Nov 10, 2017

(Room To Read) Bagian ke 4 : Hari Ke 3 Workshop di Yogyakarta

Warning : 

Tulisan mengandung unsur model tulisan curhat

Jadi, akan panjang kali lebar banget, Dan aku tidak memberi garansi para pembaca akan mendapatkan pengetahuan khusus menulis pada artikel ini 
Plus maafkan jika bahasanya campur-campur. Semua berdasarkan catatan pribadi belaka


Gini nih situasi meeting group Puspa Swara.
I love this group... Makasih mbak Nura, sang editor yang sabar :) 

Waaah, udah masuk hari ke 3 workshop ya. Kepalaku sudah tidak sesakit kemarin. Setelah kupikir-pikir, bisa jadi sakit kepalanya bukan karena kegiatan workshop, karena pada dasarnya semua fun dilakukannya. Emang hormonal aja pemicu cenut-cenut cantik di otak ini. Hehehe.

Oh iya, cerita di hari ke 2 Workshop bisa dicek di sini ya :) 

Baiklah... Kita lanjutkan ceritanya ya. InsyaAllah hari ke 3 ini, aku sudah semakin paham cara menuliskan cerita untuk picbook versi room to read ini. Semalam sudah meet up bareng temen-temen, aku pribadi juga udah orat-oret calon naskah. Utak-atik mana kelemahanku, sehingga gak perlu ambil naskah yang aku tak bisa kuasai atau sebaliknya, ambil naskah yang aku minim info, lalu gali serta berpikir out of the box. Ya something like that lah, hehehe


Beginilah caraku mengerjakan PR.
Kalau nggak dibuat gini, otakku gak mudeng. Hiks 
Bermodal kesiapan oretan naskah (baru oretannya aja udah lega bin bangga... gimana mau maju atuh Diaaan...wkwkwk), aku masuk ke ruangan, dan siap menerima ilmu baru lagi dari workshop ini :) 

Seperti biasa, Alfredo memulai hari dengan Recap atau simpulan dari hasil workshop sehari sebelumnya. Aku paling suka model pengajar seperti ini. Bikin masuk ke otak banget. Jadi pengulangan materi yang dilakukan di pagi hari, merefresh semua yang suntuk kemarin hari. Hehehe.. Ini cara yang keren untuk sebuah workshop. Aku nggak pernah bisa ngantuk selama Al menjelaskan materi ini.

Aku pikir, di sini juga kelebihan kalau kita punya sedikit kemampuan bahasa Inggris. Langsung mudeng dengan apa yang dijelaskan oleh narasumber workshop. Namun, jika tidak paham sama sekali juga gak perlu khawatir, karena mbak Rina selalu stand by untuk menerjemahkan materi yang dibahas oleh Al. Meski buatku, tetap lebih terang penjelasan dari Al langsung. Hehehe

Al kemudian menjelaskan Recap about the Theme. Menurutnya ada 3 point yang harus kita pegang saat menuliskan sebuah tema menjadi cerita utuh. 

1. What do you wanna say to your reader? 

Jadi, kita harus paham dulu, kita mau cerita apa atau mau mengatakan apa kepada para pembaca cilik kita nanti. 

2. What is your narrative device and BME ?

Kita juga harus tahu, alat perang atau alat mengeksekusi tema itu nanti pake cara yang mana, serta gimana dengan BME nya? 

3. How do I want to tell my story?

Dan pada akhirnya, kita perlu memikirkan, bagaimana bentuk atau gaya yang digunakan saat menceritakan kisah kita. Dan untuk point ke 3 ini, terkait dengan gaya bahasa yang kita akan gunakan.

Untuk menjawab 3 point di atas, Al kembali memberi jawaban sebagai berikut : 

1. Agar dapat diterima atau dipahami kisah kita, maka gunakan bahasa yang dapat dipahami oleh pembaca. Jadi harus ada unsur Accessible . 
2. Gunakan konsep yang bisa dimengerti bahasanya oleh pembaca, atau harus ada unsur Recognizable
3. Kadang, dapat pula menggunakan Pattern Language atau Gaya Bahasa tertentu. Misalnya, kata yang diulang-ulang. 
4. Gunakan dialog yang bisa digunakan, misalnya untuk level 3 (nanti akan dibahas tentang Levelling Reader).
5. Adakan juga pengenalan kata-kata baru, atau Promote Vocabulary Building
6. Kenalkan kata-kata yang menantang untuk dipahami, tapi sedikit saja. Atau kalau kata Al itu Introduce Challenging Word, but not too difficult and not complicated word. 
7. Manfaatkan kata-kata yang bisa disebutkan atau berbunyi, seperti Boing! Dug! Cling! atau seperti dalam instumen musik, ada bunyi gong... Gooong! atau gitar... "jreng! jreng!. Istilah lainnya adalah memanfaatkan Sound Words.
8. Kata berima, atau Rhyme Words
9. Pengulangan kata atau Repeated Words or Phrases in a pattern
10. Menggunakan kata berurutan, misalnya angka atau alphabet atau ukuran seperti besar, besar sekali, paling besar. dll. Istilahnya Sequential Words. 


Kurang lebih, beginilah situasi saat workshop di hari ke 3 

Sampai sini, aku terkesima juga. Hahaha... Ternyata ya... ilmu memikat pembaca anak itu ada triknya. Catatan dari Al ini menarik perhatianku. Aku baru ngeh, bisa jadi ini yang kemaren kata temen, saat mengecek calon naskah audisiku. Trik menyampaikan cerita dengan bahasa yang disukai anak-anak. Love it!

Oke, sakit kepalaku udah berkurang lho....

Biasanya emang gitu sih. Hormonpun udah kembali stabil, penyerapan ilmu membaik, dan seketika kiclong berpikirnya. Aku langsung orat-oret lagi, tentang mau digimanain naskah folklore pilihanku semalam. 

Baik. Materi selanjutnya adalah tentang Revisi. Kali ini Uni Eva Nukman lagi yang menjelaskan materi ini.

Adapun manfaat revisi naskah antara lain :

1. Mempertajam objektive
2. Mengoreksi naskah
3. Memperbaiki alur
4. Agar lebih terbaca

Dan semua itu prinsipnya adalah mengembangkan cerita agar lebih baik lagi. 

Beberapa kiat yang bisa dilakukan saat revisi adalah : 

1. Tulis ulang bagian tertentu.
2. Parafrasa atau menyampaikan ide atau gagasan dengan cara atau kalimat lain  yang berbeda. Misalnya lewat illustrasi atau pilihan kata lain atau teknis lain seperti berima. 
3. Menambahkan atau mengilangkan satu adegan
4. Menyesuaikan teks dengan pertimbangan visual, dimana teks tidak mengulang gambar atau sebaliknya, gambar jangan mengulang tes. Istilahnya redendum.

Secara singkat, Revisi Naskah dilakukan untuk :

1. Pengembangan Naskah. Bisa berupa ide, karakter, alur dan adegan
2. Kepentingan Baris, baik kalimat, ejaan dan tata bahasa. 

Beberapa contoh permasalahan yang dihadap, sehingga perlu direvisi, antara lain : 

- Stereotypical versus Originality  

Bisa nggak cara penyelesaiannya atau pendekatannya dengan cara yang berbeda?
Apakah perlu ditambahkan unsur ketegangan cerita?
Dimensi Tokoh mungkin harus lebih kompleks, atau sebaliknya justru terlalu kompleks?
Bagaimana sudut pandangnya? Perlu diubahkah?
Apakah cerita ini, berupa kisah yang dianalogikan sebagai Cermin, Jendela atau Pintu Kaca?

Istilah Cermin, Jendela dan Pintu Kaca ini menarik perhatianku. Ternyata ini adalah istilah psikologis, terkait dengan bentuk atau pola cerita sebuah buku. Salah seorang peserta yang memiliki latar belakang ilmu psikologi menjelaskan perbedaan konsep tersebut. *maaf aku lupa nama pesertanya, kalau tidak salah, berasal dari group YLAI. 

Buku dengan pola Cermin, maksudnya, diharapkan si anak saat membaca buku tersebut merasa diwakili oleh cerita tersebut, atau terefleksi oleh cerita tersebut. Contoh naskah yang menggunakan pola ini adalah buku Krauk-Krauk karya Dian Kristiani. Karena tokoh dalam cerita tersebut mewakili perasaan anak-anak yang menjadi target pembaca. 

Buku dengan pola Jendela, artinya, diharapkan si anak saat membaca buku tersebut, dapat mengintip dunia lain, atau mengetahui sesuatu kisah, tanpa menjadi bagian langsung dari kisah tersebut. Jadi mendapat pengetahuan dari buku tersebut. Contoh bukunya adalah Si Mantel Emas, kisah hewan khas Indonesia yang ditulis oleh mbak Evi.

Dan buku dengan pola Pintu Kaca, mengharapkan si pembaca akan melangkah untuk tertarik membuat sebuah perubahan, atau mengaplikasikan atau menimbulkan keinginan merasakan atas kisah tersebut. Misalnya buku dengan unsur resep makanan, atau buku tentang anak berkebutuhan khusus, seperti buku Aku Suka Caramu, *aku lupa siapa penulisnya. 

- Tokoh

Di sini perlu dipelajari, bagian mana yang perlu diubah dari si tokoh, pada latar belakangnya kah? atau adegan antar tokoh?
Cara agar tokohnya berbeda adalah dengan berusaha membuat detail 3D Characternya.
Pertanyakan juga, apakah tujuan tokoh sudah logis. Dan ini dibutuhkan waktu yang relatif pendek untuk mencapai cita-cita atau obyektif si anak dalam  beberapa halaman cerita. 
Apakah jelas bahwa tokoh akan mengalami perubahan sepanjang cerita? Karena harusnya, cerita yang bagus itu akan mempengaruhi perubhan pada tokoh atas sebuah proses konflik. 

- Deus Ex Machina

Waspadai adegan ini, apakah ada tokoh yang tiba-tiba muncul, tanpa penjelasan sebelumnya atau tanpa forshadowing?
Cek juga, apakah konflik diselesaikan oleh tokoh dengan cara yang masuk akal untuk kisah tersebut, atau siapa yang menyelesaikan masalah? Serta bagaimana cara tokoh menyelesaikan masalah?

Demikian pembahasan tentang Revisi ini. Dan Uni Eva, sempat mebuat sebuah kutipan, yang kalau tidak salah referensinya adalah satu kutipan menarik dari film Finding Forrester... and this is one of my fave movie ever!

Write not Think!
Write with your heart, Rewerite with your head!

Tulisan ini juga ada di bagian belakang kartu namaku lho :D 

Bagian Belakang Kartu Namaku


Oke deh....

Sudah letih digempur teori... Maka selalu ada session ice breaking. Di awal workshop, aku nggak gitu suka acara ini. hahaha... kesannya kog kekanak-kanakan. Lah! aku lupa... aku kan mau nulis cerita untuk anak-anak ya...? Keceriaan sebagai anak-anak itu harus dibangkitkan kembali Dian! Hahaha.. Kalau nggak, hasil naskahmu akan serius banget, kayak otakmu selama ini digunakan. hahahah

anyway... masuk hari ke 2 kemarin, aku mulai menikmati ice breaking. Dan selalu saja lucu menyaksikan peristiwa atau kejadian tak terduga selama ice breaking. Memang deh... melumerkan isi otak, sekaligus melumerkan jarak antara penulis kelas kakap dan kelas teri model aku ini. Jadinya nyaman aja gitu sesama peserta workshop.

Ah, perasaanmu saja kali Dian? Kan dirimu itu sok ekstrovert tapi sesunguhnya, nggak cepat bisa buka hati ke orang baru? Hahaha.. ya gitu deh. Suka kelamaan mantengin situati kondisi, sampe lupa bersenang-senang. Untungnya gak terlambat. Karena di hari ke 3, aku sudah menikmati semua suka duka workshop ini, termasuk harus mengalami ice breaking ampe peluk2an gini. hihihi

Lupa nama ice breaking ini. Tapi kami ber 8 berdiri di atas sebuah kertas kecil lho itu
dan berhasil tidak jatuh. Hehehe 

Baik, materi selanjutnya adalah soal Levelling Reader. Mbak Grace dari tim YLAI yang menjabarkan perihal ini. 

Bahasa lain dari Levelling Reader itu adalah Penjejangan Buku. Jadi para pembaca tidak diurut berdasarkan sudah kelas berapa di sekolah, namun sudah bisa atau mampu baca sampe segimananya.

Karena bisa jadi, anak kelas 4 SD, tapi ternyata kemampuan bacanya masih kayak SD kelas 1 (ini terjadi pada putriku Billa, yang memiliki masalah dengan preposisi visualnya, sehingga ia baru bisa menikmati picbook dengan sedikit kalimat atau komik, ketimbang First Novel atau novel tipis sejenis serial Odie yang kubuat bertahun lalu.). Atau sebaliknya, anak kelas 2 SD, tapi kemampuannya sudah selevel dengan anak usia 12 tahun, misalnya kayak sepupuku itu, baru kelas 2 SD, tapi udah tamat aja baca novel setebal bantal berjudul Harry Potter. Hahaha... Atau seperti putraku Aam, usia 5.5 tahun, sudah bisa baca buku untuk anak usia 9-10 tahun dalam versi bahasa Inggris.

Jadi Levelling Reader ini berbeda dengan pembaca yang didasarkan kelas sekolah atau usia. Mereka melihat dari kemampuannya dalam membaca.

Aku nggak mencatat detail sih sessi ini, kalau gak salah, ada file yang dibagikan kemaren itu. Yang aku inget itu, mbak Grace memaparkan tentang nama-nama penjenjangan, seperti Level 1 namanya Kumbang, Level 2 namanya Burung, Level 3 namanya Ikan, level 4 namanya Rusa, level 5 namanya Singa dan level 6 namanya Gajah. Kayaknya aku kudu googling lagi masalah latar belakang penamaan ini, karena gak ngerti blash dengan pemaparannya. Hahahah.... 

Tapi, mungkin dianggap peserta sudah baca juga kali file yang dibagikan. Aku ada baca sih, dan filenya juga ada di tas. Hanya mau naroknya di blog, kog repot ya? Kudu scan atau foto lagi. Kapan-kapan aja deh, siapa tahu, aku rajin banget membahas soal levelling ini. Yaaa.. siapa tau, aku diminta atau diundang untuk menjelaskan masalah ini di R t R berikutnya. *Plak! ngayal aja nih siang-siang. Wkwkwkkw...

Kegiatan selanjutnya adalah pemaparan dari 8 peserta tentang PR dari hari ke 2 kemaren. Kali ini aku tampil menjelaskan pilihan naskahku. Aku memilih naskah Ikan Tuing-Tuing dan Kail Emas. Kucoba fokus pada sudut pandang si Ikan terbangnya, dan memilih tema keluar dari folklore. Meski belum bagus menurutku, dan dapat masukan cakep2 dari Uni Eva dan disukai oleh Al, aku kudu perbaiki lagi naskah tersebut.

Dan seperti biasa. Workshopnya diakhiri dengan PR lagi donk! Hahaha...

Kali ini, tim kami diminta menentukan masing-masing anggota akan maju besok presentasi dengan tema dan cerita yang mana. Lalu bersiap-siap membuat ceritanya dalam format yang ditentukan oleh panitia. Oke deh! PR itu artinya sakit kepala lagi. Hihihi

Tapi satu hal yang menjadi catatanku adalah, Group Puspaswara tidak mengalami perebutan tema, dan kami ber 6 maju dengan cerita yang berbeda. Sampe dapat pujian dari Uni Eva selaku supervisi bagi Puspaswara, karena sesama anggota tim kompak. Alhamdulillah :)

Jarang-jarang bisa duduk semeja ama Mbak Ina Inong, MbakYu Niar dan Cici Dian K
Thank u R t R workshop for making this situation happen :) 
Malamnya, aku nggak kerjain naskahku. Aku laper. Hahaha. Jadi setelah kelar ngurusin keperluan suami dan anak-anak, aku pamit untuk makan malam. Di sini semeja dengan para penulis keren. Ah enaknya duduk sama mereka, ikutan terlihat keren ya? Wkwkwkw
Obrolan sih diusahakan gak bikin pusing juga. Jadi ringan-ringan aja itu. Apalagi deket 3 orang yang ada difoto ini. Aslinya kocak-kocak semua. Tapi kalau udah nulis, udah pada serius aja... hehehe

Selesai makan, aku kembali ke kamar. Menyelesaikan PR. Perutku sebetulnya agak sakit. Stress kayaknya. Karena terus terang, seumur hidupku, aku nggak pernah bikin Pic Book. Ada sih 2 kali bikin naskah untuk websitenya Gita, www.serusetiapsaat.com, tapi ya gak pake format. Hanya nulis naskah aja.

Kan kalau di workshop gini, meski tidak harus pusing perihal halaman atau format asli sebuah picbook, aku tetap harus mengira-ngira.

Namun, Al dan tim juga baik nih, mereka gak ngotot maksain peserta untuk memikirkan halaman-halamannya, itu nanti kerja bareng editor. Gitu alasan mereka. Jadi aku trial and error aja nih nulisnya.

Kucoba bawa santai aja. Tidak bersikap neko-neko ala Yahudi, menanyakan detail hingga kelimpungan sendiri. Wkwkwkw.. ngggaaaaak!. Aku hanya ikuti format yang ada, kerjakan, selesaikan. Biar sisanya besok dibantai pas presentasi, dengan harapan dapat masukan bagus-bagus dari temen-temen peserta, sekaligus tawakal dengan cara kerja Allah yang luar biasa tak bisa diprediksi. Hehehe...

Demikian kisah hari ke 3.

Besok akan kutuliskan lanjutan hari ke 4. Tidak banyak sih kisah di hari ke 4. Tapi siapa tau masih ada temen-temen yang tertarik untuk baca lanjutannya. Tunggu aja ya postingan berikutnya. :)





Patah Hati Berbuah Domain Diri

Berdiri di samping banner buku " Dan Akupun Berjilbab" yang aku susun.
Isi buku ini berasal dari lomba "Jilbab Pertama"
yang aku gusung di Multiply tahun 2010, terbit 2011 akhir dan best seller di tahun 2012.


Aku sudah lama mengenal blog. Sekitar awal tahun 2004. Sebelumnya cukup rajin menuliskan kisah dan curhatan hati di blog milik (alm) Friendster.

Belajar ngeblog dengan lebih rutin justru di Blogspot, dan kemudian makin intens di Multipy, yang sebentar lagi akan "membunuh diri".

Aku benar-benar patah hati, ketika tahu Multiply tak akan lama bisa dinikmati. Nyaris pertengahan bulan Ramadan tahun 2012, aku menghentikan tulisanku di sana. Sibuk menyimpan file-file dan akhirnya migrasi ke Blogspot lamaku, dan menjajal areal baru di Wordpress.


Tapi aku kehilangan gairah ngeblog.
read more