Oct 13, 2016

Berdamai Dengan Ayah, Mungkinkah ?



Cover Buku Berdamai Dengan Ayah
I love this picture...



Sepertinya bukan perkara mudah, jika kita pernah punya masalah dalam berkomunikasi dengan Ayah. Tapi bisa jadi sebaliknya, adalah menyenangkan bisa dekat dengan sosok Ayah, meski menjadi ujian,  saat sosok itu pergi, mampukah kita berdamai dengan kondisi tersebut?

Aku pribadi memiliki hubungan yang romantis dan menyenangkan dengan sosok Ayahku. Masalahnya justru timbul, saat kuterima kondisi bahwa Ayahku telah tiada. 

Berikut paragraf awal kisahku pada buku "Berdamai Dengan Ayah" yang ada di halaman 141 - 159 dari buku yang diterbitkan bersama Writerpreneur Club :
Koper Hitam Papa 
Dian Onasis
 ”Dalam paradigma kebahagiaan, alam adalah bak pasir tempat bermain dalam kehidupan. Hari hujan bukanlah hari yang suram tapi saat untuk mengungkapkan kebahagiaan, untuk bersatu dengan alam” Patch Adams

“Belum dibuka juga kopernya?” tanya suamiku, ketika melihat aku berdiri, termangu di depan koper ukuran sedang. Koper hitam milik Papa, yang ada di ruang kerjaku.
“Belum,” jawabku lirih, sembari menggeleng lemah. Ujung mata mulai panas. Kutahan agar airmata tak mengalir. Sudah terlalu banyak ia kukuras  beberapa hari terakhir ini. Cukup sudah.
“Dibuka kalau sudah kuat mental saja,” lanjutnya, sambil berlalu meninggalkanku.
Aku diam. Perlahan kuelus koper tersebut. Tanpa bisa dicegah, satu persatu peristiwa-peristiwa manis antara aku dan Papa muncul dalam ingatan.

Selanjutnya kisah demi kisah pun terurai.

Ah, aku belum cerita bagaimana proses buku ini lahir ya? Dan gimana kisah serunya saat launching?

Sebentar ya.... Aku coba mengingatnya, karena proses kelahiran buku ini sungguh lama. Bertahun. Yup! lebih dari 20 bulan kalau tidak salah. Ibaratnya bayi yang sudah terlalu lama dalam kandungan. Hehehe...


Nyaris Dua Tahun Lalu

Di halaman awal buku Berdamai Dengan Ayah, bagian prakata, ada ditulis oleh mbak Wrini Harlindi, teman duetku dalam menyusun buku ini, tentang awal dituliskan kisah-kisah dalam buku ini



Prakata
“Punya foto berdua dengan Bapak, nggak?”Celetuk seorang di antara kami, sembilan penulis yang bersahabat setelah mengikuti kelas menulis online. Ternyata, hanya beberapa orang saja yang memiliki foto berdua, dengan Ayah. Bagi beberapa di antara kami, sosok ayah lebih banyak berada di belakang kamera, sebagai pengamat dan pemberi arahan, sedangkan sosok ibu secara alamiah duduk di depan kamera, memangku atau memeluk anak-anaknya.  Celetukan pertanyaan itu muncul ketika kami saling curhat tentang sosok ayah dalam kehidupan kami dan hubungan yang menyertainya. Ada kenangan-kenangan manis, pahit dan unik juga ketidakmengertian. Membuat hubungan kami, dengan ayah berbeda dibandingkan dengan ibu.


Kami bersembilan orang, adalah mantan kelas online. Aku, Wrini, Irma, Linda, Yudith, Maftuha, Nurul, Yuliani dan Tusino adalah para murid di kelas belajar menulis cerita anak dengan mentor Teh Ary Nilandari. Paska kelas online tersebut, ternyata kami masih hang out bareng di sebuah group facebook. Hahaha.. gak bisa move on dari asyiknya belajar cernak online itu nampaknya.

Singkat cerita, kami bersembilan akhirnya sepakat untuk menuliskan kisah unik hubungan kami masing-masing dengan ayah kami. Manis hingga Pahit getirnya hubungan tersebut, kami tuliskan dengan niat untuk bisa dibagikan dengan banyak pembaca. Harapan kami, agar tak saja kami mendapatkan solusi atas pernak pernik hubungan kami dengan ayah kami, namun juga pembaca mungkin saja mendapatkan pencerahan atau gambaran yang mirip dengan masalah yang mereka hadapi.


Naskah ini pun kami rembuk bersama. Tulis, baca dan edit bersama. Ini benar-benar kerja keras via online yang tak pendek waktunya. 

Belum lagi perjuangan kami saat menawarkan naskah ini. Tak sekali saja diterima lalu dibatalkan, naskah ini mengalami 2 kali penerimaan rasa suka dari editor penerbit mayor, namun gelengan kelapa dari divisi pemasaran. 

Alasan sederhananya, antologi atau kisah banyak orang dalam satu buku sedang mengalami krisis penjualan. 

Maka, disitulah, naskah cakep ini terombang ambing. Hingga suatu hari mbak Wrini berinisiatif ingin belajar menerbitkan sendiri. Gayungpun kusambut. Kuterima ide mbak Wrini, dan berdua kami memproduseri buku ini, mulai dari memilih siapa pihak yang kami percaya untuk membantu editing dan penerbitannya, hingga urusan mencari cover dan endorsment buku ini. 

Bukan pekerjaan mudah, tapi jika dilakukan dengan hati, menjadi tidak sulit sama sekali. Semuanya berjalan lancar. Tak kurang dari dari 2 minggu, urusan hingga ke lay out dan editingpun berjalan lancar. 

Aku sendiri memilih cover buku berdasarkan foto yang ada, tanpa mengalami kesulitan yang berarti dan tak ada tentangan dari teman-teman kontributor. Foto keponakanku digenggam tangan oleh ayahnya, dengan siluet senja sebagai analogi pergantian waktu, membuatku meminta Sang Adik untuk mengedit foto tersebut dan menjadikannya cover buku kami. 


Foto bareng temen2 anggota writerprenuer.
nampak dummy buku ini sudah kupegang
Singkat cerita, buku tersebut akhirnya terbit. Saat aku dan teman-teman membahas rencana launching bareng dengan teman-teman penulis lainnya, dummy buku ini sudah dibawa oleh mbak Deka, teman yang mengajari aku dan mbak Wrini tentang penulis yang mandiri, layaknya writerpreneur. 


ini penampakan bukunya, saat tiba di rumah dan siap disajikan dimana saja
kapan saja dan dalam kegiatan apa saja :) |
Yang tertarik bahas buku ini, boleh deh kontak aku ya 



 Akhirnya Lauching Juga 

Sabtu, 11 Juni 2016, aku diberikan "Me Time" lagi oleh ayahnya anak-anak. Berangkat dengan taksi menuju SQ Dome, dekat kawasan Lebak Bulus, aku memasuki kawasan tengah gedung. Di sana aku melihat venue untuk eventnya besar. Peserta juga sudah hadir dan sebagian besar penulis yang tergabung dalam Writerprenuer Club pun sudah duduk cantik di kursi.

Ah, akhirnya aku berjumpa lagi dengan mbak Deka, mbak Wrini dan Irma, salah satu kontributor buku yang akan menemani kami berdua duduk manis di atas panggung. 


Bareng mbak Wrini yang lembut hati

Bersama Mbak Deka yang Tak pernah luntur Semangatnya


Foto bareng si Eneng  Irma, si kalem yang produktif menulis

Ini adalah penampakan buku yang dijual saat launcing berlangsung


Bareng Tri Afni dan putrinya
Sahabat SMA ku yang bersedia hadir di acara lauching.
makasih supportnya ya tri..

Sebelum mulai acara, seperti biasa, narsis dulu donk :) 
Foto-foto di atas sudah mewakili banyak cerita yang berlangsung saat launching buku. Aku terus terang senang sekali. Sudah lama rasanya tidak terjun langsung dalam melepaskan sebuah buku karyaku. Ingatan akan masa-masa produktifku menggoda pikiranku. Sesaat aku larut pada nostalgia kegiatan launching buku bertahun lalu. Hiks...

Aku, Irma dan mbak Wrini mendapat kesempatan pertama untuk maju ke panggung. Mbak Deka menjadi moderator acara. Obrolan dan sharingpun dimulai. Pembicaraan dari awal kisah proses kreatif buku ini lahir, hingga isi buku dibahas dengan asyik oleh mbak Deka. 

Bahkan pertanyaan dari salah satu peserta, "mungkinkah berdamai dengan ayah yang sudah menyakiti hati si anak sedemikian rupa?" menjadi hal yang membuatku bahagia. Bukan perihal bahagia ada orang bermasalah dengan ayahnya, bukan itu!. Tapi aku bahagia bahkan terharu, karena niat dituliskannya buku ini tercapai. Aku dan teman-teman berharap, ada pembaca yang menemukan jawaban dari masalah hidupnya melalui buku ini. Pada buku ini, ada tulisan teman yang menunjukkan bahwa berdamai dengan ayah itu mungkin dilakukan. Meskipun si ayah pernah menyakitinya di masa lalu. Proses memaafkan dan berdamai ditulis dengan manis oleh beberapa kontributor buku ini. Salah satunya tulisan Maftuhah.

Kukutip halaman pertama tulisannya di buku ini :
Doa yang Mengancam Maftuhah Mukhtar
 ”Was mich nicht umbringt, macht mich staerker. Segala sesuatu yang tidak membunuh saya, membuat saya menjadi lebih kuat”
Friedrich Nietzsche

Tidak semua orang mampu mengingat detail kenangan masa kecil, kecuali kenangan itu benar-benar membahagiakan, pun sebaliknya, menyakitkan. Tetapi sebenarnya tidak ada yang tidak tersimpan aman dalam alam bawah sadar, termasuk kenangan yang samar-samar. Semua bisa keluar satu persatu melalui mimpi atau bahkan, terbaca dalam perilaku. Kurang lebih itulah sedikit ingatanku tentang teori dalam buku psikologi yang pernah kubaca. Lalu, apa hubungannya dengan catatan ini? Mungkin tidak ada hubungannya sama sekali, sebab, aku tidak akan mengulasnya dengan teori. Aku hanya ingin mengurai kenangan bersama Bapak satu demi satu, namun aku kurang yakin apakah semua bisa teringat? Dibutuhkan usaha ekstra untuk mengingatnya agar runtut. 

Cambuk dan Jumat Spesial
Dua hal yang paling aku ingat saat duduk di TK adalah, ketika aku mewakili sekolah untuk lomba deklamasi puisi, dan kenangan pahit tentang Bapak. 



Saat Launching Buku Berlangsung

Aku pribadi menikmati sekali masa-masa seperti ini. Pertanyaan dari peserta juga menarik. Kami menyiapkan juga hadiah bagi mereka yang bertanya. Reportase kondisi selama launching juga kubagikan via group facebook ke teman-teman kontributor yang tak bisa hadir saat itu. Minimal, rasa lega dan bahagia melahirkan kembali sebuah karya yang menarik, harus kubagikan juga pada teman-teman yang juga berjuang meneteskan air mata saat menuntaskan isi naskah mereka. 


Foto bareng, kelar sharing dan lauching buku Berdamai Dengan Ayah

Buku ini kami produksi dan cetak dengan jumlah yang terbatas. Sejauh ini penjualannya bagus. Karena banyak yang tertarik untuk mengetahui cerita-cerita seputar Ayah, yang tidak saja bercerita hal yang menyenangkan, tapi juga menyedihkan.

Acara launching buku ini juga diliput oleh media lho. Bisa cek deh di MNC Channel. 

Berikut endorsement dari beberapa orang yang telah membaca naskah dalam buku ini : 

1. Kisah-kisah dalam buku ini akan menghangatkan hati dan menyegarkan jiwa Anda. Buku yang penting dibaca buat mereka yang masih mencari kecintaannya pada Bapak dan mereka yang ingin belajar menjadi Bapak sejati. (Bukik Setiawan. Penulis Buku Anak Bukan Kertas Kosong dan Bakat Bukan Takdir).
2. "Apapun bentuknya, bagaimanapun sikapnya, ayah tetaplah seorang ayah, yang akan menyayangi dan mencintai seorang anak dengan segala caranya."
(Iwok Abqary – penulis buku anak Misteri Gua Jepang dan Serial Sahabat Rasul. Juga seorang ayah dari 2 anak.)
3. Menekuri tutur demi tutur 9 penulis, patut kiranya saya sesekali merasa berbesar kepala, seolah sedang digunjingkan dalam konteks yg baik. Ada haru biru, menyusup sesak yg menderu. Betapa tidak, tanpa banyak bunga-bunga diksi buku ini sukses menyelami palung terdalam hati kami, memahami setiap inci naluri ayah yg tak terganti. Ibu memang madrasah bagi anak, tapi sampai kapanpun kami tetap kepala sekolahnya
(Arham Kendari, penulis buku best seller Jakarta Underkompor dan ayah 2 anak)
4. Hubungan atau relasi antara anak dan ayahnya atau sebaliknya antara ayah dan anak memiliki variasi yang tak berhingga. Namun, yang jelas relasi tersebut akan mewarnai perkembangan si anak, sejak dari dalam kandungan sampai dia dewasa dan bahkan mungkin sampai setelah dia menikah. Relasi tersebut mempengaruhi citra diri anak itu dan bagaimana dia membentuk relasi dengan orang-orang di sekitarnya. Antologi tentang ayah ini kiranya menambah contoh konkret bagimana kompleksnya relasi tersebut dan memberikan tambahan tilikan (insight) pada para pembacanya. (dr. Albert Maramis, SpKJ(K) – psikiater)


Buku ini dijual di pasaran secara online. Artinya tidak dijual di toko buku umumnya. Sekedar ngingetin aja nih, rugi rasanya jika tidak terlibat membaca buku ini. Karena sarat pengalaman hidup dan pencerahan kisah yang bisa jadi menjawab solusi bagi masalah teman sekalian. Ada review psikologisnya lo di setiap selesai satu tulisan. Psikolog Nurul Hidayati mengupasnya dari segi teori psikologi  satu persatu di setiap akhir satu kisah. 

Jadi, kapan lagi kalau tidak sekarang, teman-teman mengadopsi antologi kisah nyata yang berkisah tentang relasi ayah dan anak dengan ulasan psikologi?

Yuk, bisa diorder atau dibeli online lho. 

Bisa kontak langsung mbak Wrini, mbak Nurul, juga Fan page Dian Onasis, terus toko Online Teras Terra dan Blog Rumah Jamur Kurcaci. 

Selamat menikmati bacaan bergizi yaaa :) 


Patah Hati Berbuah Domain Diri

Berdiri di samping banner buku " Dan Akupun Berjilbab" yang aku susun.
Isi buku ini berasal dari lomba "Jilbab Pertama"
yang aku gusung di Multiply tahun 2010, terbit 2011 akhir dan best seller di tahun 2012.


Aku sudah lama mengenal blog. Sekitar awal tahun 2004. Sebelumnya cukup rajin menuliskan kisah dan curhatan hati di blog milik (alm) Friendster.

Belajar ngeblog dengan lebih rutin justru di Blogspot, dan kemudian makin intens di Multipy, yang sebentar lagi akan "membunuh diri".

Aku benar-benar patah hati, ketika tahu Multiply tak akan lama bisa dinikmati. Nyaris pertengahan bulan Ramadan tahun 2012, aku menghentikan tulisanku di sana. Sibuk menyimpan file-file dan akhirnya migrasi ke Blogspot lamaku, dan menjajal areal baru di Wordpress.


Tapi aku kehilangan gairah ngeblog.
read more