Dec 26, 2014

Sudah Ngapain Aja Selama Tahun 2014?


Banyak yang tak berhasil kueksekusi di tahun 2014.


Antara lain, niat update jumlah buku yang kubaca di Goodreads gagal. Aku hanya berhasil mencatat di buku saja dan tak ada waktu untuk memindahkannya ke Goodreads. Itupun aku nggak tahu, apakah sampai ditargetku di awal tahun, ingin membaca 35 buku. Perkiraanku sih sampai ya, tapi kebanyakan ya buku anak-anak, pic book, serta beberapa buku dewasa ringan. 


pinjem dari sini 


Aku juga gagal mematuhi niatku untuk tidak mengambil kelas online lagi di tahun 2014. Alasannya, karena tahun 2013 aku sudah ikut banyak sekali kelas online. Logikaku berhitung, harusnya tahun 2014 ini aku gunakan untuk menanam dan panen tulisan. Tapi sialnya, itu tak terwujud. 


pinjem dari sini 

Aku malah jatuh hati pada kelas online gratis, namun juga diaudisi terlebih dahulu oleh owner kelas. Yakni Kelas Penulis Tangguh 3. Gimana gak ngiler, jika beberapa teman yang gabung di sana jadi terpompa semangat menulisnya dan jadi berhasil meloloskan naskah ke beberapa media? Untuk itu, terima kasih yang sangat banyak untuk Hairi Yanti, yang mengenalkanku dengan kelas PT. 


Bermodalkan tekad dan keinginan mengenal mbak Nurhayati  pengasuh Kelas Penulis Tangguh aku mengirimkan naskahku dan mendapatkan tawaran bergabung dari mbak Nur. Senangnya minta ampun. Dan semakin senang, karena meski saat ini masih belum berhasil meloloskan naskah cerpen dewasa ataupun naskah lainnya dari kelas Penulis Tangguh, ke media massa, namun semangat menulisku benar-benar terpompa. 

Sungguh luar biasa kelas itu!

Kegagalan terkait niat "no more" kelas online adalah ketika akhirnya menjelang bulan Desember, aku malah bergabung dengan kelas online menulis WinnerClass yang dimentori oleh Kang Ali Muakhir. Sebetulnya aku sudah tergabung dalam alumni kelas winner. Tapi aku belum pernah diajari langsung oleh Kang Ali. Maka bersama puluhan teman penulis lainnya, aku mengikuti kelas ini. Dan berhasil menulis draft 3 cerpen anak dengan 3 genre. Saat ini masih belum aku eksekusi. Tapi in sha Allah segera. 

Terakhir, aku mengalahkan egoku, bergabung ke kelas Kurcaci Posnya milik mas Bambang Irwanto. Tergabung di kelas Kurcaci #7, aku jadi tahu kelemahanku saat menulis cernak untuk media. Yakni kebiasaan menulis novel masih sering kebawa,  alur yang kurang berliku, kemudian masih kurang rajin mengefektifkan kalimat. Senangnya, ketika di pertemuan online ke 4, aku berhasil mengalahkan semua itu. Tulisan cernakku sudah tidak berbau novel lagi, alurnya lebih berliku dan kalimatnya sudah semakin efektif. Sepertinya latihan dan semangat menulis yang sering bisa membuatku kembali nyaman menulis cerita anak.

Oh iya, dua kelas online terakhir, berbayar. Sehingga kuhitung-hitung, aku harus bisa menulis lebih banyak, agar modal yang kukeluarkan dari kelas berbayar tersebut, bisa kembali dan memberikan untung. amin. 


Aku juga gagal menulis 100 cerita anak di tahun 2014 ini. Sejauh ini aku hanya berhasil menulis 20-30an cerita anak, yang dikirim ke media dan lomba. Sungguh jauh dari target. Itu rasanya menyakitkan namun harus dihadapi. Aku tak mau menuliskan alasannya. Karena kalau kutulis, itu sama saja dengan mencari kambing hitam dari ketidakberhasilanku mewujudkan resolusiku tahun 2014 awal kemaren. 


PInjam dari sini 


Ah bicara kegagalan lain, aku juga tak berhasil menang di lomba menulis Nusantara Bertutur, juga Eye Level 2014. Meski aku juga senang, banyak teman-teman baikku yang justru lolos di lomba tersebut. Dan berdasarkan yang kubaca, dari cara mereka menulis, kelihatan usahaku kurang kuat dan kurang bagus. Jadi kalau sampai gagal, bukan karena tidak bagus, tapi karena kurang maksimal naskah itu kubuat. Harusnya aku lebih serius, lebih fokus, dan lebih mempelajari serta menerima masukan dari teman-teman mengenai cerita anak. 

Satu hal yang membuatku juga malu sekali, yakni gagal mengeksekusi banyak draft novel anak yang ada di file, di mind map serta di otakku. Sungguh, sebagai seorang penulis yang sudah mengazzamkan diri sebagai penulis novel anak, tidak menulis satu naskahpun di tahun 2014 ini adalah hal yang memalukan. Aku malah mengerjakan sebuah kumpulan cerita, yang baru selesai 80 persen. Dan lagi-lagi belum berhasil menyelesaikannya di akhir tahun 2014 ini. #tutupmuka. 

Baiklah...

Tarik napas... Hela napas...

Mengapa jadi merasa gagal ya di tahun 2014? 


Seharusnya ada hal positif yang juga terjadikan? :) 

Bukankah, ada 2 buku antologimu bersama teman-teman lain,  yang terbit tahun ini? 


Bareng PJ Gita Lovusa dan Dian Mardi

Bareng Komunitas Fiksiana dan Penerbit Dar!Mizan
Ah, iya.. harusnya aku bersyukur untuk dua buku ini. Minimal mengingatkan aku pada dua hal. Yakni menginjakan kaki ke bumi agar lebih kuat lagi mengaplikasikan keinginan menulis, serta menaikkan niat serta mimpi setinggi langit, agar bisa menghasilkan banyak karya lagi. 

Aku juga tidak akan lupa bersyukur, atas naskahku yang masuk 10 naskah pilihan lomba cernak Guri, Juara 2 lomba cernak SCBWI Indonesia bahkan lomba foto bareng buku Anisa W di FB dan Twitter, sehingga menerima hadiah voucer, sertifikat dan buku-buku kudapatkan. 

foto kak Billa yang memenangkan 2 lomba foto bareng buku di FB dan Twitter


Tahun ini, aku juga belajar menulis cerita pendek dewasa. Sesuatu yang tak pernah berani kulakukan di tahun-tahun lalu. Aku keluar dari zona nyamanku. Aku berhasil lolos di audisi kumcer milik Dydie Dyah, dan proyek itu masih berjalan. Juga memberanikan diri mengirim naskah cerpen dewasa ke majalah F, meski belum lolos, serta terlibat dalam proyek milik mbak Deka, yakni kumcer dewasa bersama komunitas WSC. 

Aku bahkan tak mengira, dipercaya untuk ikut menjadi juri lomba Flash Fiction bareng WSC (dalam rangka mengembalikan semangat menulis pasca pilpres...:D ), kemudian menjadi PJ kumcer Paberland, dalam rangka menyambut 20.000 anggota komunitas PBA, serta diminta menjadi PJ kumcer dewasa bersama mbak Deka dan Carra (dua orang yang mumpuni di dunia menulis cerpen dewasa). Meski sempat gugup, karena ini berada di luar zona nyamanku, tapikuusahakan untuk menuntaskan tanggung jawab tersebut hingga selesai. 

Terkait dengan PJ Kumcer Paberland, hikmah yang paling kudapat adalah bisa kenalan banyak illustrator anak, kemudian mengenal lebih dalam lagi terhadap PJ-PJ lainnya 
* Dadah-dadah pada Kang Iwok, Mas Baim, Kak Sinyo Egi, Oma Tuti, Nelfi dan Dydie. 

Serta mendapat kejutan "nggak indah pake banget" terkait "pertemanan" yang sempat kuposting sedikit curcolnya di blogku yang satu lagi. Berjudul Jangan Kegeeran! :D 

Aih sudahlah...lupakan hal yang paling gak enak itu. 

Aku ingin mengingat kebahagian-kebahagian kecil yang kudapat di tahun 2014 saja!


Seperti cernakku lolos lagi di majalah bobo no 18 tahun 2014. Sungguh menjadi pelipur lara ketika mengira tak kuat lagi mengatur waktu menulis, sebagai ibu rumah tangga, dengan 2 anak super aktif.
Kemudian, tulisanku dan tulisan Billa ada yang muncul di www.serusetiapsaat.com. Yakni sebuah pic book bertema ramadan. Sementara tulisan kak Billa berupa picbook karyanya sendiri juga mejeng di website khusus e-book gratisan tersebut. Tema tulisan kami berdua juga berhasil menang kuis di website tersebut. Kuis melanjutkan kisah si Bintik.  Saat ini, aku dan Billa menanti kehadiran pic book karya kami tersebut.  Apalagi akan diilustrasi sendiri oleh Mbak Ratna. 

Aku juga sempat berbagi pengalaman di group WSC tentang bedah novel The Cousins. 

doain ya... aku dapat lampu hijau untuk lanjutannya. 

Diberikan juga kepercayaan oleh group Be A Writer, untuk berbagi pengalaman menulis di depok dan juga oleh group WSC berbagi pengalaman menulis di FX Senayan


Bareng Bawers

sharing @ fx senayan

Dan di antara segenap kegagalan yang kurasakan dan kebaikan yang kudapatkan di tahun 2014, ada hal-hal yang membuatku semakin belajar memperbaiki diri termasuk mental pribadi serta niat menulisku. 


Aku juga bisa bertemu beberapa teman baru,  yang selama ini hanya kukenal lewat dunia maya, serta memiliki mentor-mentor yang humble, mengajak ke kebaikan serta meluruskan niatku menulis. 

Bareng Cici Tanti dan Mbak Deka yang berkunjung ke rumah kontrakan. 

ketemu penulis dari Bawers

Jumpa mbak Anna lagi, kali ini dengan semangat menulisnya!

meet Pedas Community Founder. Mbak Icha

Teman di Fb :) 


Allah Maha Baik. Alhamdulillah. 


Berikutnya, saat ini aku menyicil dan berusaha menunaikan beberapa resolusiku di tahun 2015. Semoga Allah berkahi, beri kesehatan yang maksimal, kebaikan utk anak-anakku serta kemudahan menjalankan semuanya. 

Aku, melalui fanpageku DIAN ONASIS  sudah mengaudisi beberapa teman untuk bergabung di kelas PERMEN, yakni kelas online tentang program menulis novel anak. Di kelas ini, aku dan 4 orang teman yang kupilih, akan bersama-sama belajar dari pengalamanku menulis novel anak, serta sama-sama memberikan semangat satu sama lain, agar mampu menyelesaikan 1 novel anak dalam waktu 8 minggu. In sha Allah, Permen #1 mulai dilaksanakan tanggal 5 Januari 2015 nanti.

Aku juga berusaha menuntaskan, beberapa proyek yang sudah kukerjakan di akhir tahun ini, yakni proyek pribadiku, kemudian proyek bareng temen-temen di Alumni Bingiers (group rahasia di  FB), serta proyek bersama mentorku dan teman di komunitas. 

Terakhir, yang ingin betul-betul bisa kuperbaiki di tahun 2015 ini adalah kemampuanku mengatur waktu. Sebagai hamba Allah (ini masih jauh dari maksimal, tapi mudah-mudahan tahun 2015 dapat terwujud keinginanku). Sebagai istri dan ibu dari keluarga kecilku, yang sungguh setahun ini lumayan menyita waktuku dalam hal beradaptasi (urusan rumah kontrakan, rumah direnovasi, kesehatan anak-anak, adaptasi dengan perubahan jadwal kerja suami dan semuanya berefek pada produktifitas menulisku yang menurun). 

Well, Goodbye 2014
Welcome 2015. 

Oh iya.. tahun baru akan kumulai dengan kacamata plusku yang nambah :( Jadi  plus 1 1/4 sekarang. Padahal di usia yang kurang lebih sama, mamaku dulu hanya plus 1/2.
Oh God! Satu kenikmatan sudah berkurang, berikut usiaku. Hiks...

Astagrfirullah.... 









Patah Hati Berbuah Domain Diri

Berdiri di samping banner buku " Dan Akupun Berjilbab" yang aku susun.
Isi buku ini berasal dari lomba "Jilbab Pertama"
yang aku gusung di Multiply tahun 2010, terbit 2011 akhir dan best seller di tahun 2012.


Aku sudah lama mengenal blog. Sekitar awal tahun 2004. Sebelumnya cukup rajin menuliskan kisah dan curhatan hati di blog milik (alm) Friendster.

Belajar ngeblog dengan lebih rutin justru di Blogspot, dan kemudian makin intens di Multipy, yang sebentar lagi akan "membunuh diri".

Aku benar-benar patah hati, ketika tahu Multiply tak akan lama bisa dinikmati. Nyaris pertengahan bulan Ramadan tahun 2012, aku menghentikan tulisanku di sana. Sibuk menyimpan file-file dan akhirnya migrasi ke Blogspot lamaku, dan menjajal areal baru di Wordpress.


Tapi aku kehilangan gairah ngeblog.
read more