Apr 27, 2016

Buku Yang Tidak Menarik Itu (mungkin) Perlu Dibaca

Pinjem dari sini 
Apakah teman sekalian sering mengalami seperti yang kulakukan?
Membaca sebuah buku, lalu baru beberapa lembar dibaca, terasa nggak enak, lalu buku itu tergeletak di tumpukan buku lainnya? Atau sebaliknya, mengambil sebuah buku, membacanya, kemudian jadi  lupa sekitar. Sehingga dalam hitungan jam, buku tebal 300 - 400 halaman, sudah tamat terbaca?

Kira-kira apa ya penyebabnya? Bagamana nasib dengan buku yg tidak selesai dibaca tersebut?
Adakah "pelajaran" menarik,  jika dikaikan dengan kebiasaan seperti yang kulakukan?


Aku akan coba membuat beberapa poin penting (menurutku)  :

1. Buku jelek atau membosankan sehingga tak selesai dibaca, mengajari kita akan beberapa hal, seperti, mencari tahu alasan buku itu tidak nyaman dibaca, atau sulit sekali ditamatkan. Kita dapat menemukan, bahwa kemungkinan utama adalah masalah perbedaan selera, judul keren tak sebanding isi. Atau bisa juga terlalu banyak typo. Kemudian logika ceritanya aneh dan lompat-lompat. Juga bisa karena promosi yang gencar tidak sebanding dengan keciamikan isinya. Serta banyak hal lainnya.

2. Buku bagus menurut kita juga tergantung selera, cara penulis menuliskan konflik, plot dan ending. Buatku pribadi... logika cerita juga mempengaruhi. Rasanya aneh jika di bab awal tokohnya melakukan hal A lalu di bab lain dengan jarak yang tak jauh, melakukan hal B. seolah-olah ada yang salah dengan keteranga waktu, lokasi ataupun adegan. Terus terang, aku termasuk yang membeli buku dengan melihat buku sebelumnya dari si pengarang serta review sejumlah orang, plus promosi yang ada. Makanya, kalau bukunya bagus, rasanya lega banget mengeluarkan sejumlah uang untuk kenikmatan baca yang seimbang antara harga dan kepuasan baca. 

Selanjutnya, aku mencoba membuat beberapa simpulan dalam menilai 3 buah buku (yang baru kubaca, ada yang tamat ada yang tidak) untuk dikupas menarik atau tidaknya. 

1. Buku 1, penulis orang bule alias orang asing. Ia sudah biasa nulis best seller fantasi hingga difilmkan. Aku membaca novelnya butuh waktu seminggu untuk tamat.
Alasan pertama, karena waktuku yang kurang. 
Alasan ke dua, plotnya lambaaat sekali. Apalagi mentalku belum siap menerima pola penulisan si penulis yang bisa ditebak isi ceritanya. Tapi aku tamat membacanya dan tertarik untuk mencari dan membaca bukunya yang lain. Penyebab utamanya, karena aku suka tema detektif klasik yang digusung, karakter tokohnya kuat banget, sampai-sampai aku berharap bisa melihat secara visual dalam bentuk film.

2. Buku 2, penulis dalam negeri, buku ke 2 nya, plotnya cepet dan temanya menarik. Aku membacanya dengan rasa ingin tahu yang kuat, tapi juga ngedumel, karena ternyata si penulis menghilangkan banyak adegan detail yang seharusnya muncul, bahkan di halaman lain menuliskan sesuatu detail tapi tak bermakna. Aku kesal. Nyaris kubanting buku itu. Namun, rasa ingin tahuku lebih dominan. Sehingga buku ini akhirnya tamat kubaca. Aku bahkan berharap buku berikutnya lebih baik lagi dalam urusan detail. Mengingat genre misteri yg dipilihnya.

3. Buku ke 3, genre romantis, dengan pilihan kata yang menaik. Tapi aku kecewa. Di buku yg lain dengan genre detektif, si penulis kupuji-puji (penulisnya orang dari dalam negeri) karena keren banget. Karakter tokoh menarik, plot cepat dan menegangkan, berimbang dengan diksi atau pilihan kata yang asyik. Aku menamatkan buku genre detektifnya, hanya dalam waktu 5 jam. Sementara penulis ini juga (penulis yg sama) menulis buku dalam genre romantis, membuatku meletakkan bukunya saat baru baca 2 bab pertama. Aku belum tahu kapan akan menamatkannya.

Demikianlah...

Selera bisa jadi mempengaruhi. Selain itu,  bukan soalan buku jelek atau bagus, tapi apa efek atau impactnya ke pembaca. Ini yang penting!


Pinjem dari sini 

Jadi,  buku yang menurutku tidak menarik sekalipun, itu patut dan perlu juga dibaca. Kita, terutama aku sebagai pembaca yang memiliki profesi penulis, jadi punya referensi tentang kekurangan sebuah buku. Sebanding dengan kelebihan sebuah cerita dalam buku. Untuk apa? Untuk menghindari menulis buku yang tidak menarik serta berusaha membuat buku yang menarik. Harus ada impact atau pengaruh baik bagi pembacanya. 

Paling tidak, dengan sikap bahwa kita belajar dari semua jenis buku, termasuk buku yang jelek sekalipun, dapat membuat kita tetap nyaman dan tak merasa bersalah telah mengeluarkan sejumlah uang untuk buku-buku yang tidak menarik sekalipun. :) 


***

Judul buku dan nama penulis memang tidak kutuliskan. Karena tak berniat mempromosikan buku-buku mereka. Hehehe.... 

Patah Hati Berbuah Domain Diri

Berdiri di samping banner buku " Dan Akupun Berjilbab" yang aku susun.
Isi buku ini berasal dari lomba "Jilbab Pertama"
yang aku gusung di Multiply tahun 2010, terbit 2011 akhir dan best seller di tahun 2012.


Aku sudah lama mengenal blog. Sekitar awal tahun 2004. Sebelumnya cukup rajin menuliskan kisah dan curhatan hati di blog milik (alm) Friendster.

Belajar ngeblog dengan lebih rutin justru di Blogspot, dan kemudian makin intens di Multipy, yang sebentar lagi akan "membunuh diri".

Aku benar-benar patah hati, ketika tahu Multiply tak akan lama bisa dinikmati. Nyaris pertengahan bulan Ramadan tahun 2012, aku menghentikan tulisanku di sana. Sibuk menyimpan file-file dan akhirnya migrasi ke Blogspot lamaku, dan menjajal areal baru di Wordpress.


Tapi aku kehilangan gairah ngeblog.
read more