelah Rasul. 

Aku juga sempat menceritakan sedikit tentang hijrah diriku sebelum berhijab dan setelah berhijab.

Dan kuselipkan juga satu tips yang didapat dari salah satu ustaz yang pernah kudengar dalam pengajian. Tentang meminta pertolongan Allah lewat ayat ke 5 surah Alfatiha. Kuyakinkan mereka bahwa tidak ada yang mustahil bagi Allah, terutama jika kita bertaubat langsung pada Allah dan menekuni surah Alfatiha berikut artinya.

Hanya sedikit itu yang bisa kuberikan. Kak Wyk sempat menimpali beberapa kisahku dengan pengalaman dirinya juga. Memperkaya cerita tentang Hijrah. 

Sungguh, aku tidak tahu, apakah anak-anak ini benar-benar tertarik dengan ocehanku, atau sekedar iseng mendengarkan belaka? Aku hanya berdoa, agar Allah memudahkan hati mereka menerima masukan positif dariku dan teman Gerakan Peduli Remaja. 

Sekitar pukul 12 kurang, adzan zuhur. Anak-anak tersebut bersiap mengambil wudhu untuk sholat . Kuperhatikan mereka berwudhu. Beberapa anak memiliki tato yang lumayan banyak di tubuh mereka. Malah ada yang di pipi dan leher mereka. Sungguh mengerikan, tapi yang terbersit justru rasa sedih dan peduli. 

Kami pun undur diri. Berharap bisa datang lagi beberapa waktu ke depan, dan berdoa tidak berjumpa lagi dengan wajah yang sama. Aku pribadi berharap sebagian anak tersebut mampu beradaptasi  keluar dengan mental yang lebih baik, meski itu mungkin, hanya harapan belaka, tapi siapa yang tahu dengan takdir dari Allah. Bisa jadi ada yang keluar dari sini, malah menjadi baik, seperti alm. Udje dan Ustaz Yusuf Mansur? 

Aku sempat ngobrol sebentar ke Kak Wyk, mbak Suci dan mbak Lisya. Kukatakan bahwa aku benar-benar tidak bisa menjelaskan perasaanku. Antara sedih, khawatir, deg2an, dan lebih cocok Shock!

Mereka cerita, ada yang pertama kali datang, dan tak mau datang lagi karena tak sanggup. Aku tidak heran. Meski aku tidak kapok, tapi aku tahu bagaimana perasaan teman yang tak mau datang lagi itu. Sungguh hanya Allah yang tahu bagaimana perasaanku siang Selasa ini. 

Tak lama, kami berpisah. Aku duduk lama di mobil. Menenangkan diri. Mempersiapkan diri dengan sejumlah agenda berikutnya, namun dengan hati yang runtuh setelah melihat nasib anak-anak tersebut. Kepalaku sakit mendadak. Aku merasa otakku tak bekerja dengan sinkorn terhadap mental dan jiwaku. Ada banyak hal yang kupikirkan dan renungkan. Hasilnya? Sakit kepala luar biasa. 

Sepanjang perjalanan menuju mesjid di kawasan Nusa Loka menjelang jemput Aam, aku membayangkan wajah salah satu anak yang masuk karena perbuatan a-susila. Ngajinya bagus, wajahnya teduh dan namanya sungguh islami. 

Astagfirullah, kemanakah orang tuanya? Bagaimanakah lingkungannya? Apa kata keluarganya jika ia keluar dari penjara nanti? Adakah ia mendapat kesempatan memperbaiki diri dan menjadi orang hebat di bidang yang dikuasainya?. 

Berulang kali aku mengelap air mata. Dan akhirnya, tumpah saat aku sujud sholat di Mesjid Nusa Loka BSD. Aku tersedu-sedu menangis. Memohon agar Allah beri cahaya di hati mereka, jika tidak seluruhnya, minimal sebagian. Jika tidak sebagian, minimal satu atau dua orang yang tercerahkan dan menjadi generasi Yusuf Mansur atau Udje berikutnya. Sungguh, tangisku semakin menjadi, saat terdengar suara anak-anak yatim di mesjid tersebut sedang menghapalkan juz 30.

Ya Allah...

Aku baru saja pulang dari lingkungan anak-anak yang terkungkung dalam penjara, tak tahu bacaan  Quran yang baik dan orang tua mereka masih lengkap semua.
Lalu aku dihadapkan pada lingkungan lain, juga anak-anak yang hidup dalam lingkungan pesantren penghapal Quran, bacaan  mereka tartil, namun mereka sudah tak punya orang tua lagi (yatim).

Dua kondisi dalam satu hari kuhadapi. Airmataku tumpah, mengingat keegoisanku, yakni ada dua anak yang dititipkan Allah padaku saat ini. Apakah aku tahu takdir mereka? Apakah aku tahu yang akan terjadi di hadapan Billa dan Aam kelak? Apakah kelak aku akan selalu ada di dekat mereka untuk menjelaskan mana yang baik mana yang tidak? Apakah kelak aku mampu mengajak mereka menyukai teman dan lingkungan yang baik?

Hatiku basah siang itu. Tak hanya wajahku. Mungkin dua orang ibu muda yang sedang duduk tak jauh dariku berpikir macam-macam tentangku. Karena aku menangis layaknya orang punya beban hidup yang berat sekali. Padahal aku menangis, karena dihadapkan pada dua lingkungan yang berbeda. Shock Therapy yang luar biasa.

Sungguh, hingga detik aku menulis blog ini, kerongkonganku sakit menahan air mata. Aku tak tahu, apakah aku akan mampu menjadi orang tua yang baik bagi Billa dan Aam, sehingga mereka terhindar dari bala, mala petaka dan fitnah? Bayangan wajah 8-9 anak di Lapas kemarin, tidak bisa langsung blur begitu saja dari hardisk otakku. Sungguh, ke Lapas kemaren adalah agenda impulsif yang luar biasa efeknya. 

Kalau sudah begini, berdoa ke hadapan Allah lah satu-satunya jalan. Ayat ke 5 dari surat Alfatiha menjadi prinsip hidup. Bahwa tiada super hero yang Maha Penolong, selain Allah SWT.


#Pamulang
#3Oktober2017


Patah Hati Berbuah Domain Diri

Berdiri di samping banner buku " Dan Akupun Berjilbab" yang aku susun.
Isi buku ini berasal dari lomba "Jilbab Pertama"
yang aku gusung di Multiply tahun 2010, terbit 2011 akhir dan best seller di tahun 2012.


Aku sudah lama mengenal blog. Sekitar awal tahun 2004. Sebelumnya cukup rajin menuliskan kisah dan curhatan hati di blog milik (alm) Friendster.

Belajar ngeblog dengan lebih rutin justru di Blogspot, dan kemudian makin intens di Multipy, yang sebentar lagi akan "membunuh diri".

Aku benar-benar patah hati, ketika tahu Multiply tak akan lama bisa dinikmati. Nyaris pertengahan bulan Ramadan tahun 2012, aku menghentikan tulisanku di sana. Sibuk menyimpan file-file dan akhirnya migrasi ke Blogspot lamaku, dan menjajal areal baru di Wordpress.


Tapi aku kehilangan gairah ngeblog.
read more