Oct 18, 2017

(Room To Read) Bagian 1 : Menguatkan Mental Ikut Audisi R t R

Warning : 
Tulisan mengandung unsur model tulisan curhat
Jadi, tidak ada garansi akan mendapatkan pengetahuan khusus menulis 
pada artikel ini 
:D

***



Pengumuman audisi dari Provisi untuk Room To Read Worskhop

Where should i began?

Dari mana aku mulai menuliskannya ya? Dari kenangan tahun lalu? Hehehe... Ya... Tahun lalu adalah kali pertama aku melihat pengumuman audisi penulis untuk workshop ini. Tapi, kala itu ada dua hal yang membuatku tak berani ikutan audisi. 

Pertama, aku tidak pede dengan dunia picbook. Selama ini aku kebanyakan nulis cernak dan novel anak saja. Picbook adalah pengalaman baru buatku. Ya beginilah nasib penulis otodidak dengan bakat minim. Perjuangan menulis sebuah naskah dalam satu genre, hanya karena belajar dan belajar. 

Eh, jadi ngelantur. 


Alasan kedua, karena waktunya bertabrakan dengan jadwalku berangkat Haji. Agustus 2016, aku  dan suami telah berada di tanah suci. Alhamdulillah. Di sana, kuselipkan doa, "ya Allah, beri aku kesempatan menambah pengetahuan dan kemampuan menulis sepulang dari tanah suciMu ini." 

Dan, sepertinya Allah mengabulkan doaku. Karena tahun ini, di pertengahan tahun, aku membaca pengumuman audisi Room To Read Workshop. Terus terang, hatiku deg-degan. Ada beberapa hal yang membuatku demikian.

Selain, deg-degan akibat belum pernah membuat naskah picbook secara khusus (ada sih dua kali nulis untuk website www.serusetiapsaat.com tapi kali ini untuk audisi workshop, feelnya beda.). Juga, karena aku tidak tahu, apakah mungkin suami tercinta akan mengijinkan pergi ke workshop dalam jumlah hari yang tidak sedikit dan di luar kota? 

Terus terang, berbeda mungkin dengan banyak penulis lainnya yang semangat ikutan audisi ini (aku perhatikan juga share status Fb atau IG beberapa teman penulis), aku akhirnya memilih untuk berpikir masak-masak jika ingin ikut audisi ini. Bukan kegeeran pasti lolos, No... bukan itu. Tapi menyiapkan mental, jika tidak lolos dan juga mental bila lolos lalu tidak diijinkan suami. Hiks

Singkat cerita, aku tak membahas masalah ini ke suami atau orang lain. Kecuali aku membaca blog beberapa peserta tahun lalu. Tujuan utamanya meyakinkan diri ini, bahwa workshop tersebut layak kuperjuangkan. Sekaligus curhat dengan 2 orang yang pernah menjadi peserta juga. Dengan orang pertama, nyaliku ciut. Cerita yang dibagikan auranya berat dan cenderung menguras jiwa. Mentalku nyaris drop membaca sharenya. Namun curhat dengan teman yang ke dua, justru sebaliknya. Terkesan semuanya tergantung pribadi dan betapa menyenangkan kondisi saat mengikuti workshop.

Oh well...

Sebetulnya aku tak perlu repot-repot tanya sana sini. Harusnya fokus saja menulis, kirim dan tunggu hasilnya. Yup! harusnya gitu aja....

Masalahnya, itu bukan aku. 

Aku cenderung hati-hati, jika ambil sebuah keputusan yang mempengaruhi orang sekitar. Terutama terkait suami dan anak-anak. Akibatnya, aku mencari tahu dulu sebelum mulai. Makanya jadi senewen sendiri. Wkwkwkkw

Akhirnya, kuputuskan untuk bertanya langsung kepada yang punya Takdir. :D

Alhamdulillah, setelah curhat sama Yang Punya Nyawa,  hati ini akhirnya yakin untuk mencoba audisi. 

Lalu, dengan lancar, kutuliskan dua naskah. Aku sempat belajar online dengan salah seorang senior di bidang menulis yang alumni workshop ini. Tapi hanya sebentar, karena kendala bulan Ramadhan. Aku fokus pada puasa dan juga membaca referensi pic book. Modal buku2 yang kubeli saat BBWB tahun lalu dan tahun ini benar-benar bermanfaat. Sembari, aku terus belajar dan mempelajari ide-ide naskah untuk audisi.

Hingga akhirnya, naskah yang kuutak-atik sendiri kurasa sudah cukupu bagus, lalu kukirim, keee... teman yang pernah jadi alumni workshop R t R juga. 
Jawabannya...? Nggak banget boo...:D

Naskah karyaku itu bukan tipe naskah R t R. Kira-kira gitu deh bahasa santunnya, untuk bilang kalau naskahku itu nggak bakalan lolos, kalau ngotot dikirim juga. Hahaha

Allah Maha Baik. Dia memberikan aku kemampuan cepat belajar. 
Yup! I am a quick learner. 
Kritisi dan saran dari teman baik itu kupelajari. Blog milik si teman seputar workshop tersebut kupelajari. Tanpa disengaja, kata Beggining Middle End, sudah meresap di hati. *buat alumni Workshop ini, pasti udah terpatri banget huruf B M E ini. hehehe

Akhirnya, kutuliskan naskah lain, dan diskusi dengan si teman tersebut. Sebut saja namanya IA, dan saat ini merupakan salah satu penulis cerita anak yang produktif. 
Dia baca naskah baruku berdasarkan saran dan blognya, dan ia tertarik. Terus si IA ini bilang, "Kalau naskah begini sepertinya cocok dengan selera R t R." 

Yeeey!!!...

Akhirnya, selama 3 hari ke berikutnya, aku utak atik dua naskah tersebut. Satu dengan tokoh anak usia 6 tahun. Satu lagi, dengan tokoh seekor Landak. (Aku pribadi jatuh cinta sama tokoh Landak ini, mudah-mudahan suatu hari, dapat kujadikan buku juga. amin)

Dan 3 hari sebelum penutupan audisi, naskah kukirim. Kali ini aku sungguh berhati-hati. Formulir diisi dengan baik dan penuh. Tidak ada yang kulewati. 2 naskah juga dilampirkan dengan memastikan yang dikirim adalah yang revisi terakhirku. 

Deg-degan?

Banget. Hahaha.. Layaknya mengirim naskah pertamaku lagi. 

Aku merasa, layaknya momentum pertama kali terjun (kembali) ke dunia menulis cerita anak. Selama 3 tahun terakhir ini, fokus dan prioritasku adalah Aam dan Billa. Tahun ini, aku sepertinya sudah bisa membagi waktu untuk melakukan hal yang selama ini kutangguhkan. Yakni menulis cerita anak kembali. 

Saat menanti pengumuman lomba, aku tak begitu ngeh, sampai seseorang menelponku. Laki-laki dari Provisi. Dulunya pernah jadi editorku untuk buku Gomawoyo Chef!. Wah, deg-degan banget saat tahu aku lolos, namun jadwal dan lokasi kegiatan berubah.

Inilah moment of truth.

Aku baru berani bilang ke ayahnya anak-anak, jika istrinya lolos audisi workshop R t R dan lokasinya jauh, serta kelak akan meninggalkan anak-anak selama beberapa hari. :) 

Apa coba yang Ayahnya anak-anak lakukan? 

Singkatnya (setelah melewati fase wawancara ala suami istri dan diskusi yang agak alot dikit), ia membolehkan aku ambil kesempatan yang belum tentu terulang lagi tersebut, (meski aku berharap bisa ngulang lagi sekarang ini....amiiin), juga sekalian dia putuskan ambil cuti, serta memboloskan anak-anak dari sekolah mereka. Demi istrinya tercinta. 

Duuuh... AllahuAkbar dan MasyaAllah. Aku spechless. Meski Bang Asis nyaris tidak pernah membaca karyaku, namun dia ini memang mendukung kegiatanku dengan caranya sendiri. Alhamdulillah. 

Tak lama, setelah approval dari suami didapat, kukabarkan ke panitia, jika aku dapat hadir di workshop tersebut. (Harus alasan yang sangat kuat, jika tak bisa hadir di acara keren ini -menurutku-). Kemudian aku sujud syukur, lalu melompat kegirangan.
*Eh tapi telpon udah ditutup dan suami udah ke kamar mandi waktu itu. Jadi gak ada yang lihat, kalau body raksasa ini melompat-lompat dan menggemparkan lantai kamarku...(Baik...noted... ini mulai lebay...hahah). 


Pengumuman resmi dari Panitia.
Aku senang banget melihat daftar nama yang ada.
Sebagian aku kenal, sebagian aku semangat untuk kenalan. 

Oke.....

Masih mau dengar kisah selanjutnya?

Kayaknya gak gitu penting ya... Hehehe.. Karena kisah selanjutnya, adalah perjuanganku membeli tiket kereta api ke Jogjakarta untuk tanggal kepergian 16 Agustus, dan kepulangan tanggal 21 Agustus 2017. Menyesuaikan dengan jadwal kerja suami, minta ijin ke guru anak-anak, kalau mereka akan bolos dan menemaniku ke Jogja. Ya... satu keluarga sirkus dari Pamulang, berangkat menuju Jogjakarta. hehehe




Pada kelaparan. Kami meet up dengan Ayahnya anak-anak di Stasiun Gambir

Dilewati aja kisah perjuangannya. Mending langsung cerita, kalau akhirnya aku berangkat bareng anak-anak dari rumah abis ashar. Jumpa dengan ayah mereka di stasiun Gambir. Si Ayah ada meeting sore soalnya. Jadi gak bisa jemput kami ke rumah. Aku sendiri mulai terbiasa dengan pola meet up seperti ini. InsyaAllah yang penting tujuan tercapai. Hehehe

Magrib kami sholat dan makan. Aku juga bertemu dengan mbak Ina Inong. Teman sesama peserta workshop R t R juga. Ah ah ah.. ini mengembalikan kenangan, kala pertama kali ketemu mbak Ina  tahun 2010 di workshop kepenulisan di Bandung...:)

Senyum cerahnya gak pernah luntur. Meski sudah malam dan menanti kereta datang dalam keadaan ngantuk... :) Mbak Ina pergi sendirian. Ugh...me time banget kayaknya ya... hihihi..



wefie bareng mbak Ina 

Aam malu-malu nih foto bareng Mama Ina Inong. hehehe 
Aku dan mbak Ina sempat ngobrol dan membicarakan konsep "gelas kosong". Ya sebagai penulis yang sebetulnya udah lama menulis, kami berdua kebetulan beberapa tahun terakhir ini mengalihkan fokus pada bidang berbeda. Aku konsen pada anak-anak, sementara mbak Ina selain anak-anak juga aktif ngeblog dan nonton korea #eh. Hehehe. 
Nggak dink... pokoke, konsentrasi dan fokus kami pada cernak beberapa tahun terakhir emang bergeser. Sehingga kami (atau aku khususnya) merasa perlu memulai lagi dari NOL (berasa kayak abis ngisi BBM di Pertamina nih... Dimulai dari NOL hahaha). 

Harapanku sendiri, dengan modal gelas kosong, kami akan menjadi sponge yang menyerap cepat. Meski faktanya... hehe... kayaknya agak berbeda sedikit. :D


Sementara anak-anak menikmati pengalaman berkereta mereka ke sekian kalinya
Aku mencoba menenangkan mentalku. Menikmati petualangan jalan-jalan demi sebuah workshop kepenulisan :) 


Perjalanan relatif cepat dan nyaman. Kami berangkat pukul 22 malam kalau tidak salah, dan pas beduk subuh tiba di stasiun kereta Jogjakarta. Aku nyaris tidak bisa tidur. Karena posisi anak-anak tidur juga sih. Walhasil aku memilih gaya tidur sambil duduk di lantai dan kepalaku berbaring di kursi. Sementara Billa menguasai kursi untuk mendapatkan posisi tidurnya yang nyaman :) 



Subuh sampe di Jogjakarta.
Dan stasiunnya aman dan nyaman ternyata. Pekerjanya jujur dan baik 
Singkat cerita, aku dan mbak Ina pun berpisah di sini. Ia menemui taksi untuk mengantarkannya ke satu tempat. Sementara aku pergi ke arah rumah temanku dulu. Mengingat cek in hotel baru bisa dilakukan pukul 14.00. Maka aku mengarah ke selatan Jogja. Menemui Putu Samawati, adik tingkat, dan juniorku dulu yang sekarang sedang ambil S3 di UGM. Anak-anak mandi dan sarapan di sana. Bahkan bermain pasir sisa letusan Merapi dengan serunya. 

Main air dan pasir.
kapan lagi? hehehe
Menjelang makan siang, aku sudah cukup istirahat, mengingat waktu tidurku yang hanya 1 jam saja semalaman di kereta eksekutif. Ironis banget ya? Hahaha...
Aku pun dianter oleh Putu dan keluarga kecilnya menuju Hotel Griya Persada. Lokasinya naik ke arah utara Jogjakarta, di kawasan Kaliurang. Kami mampir makan siang sebentar. Duh enak banget kalau udara mulai adem dan makan ikan bakar ya? hehehe



makan siang sambil lesehan. alhamdulillah
Alhamdulillah, tidak ada kendala apapun. Kami sampai dengan selamat sampai di lokasi. Banner ucapan selamat datang dari panitia workshoppun menyambutku. Hati kembali deg-degan. Hehehe... Ini jantung terlalu semangat menerima pengalaman dan ilmu baru. Akibatnya, jadwal haidku sampe maju seminggu dari seharusnya. Efek dari kaget dengan proses menerima ilmu barunya. Kog segitunya ya? hahaha. Nanti kuceritakan secara detail hari pertama workshopnya seperti apa, ya! 

Tunggu lanjutan cerita berikutnya ya ... :D 



Welcoming Banner
I am officialy  part of this cool workshop now!

Silahkan juga baca tentang hotel penginapan peserta selama workshop di sini: http://www.oenidian.com/2017/10/travelling-mom-griya-persada-yang-luas.html


Lanjutan ceritanya ada di sini ya teman-teman : 



Patah Hati Berbuah Domain Diri

Berdiri di samping banner buku " Dan Akupun Berjilbab" yang aku susun.
Isi buku ini berasal dari lomba "Jilbab Pertama"
yang aku gusung di Multiply tahun 2010, terbit 2011 akhir dan best seller di tahun 2012.


Aku sudah lama mengenal blog. Sekitar awal tahun 2004. Sebelumnya cukup rajin menuliskan kisah dan curhatan hati di blog milik (alm) Friendster.

Belajar ngeblog dengan lebih rutin justru di Blogspot, dan kemudian makin intens di Multipy, yang sebentar lagi akan "membunuh diri".

Aku benar-benar patah hati, ketika tahu Multiply tak akan lama bisa dinikmati. Nyaris pertengahan bulan Ramadan tahun 2012, aku menghentikan tulisanku di sana. Sibuk menyimpan file-file dan akhirnya migrasi ke Blogspot lamaku, dan menjajal areal baru di Wordpress.


Tapi aku kehilangan gairah ngeblog.
read more