Oct 12, 2016

Setengah Hari Bersama "Bunda" Keo dan Noaki


Well...

Where do i start...?

Banyak banget di kepala ini yang pengen aku share. *Hela napas.... 

Baiklah...

Aku kali ini pengen cerita pengalaman yang seru di awal bulan Oktober ini. 

Yakni, menghadiri meet and greet Teh Ary Nilandari. Seorang penulis cerita anak yang pernah menjadi mentor atau guruku beberapa tahun lalu, juga teman sesama mantan pengguna blog multiply tahunan lalu dan seorang penulis yang 2 tahun terakhir ini melahirkan karya serial Keo dan Noaki. Sebuah serial yang menarik perhatianku, termasuk dedikasi dan konsistensi teh Ary dalam menangani kelahiran demi kelahiran buku tersebut.

Aku jarang mendapatkan "me time". Rasanya mau terbang, saat kutanyakan ke suami, apakah dimungkinkan aku pergi sendiri ke Internasional Indonesia Book Fair (IIBF) 2016 pada tanggal 1 Oktober 2016 di hari Sabtu pagi dan suami mengiyakan. 

Wiiiih...ke pameran buku, sendirian, tanpa anak-anak dan jumpa seorang penulis yang mumpuni untuk ditimba ilmunya? Wow... kedengaranya seperti mimpi. Tapi ini nyata. 

Maka inilah aku.


Pagi-pagi, setelah gagal berangkat jam 8 pagi, akhirnya aku berangkat jam 9 mendekati jam 10 pagi. Naik gojek menuju stasiun kereta Sudimara. Berhenti di Palmerah dan lanjut dengan taksi menuju JCC. Alhamdulillah... kurang dari jam 11, aku sudah sampai di JCC. Nyaris salah lokasi, karena ramainya kondisi JCC oleh beberapa kegiatan lainnya.

Ternyata kalau IIBF tidak sepenuh IBF ya...:) Ini kali pertama aku menghadiri IIBF soalnya. 

Kucari stand 174 milik Paberland. Alhamdulillah, tidak sulit menemukannya. Dari kejauhan kulihat teh Ary sedang duduk santai di lantai ngobrol dengan seorang anak kecil (SD kayaknya), kuperkirakan pembaca serial Keo n Noaki. Aku lalu memilih memutar dan mengambil arah dari belakang teh Ary, agar tidak menganggu kondisi "meet and greet" yang cukup akrab tersebut. 

Setelah agak lama memperhatikan, dan fans cilik teh Ary sudah berdiri, giliran aku menyapanya. 

Terakhir aku jumpa teh Ary adalah beberapa bulan sebelum teh Ary pindah ke Kuala Lumpur. Sudah lama sekali ya. Makanya aku gak terlalu berharap teh Ary ingat wajahku. Hahaha

foto pinjem dari fan page K n N nih... makasih ya teh.. :) 

Kuperkenalkan diri, dan teh Ary tersenyum kecil. Seolah-olah bilang... "i still remember you, Dian," hahaha

memperhatikan teh ary tanda tangan... mengenang 6 thn lalu,
saat pertama kali teh ary menanda tangani sesuatu di depanku di Bandung

Dan segera kukeluarkan buku-buku Keo n Noakiku. *yup! aku juga penggemar serial ini. Tak hanya suka dengan karakter-karakternya....tapi juga karena senang, ada serial seperti ini ditulis oleh penulis Indonesia. Salah satu cita-citaku pribadi adalah ingin melahirkan serial yang disukai anak-anak seperti Keo dan Noaki. 

Segera aku mintakan tanda tangan, sebelum muncul fans-fans kecil teh Ary yang lainnya. Dan hal yang paling menyenangkan saat meet and greet gini adalah, jika penulisnya seperti teh Ary. Demen menuliskan dan kaya akan tulisan2 yang dalam, yang biasa ditulis di bagian tanda tangan. Ugh... saking banyaknya bacaan teh Ary, gak pernah kehabisan kata-kata untuk memberi semangat padaku dan pada banyak pembaca bukunya.


kalimat penyemangat dari teh ary yang ada di koleksi buku K n N ku

Pendekatan seperti ini, kucatat rapi dalam hati. Memberikan sentuhan pribadi pada tanda tangan dan kalimat yang menyemangati. Ini bukan perkara mudah, tapi sepertinya jika kita banyak baca, nggak akan sulit juga ya... #notepertama.

Aku sempat duduk manis di stand paberland. Memperhatikan beberapa orang yang hadir dan menyapa teh Ary. Ada illustrator, ada pembaca cilik, dan beberapa fans karakter Keo dan Noaki. 

Lucu deh, saat ada anak kecil laki-laki, yang pelan-pelan mendekat, hanya untuk mendapatkan pembatas buku berkarakter Keo. Atau sebaliknya, saat pembaca yang fanatik dengan karakter Noaki, sampe bela-belain foto bareng gambar Noaki di depan stand, dan berteriak kesenangan saat mendapatkan pembatas kertas berkarakter Noaki. Si pembaca tersebut juga buru-buru mengeluarkan uangnya dan membeli seri ke 6 dari serial Keo dan Noaki tsb. Sungguh aku terpana melihat kefanatikan seorang pembaca terhadap karakter di cerita seperti itu. 

Aku sempat membicarakan hal ini, pada Azman,  putra bungsu teh Ary yang ada di sana. Aku curiga si bungsu inilah yang membuat teh Ary tertarik membuat karakter Keo. Karena sesaat aku seperti melihat sosok Keo di dirinya. Dari ngobrol dengan Azman, aku kemudian mengenal istilah Waifu. Tentang orang-orang penggemar anime atau manga yang tergila-gila pada lawan jenis dalam satu karakter. Terkait Waifu, berarti istri 2D di dunia anime. Yah, kurang lebih seperti penggemar Noaki yang aku lihat tadi. Kalau sudah gini, beruntung banget punya anak yang demen baca, dan mau membagi ilmunya pada orang lain, seperti yang dilakukan Azman padaku. #notekedua.

Hal lain yang kami obrolin, juga tentang latar belakang seri 5 dan 6 diproduksi oleh teh Ary sendiri secara langsung, tidak melalui penerbit sebelumnya.

Kami juga bahas tentang berbagai trik dan tips menjual buku dan karakter tersebut. Seberapa besar pengorbanan dan dedikasi yang diberikan teh Ary selama 2 tahun terakhir ini, hingga berhasil melahirkan 6 buku serial Keo n Noaki ini.

Aku memperhatikan tote Bag yang baru dirilis dan menarik perhatian banyak pengunjung. Juga pembatas buku yang keren banget dengan iconik bertema budaya Indonesia. Juga obrolan dengan para pembaca ciliknya. Hubungan  yang baik dengan illustrator juga terlihat saat beberapa illustrator menghampiri teh Ary. Sepertinya butuh waktu lama untuk menjadi seperti itu, namun bukan hal yang mustahil. Dan mungkin tantangannya adalah menjaga silaturahim tersebut agar tetap baik. #noteketiga

Selama di sana, aku juga menyempatkan diri keliling-keliling stand yang ada. Memperhatikan beberapa stand penerbit yang pernah menerbitkan buku-bukuku. Sempat menemukan beberapa buku yang kutulis bertahun lalu. Antara senang dan sedih aja sih, kalau lihat buku ada ditumpukan diskon. Hahaha. Tapi ada juga yang tetap bertahan dengan harga aslinya. Buku karyaku berjudul The Cousins adalah contoh yang langka, karena masih dijual dengan harga asli, meskipun sulit ditemukan di toko buku. 

Abaikan wajahku...fokuslah para karya2ku...hiks 

Saat aku kembali ke stand 174, aku sempatkan membaca beberapa karya penulis Paberland di sana. 
Ghirah menulisku kembali menyala. Hal-hal seperti inilah yang dibutuhkan bagi penulis yang lama bersemedi seperti aku. 

Pertanyaan singkat dari teh Ary, "Dian masih menuliskan?" sungguh membuat kupu-kupu dalam perutku berterbangan. 

Sambil tersenyum malu, kujawab, "Masih Teh, tapi hanya sebatas cerita pendek untuk anak. Kalau  yang novel dan serial, semuanya belum ada kelar, bahkan hanya sebatas draft." Please.... Jangan bayangkan wajahku ya... mungkin saat itu merah padam karena malu. huhuhu...

Aku lupa, kapan terakhir aku fokus menulis dengan duduk tenang. Bisa jadi 3 atau 4 tahun yang lalu. Meskipun beberapa waktu terakhir, aku membagi pengalamanku lewat Kelas Permen, tapi tetap saja, itu bukan sebuah prestasi yang layak dibahas.   Karena pada akhirnya, aku adalah seorang penulis. Aku harus menulis.

Menghadiri meet and greet teh Ary, juga membuatku belajar tentang persiapan. Betapa teh Ary sebetulnya ke Indonesia dalam rangka kegiatan lain, namun saat mendapat kesempatan untuk promosi karyanya, ia segera bertindak cepat. Selain memang selalu membawa buku-bukunya (seri 5 dan 6) ke mana-mana (dalam koper), teh Ary juga gerak cepat menyiapkan banner bergambar Keo dan Noaki dalam pakaian adat. Ia mengorder banner berdiri tersebut via email dan cukup deg2an menunggu hasilnya. :)
Sungguh tindakan yang patut dicontoh. #notekeempat

Gak terasa, nyaris setengah harian aku di sana. Sempat menikmati makanan yang dibawa oleh penulis anak lainnya, Erlita Pratiwi *aku sempat jumpa dia juga. Dan pengennya jumpa lebih lama lagi dengan penulis keren satu ini. 

Cheesee...with teh Ary dan Erlita 

Btw, makanan yang dibawaya enak juga. Asyik banget Erlita ini...udah jago nulis, jago masak lagi..... :) 

Sempat berharap jumpa beberapa penulis lain, sayangnya berhalangan dan batal berjumpa. Namun aku, sempat ketemu keluarga blogger mantan Mpers juga, Tiar Rahman dan istrinya Cahya, dan juga beberapa facebooker lainnya. Sungguh aku malu banget, saat gak ngeh dengan keluarga mas Tiar ini. Padahal kami rajin menyapa di dunia maya, sejak jaman multiply dulu. Untuk mengurangi rasa bersalahku, aku minta foto bareng sekeluarga besar tsb. hahaha

Bareng keluarga Mas Tiar Rahman dan Cahya

Dan sebagai penutup  yang manis, adalah, aku berjumpa mbak Dhani Pratiknyo. Seorang penulis puisi dan kutu buku yang kukenal melalui komunitas Be A Writer atau BAW. 

Wefie bareng mbak Dhani dan Teh Ary 

Semua itu,  membuat hari Sabtuku penuh kisah dan cerita. Memang wajar, sesekali penulis itu harus keluar dari cangkak semedinya ya. Belajar dari teman penulis lainnya. Temu kangen dengan banyak orang baru dan lama. 

Sorenya, aku berpisah dengan teh Ary. Farraz dan Azman, kedua anak teh Ary membantunya merapikan stand dengan sigap. Kembali aku melihat karakter Keo dan Ibby di kedua anak ini. hehehe. Ada foto mereka di hapeku yg kushare pada teh Ary secara pribadi :) Sebetulnya, ada seseorang lagi di sana, tapi aku  lupa nama perempuan manis yang memoto kami serta setia bersama teh Ary di sana. *maafkan keteledoranku untuk tidak menanyakan namanya. :( 

Aku keluar gedung dengan penuh rasa syukur, karena banyak belajar terkait "meet and greet" seorang penulis terhadap pembacanya. Sebelum keluar gedung, aku sempat belanja buku dan mendapat kenalan pihak penerbit Alif Republika. Kalau udah gini, aku menyesal sekali tidak membawa kartu namaku sebagai penulis. Hehehe... 

Aku dan mbak Dhani pun berpisah arah. Aku naik gojek menuju stasiun Palmerah untuk mengikuti kereta kembali ke stasiun Sudimara. Dari sana, aku tiba di rumah sebelum magrib, dengan menggunakan Ojek. 

Fiuuuh... Alhamdulillah... 



*Pamulang, 12 Oktober 2016



























Patah Hati Berbuah Domain Diri

Berdiri di samping banner buku " Dan Akupun Berjilbab" yang aku susun.
Isi buku ini berasal dari lomba "Jilbab Pertama"
yang aku gusung di Multiply tahun 2010, terbit 2011 akhir dan best seller di tahun 2012.


Aku sudah lama mengenal blog. Sekitar awal tahun 2004. Sebelumnya cukup rajin menuliskan kisah dan curhatan hati di blog milik (alm) Friendster.

Belajar ngeblog dengan lebih rutin justru di Blogspot, dan kemudian makin intens di Multipy, yang sebentar lagi akan "membunuh diri".

Aku benar-benar patah hati, ketika tahu Multiply tak akan lama bisa dinikmati. Nyaris pertengahan bulan Ramadan tahun 2012, aku menghentikan tulisanku di sana. Sibuk menyimpan file-file dan akhirnya migrasi ke Blogspot lamaku, dan menjajal areal baru di Wordpress.


Tapi aku kehilangan gairah ngeblog.
read more