Nov 8, 2014

[Sharing Kepenulisan] Bicara Tentang Tips Menulis Cerita Anak

Jadwal kegiatan satu minggi WSC. Jadwalku ada di balon hijau 


Aku baru bergabung di komunitas Women Script Community, mungkin belum satu tahun. Keterlibatanku dalam komunitas ini, karena diajak Cici Tanti Amelia, salah seorang teman yang kreatif, dalam salah satu kelas online cerita anak di facebook. 

Kemudian, aku berkenalan dengan mbak Deka Amalia, founder dari komunitas tersebut. 

Singkat cerita, dua minggu di akhir bulan Oktober, Mbak Deka menawarkanku untuk mengisi acara di FX Jakarta. Semula direncanakan pada tanggal 7 November, lalu diganti menjadi tanggal 1 November 2014. Ternyata WSC masuk dalam bagian kegiatan Moms and Kids Day Out selama seminggu di sana. 

Awalnya aku ragu, karena aku tak yakin bisa meninggalkan anak-anak di rumah, tanpa ada ayah mereka. Nah, setelah dikonfirm, tanggal 1 November itu, menurut jadwal sih, Ayah anak-anak ada di rumah. Aku cukup tenang dong...:) Tapi tak dinyana, jadwal si Ayah berubah. Dia terpaksa berangkat ke offshore, karena ada proyek yang harus diawasi. 

Weleh-weleh, pamflet udah disebar. Aku juga udah promosi kemana-mana kalau akan ada kegiatan sharing kepenulisan, seputar cerita anak bersama komunitas WSC. 

Akhirnya, kucoba menanyakan hal tersebut ke Lilis, asisten rumah tanggaku yang datang ke rumah setiap hari selama 2-3 jam saja. Alhamdulillah, dia mau menjaga anak-anakku, dari siang hingga aku pulang. Duuuh, lega. 

Akhirnya, tanggal 1 November 2014, dengan taksi, -yang telah 45 menit dari jadwalnya- aku berangkat ke FX Senayan. Senang berjumpa beberapa teman yang sudah kukenal. Bahkan ada mbak Anna yang datang bersama temannya. Juga ada Cici Tanti dan Mbak Icha dan beberapa ibu-ibu lainnya dari komunitas WSC, yang kebetulan setelah kegiatan sharingku tersebut, akan juga melangsungkan kegiatan launching buku antologi komunitas WSC yang terbaru, yang berjudul "Bersandarlah Pada Allah Semata". 
Launching buku Bersandarlah Pada Allah Semata, setelah kegiatan sharing 

Dalam sharing tersebut, aku berbagi tips menulis cerita anak, berdasarkan ilmu yang kudapat dari banyak mentor online dan offline kelas selama ini, serta pengalaman pribadi. Aku menggunakan cerita anak karyaku yang berjudul "Atta dan Lisbet" -yg menang juara 2 di lomba cernak SCBWI tahun ini- sebagai contoh pembuatan cerita anak. 
Foto diambil dari FB Nina Kirana

Dalam kegiatan ini, kuberbagi, bahwa ada 5 hal penting yang harus ada dalam menulis cerita anak.  Yakni : 

1. Ide dan Tema cerita. 

Pada prinsipinya, ide cerita bisa didapat dari mana saja. Pengalaman pribadi, tingkah pola anak-anak kita atau anak-anak lain, kegiatan di sekolah dasar, lokasi satu tempat dan juga buku yang kita baca. 

Sementara tema cerita yang merupakan kerangka dasar cerita, bisa kita bentuk, setelah ide cerita muncul. Tema adalah pesan besar yang akan kita bawa dalam sebuah cerita. 

Kucontohkan bahwa, ide cerita Atta dan Lisbet kudapat dari seringnya aku mengantar anakku terapi ke tempat terapi anak berkebutuhan khusus. Nah dari tempat terapi itu aku menemukan ide, tentang anak laki-laki yang akan mendaftar ke satu tempat terapi. Namun, aku ingin cerita tersebut unik dan beda. Sampai sini, aku baru menetapkan ide utama cerita saja. 


Berbagai media bisa digunakan, salah satunya youtube. *gambar dari pinterest.com

Menggali ide sendiri dapat dilakukan dengan membaca buku, mencari informasi di internet, juga menggunakan youtube. Gunakan kata kunci yang tepat, terkait ide, sehingga mendapatkan info yang akurat serta sesuai fakta. 

Terus terang, aku bukan tipe orang yang langsung bisa menulis. Nyaris setiap ide cerita anak yang muncul, harus kuolah sedemikian rupa dulu, agar menjadi tulisan cernak yang menarik. Sebagai penulis yang otodidak dan berangkat dari langsung praktek menulis, serta baru belajar teori setelah setahun menulis, aku masih menemukan banyak celah yang harus kupelajari, terkait menggali ide-ide kecil menjadi sebuah cerita besar. Seperti yang dilakukan para mentor menulisku. 

2. Tokoh dan Karakter. 

Umumnya tokoh (pemeran utama cerita) dalam sebuah cerita anak, tidak banyak. rata-rata 2-3 tokoh saja. Bisa protogonis dua-duanya, atau satu protogonis dan lainnya antagonis. Mengingat ini adalah untuk keperluan cerita pendek, maka tokoh dalam cerpen anak-anak tidak perlu banyak. Dan anak-anak sendiri menyukai tokoh yang sedikit, agar tak kesulitan dalam mengingat nama tokoh. 

Karakter adalah sikap dan sifat yang dimiliki oleh si Tokoh. 


aneka karakter anak. *gambar dari pinterest.com 


Dalam cerpen "Atta dan Lisbet", aku mendapatkan ide karakternya dari teman putriku. Seorang anak laki-laki bernama Atta yang sangat aktif. Namun karakter aktifnya tidak kupakai. Kugunakan keterangan fisiknya saja untuk menggambarkan karakter fisik. Sementara untuk karakter sifat, kubuat versiku sendiri, bahwa Atta adalah pendiam, memiliki sifat indigo dan mempunyai teman imagi. Lalu ada tokoh Lisbet, yang diakhir cerita, kuceritakan sebagai teman imagi dari Atta. Lisbet kugambarkan sebagai anak perempuan berambut panjang, pirang dan bermata biru. Lisbet ini yang kutonjolkan sebagai tokoh yang usil dan jenaka. 

Proses pembentukan karakter dalam cerpen anak lebih ringkas, tidak serumit pembuatan karakter novel anak, yang membutuhkan detail lebih banyak. Hal ini sesuai dengan panjangnya cerita yang akan digarap, jika menulis novel.

3.  Konflik. 

Dalam cerpen anak, akan lebih baik kita memilih konflik yang sederhana. Yang sering terjadi di sekitar kita. Untuk penulisan konflik sendir, bisa langsung ditulis di awal cerita, atau di tengah cerita, bahkan, di akhir cerita. 

Untuk cerpen "Atta dan Lisbet", aku mengangkat ide yang terkait anak berkebutuhan khusus. Aku baru memunculkan konflik anak dikaitkan dengan hubungannya dengan sang ibu, justru menjelang akhir cerpen. Di awal cerita aku lebih fokus pada karakter tokoh. 

Hal yang menyedihkan sering dijadikan ide untuk konflik cerita, namun hal yang menyenangkan pun dapat juga dijadikan konflik. 

4.  Alur Cerita dan Plot. 

Alur cerita merupakan salah satu bagian yang penting dalam sebuah cerita. Untuk cerpen anak, baiknya kita menggunakan alur maju atau alur sederhana. Meski tidak menutup kemungkinan untuk cerita yang ditargetkan dibaca oleh anak usia 10 tahun ke atas, dapat juga menggunakan alur kilas balik. 

Untuk plotnya sendiri, juga demikian. Gunakan plot yang sederhana. Plot sendiri merupakan hubungan satu adegan ke adegan berikutnya yang memiliki hubungan sebab akibat. Umumnya plot lebih kelihatan dalam sebuah novel. 

Alur yang sederhana pada cerpen anak, umumnya hanya memiliki tiga tahapan, yakni pembukaan cerita, inti cerita dan akhir cerita. 

5. Setting 

Untuk pemilihan setting yang menjadi latar cerita, dapat digunakan lokasi, lingkungan dan waktu adegan terjadi. Setting ini penting, karena bisa menentukan sebuah naskah cerpen diterima oleh satu majalah atau media atau tim panitia lomba atau tidak. Karena, beberapa media menyukai setting yang mengandung muatan lokal. Atau disesuaikan dengan tema lomba, bisa setting luar negeri, ataupun futuristik. 

Pemilihan setting yang tepat, dapat menambah nilai cerita, misalnya pemilihan lokasi cerpen di tempat terapi anak, (seperti cerpen "Atta dan Lisbet"), hal ini dapat memberikan gambaran bagi pembaca mengenai kondisi sebuah tempat terapi anak berkebutuhan khusus. 


Contoh setting lainnya adalah kawasan pemakaman, adegan ngaben, lokasi penjualan ikan cue, kawasan pemburu ikan paus, dan banyak lagi. 

6. Eksekusi Cerita. 






Ada beberapa point yang perlu diperhatikan ketika mulai mengeksekusi cerita anak. Antara lain : 

a. Biasakan untuk tahu target pembaca. Usia berapa anak yang ditargetkan membaca tulisan cerpen atau novel kita. Hal ini penting, agar tulisan atau pesan yang ditulis dalam cerpen itu sampai dan terbaca oleh para pembaca kita. Jika menulis untuk majalah, pastikan majalah tersebut dipelajari. Misalnya untuk majalah Bobo usia pembacanya adalah 6 - 12 tahun. Sementara untuk majalah Girl, usia pembacanya 10 - 14 tahun. dan seterusnya. 

b. Gunakan bahasa yang menganak. Yakni bahasa yang tertulis dalam kalimat yang sederhana, lugas dan tidak bertele-tele. Misalnya 1 kalimat hanya terdiri dari 6 - 10 kata saja. Hindari kalimat yang bersayap. Ini terkait dengan kemampuan baca anak itu sendiri. 

c. Hindari penggunaan kata-kata kasar, jorok/porni dan terlalu menggurui (menggunakan mulut orang dewasa untuk menyelesaikan konflik). 

d. Upayakan agar pesan moral disampaikan sehalus mungkin. Biarkan anak yang menyimpulkan hasil bacaannya, setelah ia selesai membaca. Anak-anak pada dasarnya adalah mahluk cerdas. Mereka memiliki logika berpikir yang masih murni dan suka mencerna tulisan yang dibaca. 

e. Pilih judul cerita yang menarik. Hal ini masih PR besar juga untukku, karena sering sulit menemukan judul yang menurutkan menarik perhatian anak-anak. Beberapa judul cerpenku yang berhasil masuk naskah terbaik, diantaranya Teka Teki Telapak Tangan, Rahasia Rumah Reyot, Sabut Kelapa Ajaib, kemudian Atta dan Lisbet. Sepertinya pemilihan judul yang menarik perhatian adalah yang mengundang penasaran dari pembaca anak. 


contoh judul : Rahasia Rumah Reyot


f. Dalam memulai cerita, bisa menggunakan beberapa cara. Misalnya dengan menggunakan dialog di awal cerita, atau bisa juga dengan adegan yang menarik perhatian, atau memunculkan konflik di awal cerita. 

Beberapa contohnya dapat aku kutip dari beberapa cerpen anakku, antara lain : 

- Contoh memulai cerita dengan menggunakan dialog :

"Bu, Yuk Nurul sudah lewat, belum?" Kata Icha, gadis kecil berusia 7 tahun, dengan rambut hitam legam, berkucir satu. Icha mengeluarkan kepalanya melalui jendela kamar. Ia memperhatikan Sungai Musi yang mengalir di bawah rumah.  

(cerpen "Kertas Surat Warna-Warni" - Majalah Bobo no 18 / 2014) 


Majalah Bobo no 18/2014


- Contoh memulai cerita dengan konflik di awal cerita :

Langit sore begitu gelap. Geo memandang ke arah langit. Raut wajahnya terlihat khawatir sekaligus kesal. 

(Kumcer Hantu Siul. Judul : Sabut Kelapa Ajaib. DAr Mizan - Fiksiana : 2014) 


Sabut Kelapa Ajaib


- Contoh memulai cerita dengan adegan yang menarik perhatian : 

Perhatian Atta tertuju pada anak laki-laki di hadapannya. Jemari anak seusianya itu memutar roda mobil-mobilan berwarna merah. Tanpa henti. 

(Cerpen Atta dan Lisbet. Pemenang ke 2 Lomba Cernak SCBWI - Indonesia : 2014)  


Dan pada akhir session berbagi tersebut, kutekankan agar teruslah membaca, menulis dan kembali menulis, lalu belajar mengedit serta merevisi tulisan. Jangan pernah bosan.


gambar pinjem dari pinterest.com 


Pada sesi tanya jawab, aku surprise juga karena meski pesertanya tidak terlalu banyak, namun pertanyaan yang diajukan terpaksa dibatasi, karena sebetulnya, aku sudah mengambil sedikit jatah waktu bagi komunitas WSC untuk launching buku baru (maaf ya mbak Deka... hehehe). 

Beberapa pertanyaan tersebut, antara lain :

1. Bagaimana cara membangun semangat menulis cerita anak, jika anak-anak yang selama ini jadi sumber inspirasi, sudah pada besar ? 

Kujawab : Bisa dengan membangun kondisi dunia anak melalui bacaan. Kucontohkan salah seorang penulis senior (sekaligus mentorku), yang ketika hendak menulis cerita romantis, maka ia membeli buku atau novel bertema sejenis dan membacanya, hingga full otaknya oleh nuansa romantis. Cara yang sama bisa digunakan. Misalnya kita beli buku atau novel bergenre anak-anak, atau bisa juga dengan membeli banyak kumpulan cerita dalam dan luar negeri. Kita bisa mendapatkan ide baru dari sana, atau mentwist isi ceritanya. Jadi membangun kondisi menulisnya dengan membaca banyak cerita anak dalam satu waktu. In sha Allah bisa membuat semangat menulis cerita anak tetap konsisten. 


Pertanyaan ini diajukan oleh temanku. Mbak Anna. 


2. Bagaimana caranya agar tidak lupa dengan karakter tokohm, karena terkadang si penulis (penanya) suka tanpa disengaja memasukkan karakter diri ke dalam karakter tokoh cerita, sehingga terpaksa dibuka lagi tulisan di bab atau bagian sebelumnya, untuk memastikan  karakter tokoh tersebut? 

Untuk hal seperti ini, terutama terkait cerpen, tidak sulit, karena pendeknya cerita, tidak mengharuskan si penulis lupa akan karakter tokoh, namun untuk cerita dalam novel, penting sekali untuk membuat mind map atau list karakter tokoh dalam kertas atau file tersendiri. Penulisan karakter secara lengkap di kertas atau file khusus, tidak saja membantu penulis untuk mengingat karakter tokoh, namun juga membantu menghindari writer's block. Bahkan bisa membantu memunculkan konflik-konflik kecil untuk memperkaya tulisan. 


3. Sebagai orang yang bekerja di PAUD, sangat inign menulis cerita untuk anak-anak PAUD. Namun bagaimana cara atau tips menulisnya, termasuk bagaimana mengatur waktu menulisnya. 

Terus terang, hingga detik aku membagi pengalamanku, aku belum pernah menulis cerita dengan target pembaca usia PAUD (2 - 5 tahun). Hal ini karena aku merasa kesulitan membuat satu cerita dengan sistem satu gambar satu kalimat. Usia PAUD membuat penulis harus ekstra kerja keras, karena di fase ini visualisasi atau gambar jauh lebih menarik daripada kata-kata (audiotory). Sehingga, sebuah cerita pendek harus diedit sedemikian rupa sehingga menjadi satu kalimat. 

Ada tips dari salah satu mentorku dalam membuat pic book atau buku cerita bergambar, yakni, buatlah dulu satu cerpen utuh, lalu bagi menjadi beberapa bagian (sesuai dengan jumlah halaman atau versi pic book yang akan dibuat), lalu beberapa bagian kalimat itu, diedit sedemikian rupa menjadi satu kalimat untuk satu adegan atau satu bagian. Mungkin untuk lebih detail, bisa dicari di internet beberapa tips dari penulis yang biasa menulis pic book untuk PAUD. 

Sedangkan terkait managemet waktu, maka kuberikan tips menurut caraku, yakni dengan selalu membawa alat tulis kemanapun pergi. Atau bagi yang menyukai cara mengetik pakai gadget itu juga bisa. Karena sebagai perempuan pekerja dan juga ibu rumah tangga, umumnya, kesulitan untuk duduk manis dan dalam waktu lama guna menulis cerpen. Namun semuanya bisa disiasati, sesuai kemampuan fisik, waktu dan niat menulis yang besar. 

4. Seberapa penting sih ikutan kelas online? 

Bagi penulis otodidak sepertiku, yang menulis dulu baru belajar teori, maka mengikuti kelas online adalah sangat penting. Dan yang terpenting lagi adalah memilih kelas online yang tepat, agar tidak keblinger karena ikut banyak kelas online, bisa juga membuat seorang penulis pemula malah semakin jenuh dan akhirnya malah tidak menulis sama sekali. Dari awal niat menulis, aku memang fokus pada cerita anak. 


Sehingga rata-rata kelas online yang kupilih adalah kelas online cerita anak. Kucari juga kelas online dengan mentor yang mumpuni, yang karya-karyanya sering kubaca serta masih terus produktif menulis. Hindari juga mengikuti kelas online, yang mentornya sendiri tidak produktif menulis, serta terlalu banyak peserta. Karena akan menyulitkan kita untuk menerima ilmu menulis secara fokus, kecuali kita sudah terbiasa mengikuti kelas online. 

Yang pasti, tentukan terlebih dahulu, keinginan menulisnya ke arah mana, lalu pilih kelas online (berbayar atau tidak) yang diajar oleh mentor yang produktif, serta pastikan memiliki waktu untuk mengikuti kelas tersebut, sehingga tidak mubazir dana yang sudah dikeluarkan.


Pertanyaan ini diajukan oleh Fatika (sebelah kiriku) 


5. Seberapa perlu menggunakan KBBI dalam menulis cerpen anak?
Terus terang, sebagai penulis otodidak, di awal menulis, aku jarang menggunakan KBBI. Namun seiringnya waktu, aku belajar untuk menulis yang diikuti dengan teori ERR, (edit, revisi dan rewrite). Dan untuk mendukung cara ini, kugunakan KBBI. Jadi kalau ditanya perlu atau tidak, jika ingin menjadi penulis yang baik, tentu perlu menggunakan KBBI. 

6. Apakah menulis cerita dengan satu tokoh saja namun berbeda cerita, lalu dimasukkan dalam satu buku, sudah termasuk novel? 

Menurut pengalaman pribadiku, hal seperti ini lebih masuk ke kumpulan cerita. Karena novel sendiri biasanya memiliki banyak tokoh dan karakter, plot (alur cerita yang memiliki sebab akibat), banyak bab serta memiliki awal, tengah dan akhir cerita yang berkesinambungan. 


Demikianlah, sebagian pertanyaan yang diajukan. Jawabanku dalam tulisan ini sudah kurevisi. Namun jawabanku tak kurang lebih sama point utamanya dengan tulisan di atas. 

Setelah nyaris sejam lebih (kurang tahu juga, yang pasti aku mengambil sedikit waktu launching buku WSC :) ) Akhirnya aku memberikan dua buah buku karyaku, The Cousins, kepada dua penanya yang kuanggap menarik. 





Selesai sudah tugasku, dan akupun mengikuti kegiatan berikutnya, yakni launching buku komunitas WSC bersama teman-teman dari komunitas tersebut. 


Foto diambli dari FB mbak Deka 


Makasih ya WSC dan makasih mbak Deka atas kepercayaannya mengajakku berbagi ilmu menulis. 

Semoga tulisan ini memberi banyak manfaat. :) 

Oh, iya. Sebelum lupa. Reportase kegiatan ini juga ditulis mbak Elisa Koraag (Mbak Icha) dalam blognya, berjudul "Tips Menulis Cerita Anak Dari Dian Onasis".  Makasih liputasnnya  ya Mbak Icha... Aku sempat berfoto berdua mbak Icha yang juga founder komunitas PEDAS ini. 


bareng mbak icha 



#Seminggu setelah sharing, berhasil menulis di blog lagi, itu rasanya menyenangkan sekali. :) *masih harus cari link2 blognya mbak Deka nih! :) 



Patah Hati Berbuah Domain Diri

Berdiri di samping banner buku " Dan Akupun Berjilbab" yang aku susun.
Isi buku ini berasal dari lomba "Jilbab Pertama"
yang aku gusung di Multiply tahun 2010, terbit 2011 akhir dan best seller di tahun 2012.


Aku sudah lama mengenal blog. Sekitar awal tahun 2004. Sebelumnya cukup rajin menuliskan kisah dan curhatan hati di blog milik (alm) Friendster.

Belajar ngeblog dengan lebih rutin justru di Blogspot, dan kemudian makin intens di Multipy, yang sebentar lagi akan "membunuh diri".

Aku benar-benar patah hati, ketika tahu Multiply tak akan lama bisa dinikmati. Nyaris pertengahan bulan Ramadan tahun 2012, aku menghentikan tulisanku di sana. Sibuk menyimpan file-file dan akhirnya migrasi ke Blogspot lamaku, dan menjajal areal baru di Wordpress.


Tapi aku kehilangan gairah ngeblog.
read more