Nov 9, 2017

(Room To Read) Bagian ke 3 : Hari Kedua di Workshop Yogyakarta

Warning : 

Tulisan mengandung unsur model tulisan curhat

Jadi, akan panjang kali lebar banget, Dan aku tidak memberi garansi para pembaca akan mendapatkan pengetahuan khusus menulis pada artikel ini 
Plus maafkan jika bahasanya campur-campur. Semua berdasarkan catatan pribadi belaka


Resume Tentang Materi Workshop Hari Pertama 
Tulisan ini adalah lanjutan dari tulisan di sini: 

Baik.

Hari workshop ke 2, dan, semalam udah sempat meet up dengan team Puspa. Kondisi mulai intens, hehehe. Kepalaku mulai sakit. :) Tapi menikmati sekali setiap momen di workshop ini. (Gimana coba, mulai sakit kepala tapi menikmati setiap momen. Namun, emang ginilah aku. Saat sakit kepala, aku justru suka berpikir yang berat-berat, sekalian sakit maksudnya hahaha. Jadi inget, puluhan tahun lalu, pertama kali kena Migrain, saat tes IQ berjam-jam di sekolah. Sakitnya gak ketulungan, sampe senyumpun aku gak sanggup. Tau-tau hasil IQnya 152. Temen-temen ampe bilang, lah kog, sakit migrain aja skornya segitu? Gimana kalau normal? Wkwkwkw.. Padahal bisa jadi, rasa sakit kepala itu memicu otakku kerja lebih baik kali ya? Wallahualam...hihiih ) 

Ok, lanjut kita ya?


Pagi-pagi Om Alfredo udah senyum tipis, berdiri di depan kami dan menatap penuh kelembutan. *baik... koreksi...ini lebay. Yang pasti Al selalu terkesan serius dan menatap tajam ke semua yang hadir. hahaha


Dia menjelaskan resume workshop hari pertama. Dan menyebutkan 5 hal penting dalam hal menulis cerita anak dan picbook. Antara lain : 



1. B M E (silahkan lihat catatan blogku sebelum ini ya soal BME ini)


2. Point of Attack (ini biasanya di awal cerita, harus menarik perhatian pembaca maksudnya. Jangan lupa juga, Karakter selalu melahirkan sebuah aksi. Jadi perkuat karakter, maka aksi akan muncul dengan kerennya).

3. Deus Ex Machima (sebuah kebetulan. Artinya, tiba-tiba permasalahan  selesai dengan sendirinya, tanpa causa. Ini tidak haram digunakan, tapi tidak boleh tanpa sebab atau gujluk-gujluk kalau kita bilang, harus ada yang mendukung hal ini terjadi, agar tidak konyol muncul begitu saja).

4. Foreshadowing (apa ya bahasa Indonesianya? lupa aku. Yang kutangkap sih, kalau mau bikin sebuah "kebetulan" gak sekedar "kebetulan" adalah dengan menggunakan foreshadowing. Jadi ada adegan yang sepertinya sepele, atau tidak terlihat, tapi justru menjadi poin penting saat menyelesaikan konflik. Aku nggak inget contoh yang diberi Al, gak ada pula di catatanku. Tapi aku inget adegan burung merpati di film Paddington. Adegan si beruang memberi makan merpati di stasiun kereta di awal, dan beberapa kali muncul merpati pengincar rotinya itu, ternyata adalah bentuk foreshadowing, karena justru solusi konflik terbantukan dengan keberadaan si merpati dan membuat antagonisnya mati terjatuh dari atap rumah. Jadi bukan sebuah kebetulan tanpa sebab, jika para merpati itu menjadi Deus Ex Machima di antiklimaks film). 

5. Show don't Tell. (ini sulit buatku, tapi harusnya bisa, jika dilatih terus. Menggambarkan situasi bukan Memberitahu pembaca. Al juga bilang, jangan  tulis pesan moral di akhir cerita. Ini cara old school banget. Biarkan anak-anak menemukan sendiri, moral cerita apa yang akan mereka dapatkan dari picbook atau sebuah buku tersebut).  

Setelah resume 5 hal ini, ada satu hal yang dikatakan Al, dan itu membuatku tertegun. 

Dia bilang, "Before you break the rules, you have to learn and understand it first". 

Jadi, terkait dengan kenyataan ada banyak penulis yang tak terlalu mau mengikuti teori2 yang ada, maka Al menasehati dengan menekankan "Ok, gak mau ikut aturan  yang ada? Gak masalah, tapi sebelum keliatan bego atau sotoy, mendingan pelajari dulu ilmunya dan pahami betul, sebelum bikin aturan sendiri." hehehe *ini terjemahanku pribadi sih, hahaha.

Paling nggak, karena tidak terbatasnya ruang berkreasi dalam menulis, sehingga memungkinkan seorang penulis gak pake pakem atau teori yang ada, namun, ada baiknya pelajari dulu pakem dan teori yang ada sebelum merusak atau tak mau menggunakannya. Paling tidak, tak kelihatan konyol hasil tulisannya, gara-gara tak mau belajar teorinya dulu. Kira-kira gitu kali ya maksudnya?.

Om Alfredo lagi baca dan lihat karya alumni R t R

Ok, selanjutnya Alfredo menjelaskan tentang Narative Device and Theme atau Alat atau Cara Bernarasi dan Tema yang diangkat dalam sebuah cerita. 

Mengenai Tema, Al sendiri hanya bilang, apapun tema yang diangkat, semua bagus, selama sifat penulisan tema itu Show not Tell. 

Buatlah tema yang biasa menjadi luar biasa, misalnya dengan menggunakan kata berpuisi dan dalam. Atau sekalian bikin tulisan yang menyenangkan dan kocak, sehingga fun bagi anak-anak membacanya. Meskipun temanya biasa. 

Sementara untuk narative device atau cara penyampaian sebuah cerita, beberapa di antaranya adalah: 

1. One Day or One Night in a life of

Merupakan sepenggal kisah. Biasanya tentang kehidupan sehari-hari, termasuk kehidupan di sekolah dan dalam sebuah keluarga. 

Al mencontohkan sebuah buku dari Vietnam, berjudul The First Journey. Kisah seorang anak yang hendak bersekolah melewati Sungai Mekong. Seru gambarnya, dan kisahnya sederhana, tapi kalimatnya "dalam" saat menyampaikan perjuangan si karakter dalam melewati sungai tersebut. Dan itu dilakukannya setiap hari. Aku antara kagum dan terenyum membaca kisah ini. 

2. Travelogue or Journey

Si Karakter melakukan perjalanan dari satu kawasan ke tempat lain. Biasanya atau umumnya ada hal atau tujuan yang penting untuk dilakukan perjalanan tersebut. 

Al mencontohkan sebuah buku tentang hubungan si Jangkring dan Naga. Duh aku lupa goal kisah ini, Tapi yang pasti, si Naga ini membawa Jangkring ke berbagai negara dengan satu tujuan, dan endingnya, si Naga kecapekan dan tertidur. hehehe.. Kocak picbooknya...:)

3. Dream Motif

Biasanya ini si karakter jatuh tertidur dan bermimpi. Mimpinya lalu menjadi kisah picbook tersebut. Atau ada transisi dari sebuah mimpi menjadi kenyataan.

Al kemaren kalau tidak salah menyontohkan salah satu buku karya alumni R t R Indonesia, yang berjudul si Rama-Rama, atau apa ya. Kisah perjalanan anak kecil di atas punggung seekor kupu-kupu. *duh catatanku gak ada soal ini. Yang aku inget, ini tulisan karya anak dari  mbak Evi, salah satu alumni R t R yang diundang untuk nulis juga di fase bareng aku Agustus 2017 ini. :) 

4. Allegorical Device

Sejenis kiasan atau simbol. Jadi cerita menggunakan simbol dan pesan yang dalam atas satu kejadian. Biasanya picbook jenis ini sedikiiit kata bahkan tanpa kata-kata.

Kemaren Al menunjukkan sebuah buku   tentang Truk sampah yang selalu datang, dan ditunggu kehadirannya oleh seorang anak. Anak tersebut digambarkan selalu penuh hayal setiap kali mobil truk itu datang. Nah simbol truk sampah itu mengantarkan sebuah pesan kehidupan seorang anak di tempat pembuangan sampah akhir. Aku dan bisa jadi semua peserta yang hadir, lama menahan napas dan tersentuh sekali dengan pic book buatan luar ini. Tak ada kata-kata, hanya simbol truk sampah yang menjelaskan pada kami, jika anak dalam pic book tersebut tinggal di kawasan pembuangan sampah. :(

5. Natural Cycle

Cerita yang menggunakan perputaran waktu atau musim. Misalnya perubahan musim di negara 4 musim, proses lingkaran kehidupan  seperti  cycle of water dan sejenisnya. Perubahan siang dan malam juga termasuk di sini. 

Ada contoh buku, kalau tidak salah, tentang sebuah daun yang tak mau melepaskan diri dari ranting pohon, karena alasan tertentu, padahal berdasarkan setting waktu, ia harus gugur. dan ini unik banget ceritanya :)

Aku juga punya nih buku tentang sehelai daun, yang malah ngotot pengen terbang dan lepas dari rantingnya, padahal belum waktunya. hehehehe

Untuk naskah picbookku kemaren, aku termasuk menggunakan device ini, karena paling pas menurutku. :) 

6. Metamorphosis.

Kalau ini pasti udah tau ya, perubahan dari telur hingga menjadi kodok,  atau dari telur, jadi ulat hingga jadi kupu-kupu

7. Problem Solving

Ini yang paling jamak kita temui di picbook di Indonesia kayaknya. Menyelesaikan masalah dari sebuah konflik. Aku lupa contoh yang diberikan oleh Al, kayaknya salah satu karya alumni juga kemaren itu.

8. Trick Device

Sejenis alur tulisan yang menggambarkan cara si karakter mengalahkan pihak lain atau sesuatu dalam sebuah kompetisi. Jadi trik atau cara-cara mengatasi sesuatu atau mengalahkan sesuatu, menjadi tema sekaligus cara menuliskan pic booknya. |

Hemmm... kemaren apa ya yang dicontohin sama Al? lupa aku :( 

9. Cause and Effect 

Sama dengan aksi reaksi. Jadi ada sebab ada akibat. Awalnya naskahku menggunakan device ini, saat masih mengambil genre fabel. Ini termasuk yang tidak sulit, dan cukup ampuh mengatasi kebuntuan ide cerita sih menurutku, sama seperti yang nomor 7 di atas. :) 

10. Numerical Sequences of Pattern 

Ini lazim juga digunakan dalam banyak pic book, terutama utk usia baru membaca dan mengenal benda-benda. Seperti warna, angka, huruf, ukuran dan lain sebagainya. Kalau nggak salah, buku karya mbak Nurhayati yang berjudul Kring-Kring adalah salah satu buku yang menggunakan device ini dalam membuat alur ceritanya. Aku suka buku itu. Kocak dan informatif :) 

Diakhir penjelasannya, Alfredo bilang "You can combine the device, two or three device in one story." See... ternyata alat menulisnya bisa dikombinasikan dan memudahkan sekaligus...:) 


Alfredo Santos, Manager QRM untuk Asia Tenggara dari Room to Read, sedang menjelaskan pilihan tema yang berat

Selesai materi ini, aku senang. Ilmu banget ini. Sudah pernah kubaca di beberapa blog teman-teman alumni R t R sebelumnya. Tapi menjadi semakin jelas karena dipaparkan langsung oleh Al dan diberikan contoh-contohnya. 

Kami pun break time. 

Kembali lagi masuk, dengan materi berikutnya yakni tentang tema

Di sini seru nih. Ada puluhan tema yang diajukan oleh panitia R t R, dan kami peserta dipersilahkan memilih (baca : berebutan) memilih tema. 

Walhasil, seru deh saat melihat temen-temen berlari mengambil sebuah tema. Oh iya, temanya berat-berat nih, mulai dari step sibling, step parent, dislexia, bully hingga anak dari mantan narapidana. Pokoke berat. Dan kebayang sulitnya untuk memindahkan tema tersebut ke atas cerita pendek untuk pic book. 

Aku sendiri memilih  tema step parent. Sempat samaan dengan tema yang dipegang mbak Yuniar. Lalu mbak Yu ragu, sempat kami saling tanya, mau siapa yang mundur. Aku juga gak keberatan ganti tema. Kayaknya kurang nyaman jika satu kelompok sama temanya. Kira-kira itu yang terpikir oleh aku atau juga sama oleh mbak Yuniar. 

Walhasil mbak Yuniar terlihat dua atau tiga kali bolak balik ganti tema, hingga akhirnya,  ia mengambil dislexia sebagai pilihan temanya. 

Mbak Rina membacakan semua tema yang bisa dipilih 
Session ini kami kembali "work no shop" hahaha. 

Aku terus terang, sakit banget kepala. Haidku datang lebih cepat. Ini artinya tingkat stress udah lumayan tinggi, sehingga hormonalku kacau balau. :D 

Namun, sebagai penderita suspect PCO, kondisi ini sudah kupahami bertahun lalu. Makanya udah siap dengan kondisi ini. 

Lalu, bagaimana cara menulis di tempat pelatihan gitu? Aku paling gak bisa nulis di tengah keramaian. Walhasil, aku memilih keluar ruangan sebentar, lalu mengambil sedikit post it di atas meja grup. Mulailah aku menyoret-nyoret nama satu karakter, kupakai nama ponakanku  yang cantik, si Kayla, sebagai tokoh utama, dan BME, motivasion, karakter.. dan seterusnya kubuat. Lalu meracik tema jadi cerita. Cara kerjaku mungkin aneh, atau terlalu ilmiah hahaha karena dari dulu kebiasaanku kalau nulis ya pake mind map atau coret-coret dan tempel2 kertas. hehehe 

Beginilah caraku menulis dan menggarap ide hehehe
Dan ini membantu banget. Meski pada akhirnya aku tidak maju untuk presentasi menjabarkan tokohku dalam tema ini, namun aku senang banget bisa nulis satu cerita dengan tema berat ini dalam hitungan waktu sebentar. hehehe

The power of stress kali ya... Semakin terdesak, semakin intens otak kerja berpikir dan menulis. Hahaha 

Oh iya, karena diyakini letih berpikir dan dipaksa berpikir, makanya selalu ada ice breaking. Setiap tim dapat jadwal untuk membuat permainan yang bikin semua peserta relaks dan jadi nyaman kembali. Aku malah sering menghayalkan es krim sekalian saat begini. hahaha...
Ice breaking ini penting banget. Kalau nggak, otak letih sangat
Setelah nyaman dan merasa segar kembali. Kami kembali ke ruangan. Tapi, beneran lho, lokasi workshop ini memang luar biasa. Udara kawasan Kaliurang ini memang adem bangeeeet. Aku rada kedinginan. Di awal hari ini, aku buru-buru kabur menuju toko souvenir hotel, dan membeli sebuah jaket abu-abu yang adem banget. Harganya relatif terjangkau, dan bersyukur ada cocok ukurannya untukku. Wkwkwkwk


jangan tanya penampilanku selama workshop. jauh dari cakep. *sehari-hari juga jauuuh buuu
Ini hari kedua, aku beli jaket karena kedinginan, sakit kepala banget dan haid datang lebih cepat.
cukup menggambarkan gimana situasi workshop gak kira2? wkkwwkkwwk 

Materi berikutnya adalah tentang Folklore. Mbak Dina ini dari pusat informasi Dikti kalau tidak salah *nanti aku koreksi lagi kalau salah ya :) Lupa nyantumin profesi beliau. Tapi ahli banget urusan Folklore deh!


Mbak Dina lalu menjelaskan tentang ciri-ciri Folklore, antara lain : 



- lisan diceritakan turun temurun.

- anonim atau tidak diketahui siapa pengarangnya.

- variannya banyak, dalam arti memiliki banyak versi.

- memiliki fungsi tertentu bagi masyarakat setempat, misalnya nilai moral dan nilai politis.

- memiliki logika tersendiri, dan sering atau akan selalu ada kejadian-kejadian kebetulan atau keajaiban-keajaiban di dalam kisah tersebut.

Menurut mbak Dina, dalam menulis ulang sebuah Folklore, tidak bisa atau tidak boleh seenaknya memasukkan unsur magis atau pertolongan tertentu dari mahluk ghaib, kecuali memang hendak dimasukkan ke dalam kisah fantasi atau dongeng. 

Rumusan B M E juga digunakan dalam menulis ulang atau memodifikasi folklore.


Untuk Beggining misalnya, dalam mengenalkan tokoh, bisa menggunakan latar sosial atau budayanya. Pada bagian Middlenya, biasanya protogonis atau tokoh hero akan menemukan masalah atau tokoh lain yang berlawanan tujuan dengan dirinya. Lalu pada Ending, atau penyelesaiannya, biasanya selau dibantu oleh suatu kekuatan atau magis. Nah di sini, bisa diupayakan ada unsur foreshadowing agar tak menjadi sebuah Deus Ex Machina atau sebuah kebetulan. 



Beberapa tips yang diberikan oleh mbak Dina dalam mengarahkan penulis untuk menulis ulang sebuah folklore, antara lain : 


- Ambil salah satu plot yang ternyata ada kosong adegan. Lalu jadikan plot baru yang menjadi kisah baru. sejenis spin off gitu kalau di film.
- Atau ambil 1 karakter saja, lalu karakter yang biasa ini, dijadikan tokoh utama di cerita yang baru. 
- Atau setting bisa sama dengan dongeng atau folklore, atau keluar dari folklore tersebut, tapi moral cerita tetap sama. 
- Membalik karakter tokoh, dari jahat jadi baik, atau sekalian memutar balikkan plot. 

Mbak Dina menjelaskan dengan memberikan contoh-contoh buku dari karya alumni R t  R, seperti I Belog, atau juga film hollywood seperti Malificient. 

Ada batasan juga yang harus dipahami saat menulis ulang Folklore menurut mbak Dina, yakni 

1. Jika ingin "melanggar" atau keluar dari pakem cerita, maka hal utama yang harus dilakukan adalah PAHAMI dulu folklore tersebut, baru kemudian dicek bagian mana yang mau dikoreksi.

2. Harus memiliki Empati, artinya memahami pemikiran dan moral dari isi cerita

3. Harus ada Argumentasi dari munculnya karakter, dan juga upayakan show not tell. 

Aku pribadi kemudian membuat semacam kesimpulan dengan mind map atas penjelasan dari mbak Dina. 


Lagi-lagi orat oretku yang kufoto. Soale capek juga nulis semuanya... wkwkwkwk 

Oh, well, demikian memang cara kerja otakku. Makanya kadang, temen-teman kuliah dulu, kalau pinjem catatan kuliahku, milih catatan yang sudah rapi, ketimbang mind map yang kupakai saat mendengarkan kuliah. Wkwkwkw.. pokoke penuh kotak dan tanda panah :D 

Selanjutnya materi dari Pengalaman salah satu alumni tahun lalu, dan juga saat ini menjadi desainer untuk tim YLAI, yakni mbak Fani. 

Fani adalah desainer, illustrator sekaligus penulis untuk pic book karyanya yang berjudul Sahabat Cilik Putri Pandan Berduri, sebuah kisah yang diangkat dari folklore Sumatera Timur atau Melayu. 

Fani menjelaskan proses dari mulai penjabaran naskah asli, hingga diubah menjadi naskah adaptasi. Juga perubahan detail, mulai dari karakterk 3 D, aksesori, hingga setting lokasi serta beberapa adegan yang mengisi buku tersebut. 


Ini sebagian catatanku tentang pengalaman mbak Fani dalam menggarap naskahnya
Ada 3 halaman lagi sih, tapi ini aja sebagai contoh ya hehehe

Aku senang sekali melihat seorang penulis sekaligus illustrator yang riset dengan bersusah payah, dan menghasilkan karya yang menarik. Sungguh asyik untuk diikuti. Apalagi saat field testing atau tes pada para pembaca anak-anak di realiti atau lapangan. Duh, bagian sini seru juga ternyata menurut cerita Fani. 

Beberapa proses kerjasama tim dirasakan juga pada buku tersebut. Jika sudah demikian, keegoisan penulis ataupun illustrator ataupun editor, memang harus diturunkan kadarnya demi sebuah karya yang menarik. 


Jika ada statemen atau pendapat setelah kerja tim gini, seperti tidak mengenali karya sendiri, atau pendapat, sepertinya kog beda, aku pribadi melihatnya itu sebagai sebuah proses kerja tim. Gimanapun juga, menjadi bagian sebuah tim, tidak boleh menganggap diri lebih baik dari anggota tim yang lain. Jika mind set ini yang tertanam, maka kegiatan tim menjadi menyenangkan dan pembelajaran. 



Terus terang, dari awal sudah kukatakan, kalau aku bukan team player yang baik. Kecenderunganku tidak sabaran dan memiliki cara pikir yang berbeda, sering kali tidak menguntungkanku atau mungkin teman satu timku. hehehehe.

Namun, di room to read workshop, aku melihat, bahwa seorang team player lah yang dibutuhkan untuk menghasilkan sebuah karya yang bagus. Bukan berarti terbaik atau terkeren, tapi bagus dan sesuai dengan harapan workshop. 


Tapi, itu hanya pendapatku setelah melihat dan mendengar penjelasan dan pengalaman dari Fani. :) 



Selesai coffee break, dilanjutkan dengan presentasi beberapa peserta terkait tema yang diberikan hari ini. Sekitar 6 orang yang maju. Aku nggak maju kali ini. Entah kenapa, aku memilih untuk tidak maju. Hari ke 3, adalah menjadi pilihanku. 



Dan kami pun kemudian pulang ke kamar masing-masing, namun diberikan PR, untuk membaca folklore yang telah dibagikan oleh team sebelum datang ke Jogja. Lalu mempelajarinya, memilih salah satunya, kemudian, membuatnya menjadi sebuah story book versi kami sendiri. 



Kali ini aku cukup antusias. Dari dulu, folklore selalu menjadi hal yang menarik perhatianku. Sebelum menjadi seperti sekarang, aku senang sekali mempelajari hal terkait folklore tapi dari aspek ilmu hukum. Malah salah satu proposal disertasiku, membahas Folklore dari kacamata hukum hak cipta. Hehehe.. jadi jangan heran, jika aku antusias mempelajari 2 folklore yang diberikan editor Puspa, yakni Ikan Tuing-Tuing dan Kail emas, serta si Lebai Malang. hehehe



Sesampai di kamar, kukerjakan PR dengan sepenuh hati. Meskipun tidak semudah itu mengerjakannya, apalagi aku tetap harus memperhatikan suami dan anak-anak yang ikut serta ke Jogja. Mengingatkan makan mereka, menyuapi anak-anak, menyiapkan susu dan madu, serta memandikan Billa dan Aam. Well...  di saat teman-teman lain mungkin pusing dengan PR yang ada, aku bisa jadi tidak pusing, karena sudah ada masalah lain yang mesti kuhadapi. Wkwkwkwkw...

Jadi, kapan aku mengerjakan PR?

Setelah urusan dengan keluarga selesai. Aku ijin ke suami untuk meet up dengan teman-teman satu tim. Meski terus terang, aku rada bengong kalau udah disuruh mikir menulis saat bareng Tim. Tak heran, jika ada juga teman yang memilih tidak ikut brainstorming. Karena gimanapun juga, cara kerja seorang penulis itu kan beda-beda ya? hehehe

Kembali ke kamar, aku mendapati anak-anak belum tidur. Kupilih tetap melanjutkan PR saat mereka sibuk dengan gadgetnya. Ok.... silahkan dikomentari, aku memang menggunakan gadget untuk menenangkan mereka selama aku nulis PR. hehehe. Apa boleh buat. Setelah kelar PR, aku pun mengajak anak-anak untuk tidur. 

Eh iya, satu hal lagi yang perlu kuceritakan dan rasanya konyol. Aku bawa laptop donk dari rumah. Wajib bawa laptop adalah syarat dari panitia. Tapi kenyataannya, aku tidak bawah chargernya. What a great condition ya? 
Beruntung sahabatku yang baik hati dan saat ini tinggal di Jogja dalam rangka menyelesaikan S3nya,  tidak keberatan kupinjam laptopnya selama 4 hari. MasyaAllah berkah buat Putu ya... laptop kerennya didampuk kerja keras untuk menemaniku workshop .... Sungguh aku benar-benar tertolong. 

Semoga Allah memudahkan disertasimu ya Put.... I love you karena Allah... :) 


Bersama Candidate Doktor Putu Samawati yang rela laptopnya kubajak selama kurang lebih 4 hari
Barakallah ya dek Putu....:) 
Baik, demikian kisah panjang lebarku di hari ke 2 workshop. Belum kapok bacanya kan ya? Nantikan tulisanku di hari ke 3 dan 4 workshop yaaa :) Semoga aku disehatkan untuk menuliskan dalam waktu dekat ini. :) 

***

Lanjutan tulisan Workshop hari ke 3

Patah Hati Berbuah Domain Diri

Berdiri di samping banner buku " Dan Akupun Berjilbab" yang aku susun.
Isi buku ini berasal dari lomba "Jilbab Pertama"
yang aku gusung di Multiply tahun 2010, terbit 2011 akhir dan best seller di tahun 2012.


Aku sudah lama mengenal blog. Sekitar awal tahun 2004. Sebelumnya cukup rajin menuliskan kisah dan curhatan hati di blog milik (alm) Friendster.

Belajar ngeblog dengan lebih rutin justru di Blogspot, dan kemudian makin intens di Multipy, yang sebentar lagi akan "membunuh diri".

Aku benar-benar patah hati, ketika tahu Multiply tak akan lama bisa dinikmati. Nyaris pertengahan bulan Ramadan tahun 2012, aku menghentikan tulisanku di sana. Sibuk menyimpan file-file dan akhirnya migrasi ke Blogspot lamaku, dan menjajal areal baru di Wordpress.


Tapi aku kehilangan gairah ngeblog.
read more