Jan 8, 2017

Resolusi 2017 : H I J R A H ?





Sudah masuk minggu ke 2 bulan Januari di tahun 2017. Kog baru nulis tentang Resolusi?
Hemmm, terus terang, sebetulnya ilham menulis tentang hal ini sudah lama hadir. Sejak awal Desember 2016. Tapi entahlah, ada yang menahanku untuk menulisnya, hingga sampai ada satu titik yakin, bahwa inilah saatnya menuliskan sikap yang harus kuambil di awal tahun ini.

Tapi, tunggu dulu.

Sebetulnya, apa itu Resolusi? 
Kalau melihat isi kamus sih, artinya merupakan jalan keluar atau pemecahan atau penyelesaian atau keputusan atau ketetapan.

Wah? Kalau begitu, kata resolusi pada tulisan kali ini sebetulnya mewakili kata apa? 
Aku pribadi memilih kata keputusan dan jalan keluar. Kenapa? Karena sering kali resolusi di awal tahun, diniatkan untuk memperbaiki atau memberikan jalan keluar atas masalah yang mungkin di tahun sebelumnya tak terlaksana atau tak bisa dikerjakan. Karenanya diputuskan untuk memperbaikinya di tahun berikutnya.

Yup! Kira-kira demikian yang terbayang di hati, saat bicara resolusi.

Manusia perlukah memiliki resolusi? Iya, tapi tidak wajib. Resolusi itu hanyalah salah satu tool atau alat untuk memudahkan seseorang dalam memantapkan dirinya memulai sesuatu. Tanpa resolusi pun, jika orang yang sudah biasa memiliki rencana-rencana dalam kehidupannya, tentu bisa melakukan tahapan kehidupan. Hanya saja, jika tanpa rencana, lalu tak memiliki resolusi, dan membiarkan semuanya berjalan tanpa arah, tentu patut disayangkan. 

Hidup kita singkat. Kalau diisi dengan khayalan dan tidur melulu, sambil menunggu rejeki datang sendiri, bagaimana mungkin?

Hidup kita hanya hitungan tahun, tak lebih dari 70 tahun, jika hanya diisi dengan obrolan kosong dan tindakan tanpa makna, bagaimana bisa bahagia?

Semua perlu direncanakan, disengaja atau tidak. Semua harus dipikirkan, berat atau ringan sekalipun pililhan hidup. Semua harus dibuat target dan tujuan, agar lebih berhikmah, meski sedikit kemampuan melakukannya.

Baiklah, lalu,  mengapa pilihan resolusinya adalah Hijrah?

Well, sebelum aku cerita sedikit mengenai ketertarikanku pada kata Hijrah, kita lihat dulu makna kata hijrah.

Menurut kamus, hijrah berarti perpindahan atau atau pemindahan penduduk. Nah loh? Apakah aku akan pindah warga negara? J Alhamdulillah belum kepikiran itu. Masih cinta negara Indonesia, meskipun problematika negara ini rumit dan unik.

Jadi, hijrah seperti apa yang akan dijadikan patokan?

Sebetulnya jika menilik sejarah hijrah, maka peristiwa berpindahnya Rasulullah dari Mekkah ke Madinah, adalah contoh hijrah yang mendasar dan sangat klasik. Namun, ada juga sebagian ulama yang menjelaskan, bahwa hijrah juga bermakna Meninggalkan sesuatu dan Menuju suatu tujuan yang jelas. Ini merupakan pengertian secara maknawiyah, artinya, bisa saja meninggalkan kekufuran menuju Islam, meninggalkan duniawi dan fokus pada ukhrawi,  meninggalkan hal-hal negatif menuju hal-hal yang positif. Singkatnya, hijrah diutamakan pada satu perbuatan meninggalkan hal-hal yang tak baik, menuju perbaikan diri untuk menjadi lebih baik.

Simpulan terakhir itulah yang kugunakan sebagai patokan tulisanku kali ini. Memang hanya mendasarkan pada logika manusia. Namun tak bergeser dari ketetapan Allah. Bahwa sebagaimana dalam Qs. Al-Baqarah 2 : 218 dikatakan, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berhijrah di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

Baiklah. Aku tidak berniat mendadak jadi ustazah. J Namun sejak beberapa bulan terakhir, pemikiran tentang hijrah selalu berkutat di pikiranku.

Aku, Dian Onasis. Seseorang yang mengklaim diri sebagai penulis lepas sejak tahun 2010. Menulis banyak variasi kisah. Namun kebanyakan di dunia keluarga, bicara tentang hal-hal terjadi di seputar hidupku, dengan harapan, ada yang mendapatkan pelajaran akan hal tersebut. Di samping itu, aku juga menulis cerita anak, sebagian misteri, sebagian dongeng dan sebagian fantasi. Malah 5 dari 6 novel anak yang kutulis sejak tahun 2010 hingga 2013 lalu, berkutat pada genre Fantasi.

5 novel karyaku, genre anak dan didominasi fantasi


Hingga, suatu hari, di tahun 2016. Saat hati mempertanyakan komitmenku sebagai penulis cerita anak, lalu ada whatsapp dari teman sesama penulis. Dia sebetulnya 4 tahun lalu, adalah penulis pemula. Yang banyak bertanya dan diskusi tentang dunia kepenulisan padaku. Singkatnya “belajar” dari pengalamanku. Namun tahun 2016 kemarin, ia sungguh menikmati hasil kerja kerasnya belajar bertahun-tahun lalu. Karya tulisnya banyak lahir dan malah ada yang mendapat predikat best seller. Darinya, aku kemudian berdiskusi. Bahkan boleh dibilang, aku yang “belajar” dari dia tentang menulis genre cerita anak, dari sudut pandang islam. 

"Jika bukan kita yang memberikan pengetahuan yang berdasarkan islam, siapa lagi, Un? Jangan biarkan kesempatan untuk belajar mengenai islam, dan menuliskannya dalam bentuk buku, serta dibaca oleh anak-anak kita kelak diambil alih oleh orang yang bisa jadi, lebih tak paham soal agama islam." Kurang lebih di pusaran itulah pembahasan kami yang membuatku tertegun. 

Kala itu, aku merasa, ada benarnya pendapat orang tua. Ada masanya dimana Guru menjadi Murid, dan Murid menjadi Guru. Demikian yang kurasakan saat berdiskusi dengan teman penulis yang usianya 10 tahun lebih mudah dariku.

Aku memang nol besar dalam pengalaman menulis kisah-kisah islami. Satu-satunya tulisanku dalam genre anak yang berunsur islami adalah salah satu buku dari paket buku 24 Nabi dan Rasul teladan utama. Aku menulis kisah Penahluk Firaun : Kisah Nabi Musa As dan Harun As.

Tulisan bertema islam, pertama kali kubuat di tahun 2015-2016

Setelah obrolan dengan teman tersebut, aku jadi berpikir banyak. Tak saja di dunia menulis cerita anak, tapi juga mengenai diriku. Apalagi, tak lama setelah itu, seorang teman lama di dunia maya, juga seorang penulis, menginboxku dan menceritakan pengalaman spiritualnya. Kisah yang membuatku ikut berlinang air mata saat membacanya. Mengenai indahnya Allah saat menegur hambanya, serta betapa pentingnya ukhrawi ketimbang duniawi. Saat ini, ada banyak hal yang mengalihkan hati dari kecintaan pada Allah, akibat terlena kenikmatan dunia. Duh, aku sampai mengelap ujung mata, kala membaca sharing  kisah teman tersebut. Di saat yang sama, aku mulai mengukur isi hati sendiri.

Mungkinkah kegalauan di bidang menulis yang kurasakan selama ini, terkait dengan niat menulis yang salah? Ada apakah dengan tulisanku selama ini? 

Terus terang, 2 tahun terakhir, aku menulis laksana  manusia kurang darah. Ada menulis tapi tak ada karya. Semangat ada, tapi tulisan tak ada. Niat kuat, tapi hasil tulisannya itu-itu saja. Berpikir melulu, tapi aksi nol besar. Selalu berpusar pada pemikiran, ada apa dengan niat menulisku? 

Proses berpikir yang bermuara pada satu simpulan. Aku butuh resolusi yang mengarahkanku pada hal yang lebih baik. Setelah kutanak hingga masak niat dan pikiran tersebut, maka kupilihlah satu tema khusus untuk tahun ini. Aku memilih Hijrah sebagai sikapku memulai tahun 2017.

Tidak mudah, tapi bisa. Tidak banyak, tapi paling tidak berefek baik. 
Aku menetapkan kalau aku harus melakukan beberapa perbaikan mendasar pada diri menuju kebaikan, agar bermanfaat pada tak hanya diri sendiri, namun juga orang sekitar.

Beberapa hal terkait #Resolusiku2017 mengenai hijrah itu, antara lain :


Sebagian kecil koleksi buku yang kubeli tahun 2016

  •   Aku ingin kembali menjadi orang yang lebih menyukai bacaan. Tak sekedar menjadi pembeli buku lalu menumpuk buku itu di perpustakaanku. Namun aku kembali menjadi “gila” membaca, seperti bertahun lalu. Maka kutargetkan, paling tidak ada 30an buku yang harus kutamatkan di tahun ini. Sekaligus, aku berusaha membaca Quran tidak sekedar target khatam belaka, namun mengkajinya pelan-pelan. Selembar demi selembar, semampuku. Sambil belajar pada orang-orang yang memiliki kapabilitas menjelaskan hal tersebut kepadaku. Tidak mudah, tapi bukan berarti tidak mungkin.
  •  Sebagai penulis, aku ingin fokus pada niat awal menulis. Tidak sekedar memiliki satu buku untuk mencatatkan diri dalam sejarah hidup. Namun, membuat tulisan yang memberi manfaat pada orang banyak, sekaligus  berkah kepadaku pribadi. Salah satu usahanya, adalah kembali belajar menulis cerita anak dengan tema islami, atau mencoba mengirimkan naskah-naskah ke penerbit islam. Pelan-pelan, karena ini genre baru bagiku. Tidak mustahil, meski aku tahu tidak gampang. Aku harus belajar ekstra keras untuk naskah-naskah jenis ini. Karena referensinya tidak sekedar menghayal atau membaca buku impor terjemahan, melainkan menelusuri referensi kitab-kitab bertema islam.
  • Belajar mendalami Islam, mencoba menuliskannya
  • Terakhir (meski sebetulnya banyak lagi yang ingin kubagi, namun kupikir sisanya adalah urusanku dengan Allah, tak penting untuk dituliskan di sini. Cukup kuukir dalam hati). Aku ingin menambah teman atau pihak-pihak yang mengingatkanku perihal akhirat, dan tidak melulu masalah duniawi. Aku ingin di akhirat nanti memiliki banyak teman yang mengingat diriku dan mencariku karena sama-sama berniat baik untuk kehidupan akhirat kami. Kalau yang ini, bisa jadi sulit, bisa jadi tak mudah, namun manusia-manusia baik yang mengingat teman sesama akidahnya itu banyak. Aku harus pintar mencarinya dan belajar dari orang-orang tersebut.


Demikianlah, nampaknya hanya sedikit resolusiku kali ini,  namun kurasakan cukup berat dan butuh kerja keras. 

Oh iya, kenapa baru terpikir dimulai pada  tahun 2017? 

Tidak ada alasan khusus sih. Hanya saja, selama tahun 2016, aku mengalami satu tahapan kehidupan yang membuatku berpikir, sedikit lebih banyak ke arah ukhrawi, daripada biasanya. Kala, aku diberi kesempatan melihat dari dekat rumah Allah di tanah suci sana. Kurasakan adanya hal-hal ghaib, meskipun kecil, tapi bermakna besar buatku. Jika teringat akan suasana di sana, dan memikirkan hal yang pernah kutulis selama ini, aku merasa ada yang perih di hati. Adakah tulisanku telah memberi kebaikan dan berkah bagi diri dan banyak orang?

Tahun 2017, bisa jadi hanya starting point belaka. Sekedar menetapkan waktu, bahwa inilah waktu yang tepat untuk meninggalkan beberapa sikap jelekku sebagai orang yang pemalas, penidur dan pemarah, menuju babak yang lebih baik, dengan resolusi Hijrah di atas. Semoga aku bisa lebih semangat berkarya, mengurangi tidur dan terutama marah terhadap anak-anak.
Mudah-mudahan mulai tahun 2017, menjadi awal perbaikan niat menuju arah yang tepat dengan pilihan hatiku saat ini. Amin.




Patah Hati Berbuah Domain Diri

Berdiri di samping banner buku " Dan Akupun Berjilbab" yang aku susun.
Isi buku ini berasal dari lomba "Jilbab Pertama"
yang aku gusung di Multiply tahun 2010, terbit 2011 akhir dan best seller di tahun 2012.


Aku sudah lama mengenal blog. Sekitar awal tahun 2004. Sebelumnya cukup rajin menuliskan kisah dan curhatan hati di blog milik (alm) Friendster.

Belajar ngeblog dengan lebih rutin justru di Blogspot, dan kemudian makin intens di Multipy, yang sebentar lagi akan "membunuh diri".

Aku benar-benar patah hati, ketika tahu Multiply tak akan lama bisa dinikmati. Nyaris pertengahan bulan Ramadan tahun 2012, aku menghentikan tulisanku di sana. Sibuk menyimpan file-file dan akhirnya migrasi ke Blogspot lamaku, dan menjajal areal baru di Wordpress.


Tapi aku kehilangan gairah ngeblog.
read more