Nov 19, 2013

[CERPEN GURITA] Guri si "Pembaca" Cuaca





By Dian Onasis


          Mendung memeluk langit. Kawasan Teluk Qoridra ikut menggelap. Guri memandang ke angkasa. Tangannya, atau lebih tepat, tentakelnya yang berjumlah delapan, bergerak ke sana ke mari memastikan semua peralatan di dekatnya, berjalan dengan baik.

          “Hai, Paman Guri!” sapa suara kecil dari arah jendela.

          Guri segera tahu, siapa yang datang. Wajah mungil milik Camira, si burung camar muda yang sering mampir ke kantornya, terlihat tersenyum cerah.

          “Hai, Camira. Lupa dengan sopan santun bertamu lagi?” sindir Guri sambil pura-pura memasang wajah galak.

Wajah manis Camira langsung memerah. Sering sekali, Camira masuk melalui jendela. Meski sudah diingatkan oleh Guri untuk menggunakan pintu dan belajar mengetuk dulu sebelum masuk, namun Camira selalu lupa. Buru-buru, Camira berputar, terbang dan berdiri di depan pintu. Ia lalu mengetuk pintu secara perlahan dengan paruhnya.

          “Silahkan masuk,” jawab Guri sambil menahan geli.

          “Maaf ya Paman, aku lupa kalau datang bertamu, harus masuk lewat pintu depan, bukan jendela. Habisnya, jendela kantor Paman selalu terbuka, dan seperti mengundangku untuk segera masuk,” dalih Camira dengan lirih. Ia terlihat khawatir, kalau Guri akan marah. Namun, wajah Camira segera cerah kembali, ketika dilihatnya senyum menghias wajah Guri.

          Guri melanjutkan kegiatannya. Camira mendekat perlahan, sambil memperhatikan gerakan tentakel Guri. Tentakel yang satu sedang asyik mencatat, beberapa lainnya mengutak atik beberapa tombol. Ada juga satu tentakel sedang memastikan sebuah alat berada di posisi yang tepat. Lucunya, ada satu yang memegang secangkir kopi yang masih mengepul.

          “Waaah, Paman benar-benar sedang sibuk.” Camira memperhatikan Guri lebih dekat. Guri mengangguk, dan dari ujung matanya, Guri meminta Camira melihat ke arah Selatan. Langit terlihat semakin menghitam.

          “Astaga, ternyata itu yang membuat Paman sibuk? Mengapa langit itu menghitam? Apakah akan datang badai?” suara Camira terlihat cemas. Ia paling tidak suka badai.

          “Sepertinya begitu. Aku sedang memastikan semuanya dalam kondisi baik-baik, atau minimal sudah tahu keadaan dan cuaca yang datang,” jelas Guri.

          Guri melirik kembali ke arah langit. Angin mulai terasa lebih kencang dari biasanya. Tentakelnya semakin sibuk mengutak-atik beberapa alat. Guri sudah tak memegang kopi lagi, karena sudah masuk ke dalam perutnya yang berwarna pucat.

          “Bagaimana kita bisa tahu kalau benar-benar akan datang badai, Paman? Bukankah dulu pernah seperti akan badai, tapi ternyata hanya segumpalan awan hitam yang lewat?” tanya Camira.

          Guri tersenyum. Empat dari delapan tentakelnya sudah tak terlalu sibuk lagi.

          “Kita bisa membacanya cuaca melalui alat-alat ini.” Guri menunjuk beberapa benda di  dekatnya. “Yang ini adalah Termometer, sebagai alat yang mengukur suhu udara. Dengan ini kita tahu suhu udara makin mendingin atau memanas. Jika badai mau datang, umumnya suhu udara lebih dingin.” Kata Guri menunjuk sebuah benda yang menempel di dinding kantornya. 
termometer 

      Camira memandang benda kecil, yang bagian bawahnya agak bulat menggelembung. Terdapat banyak angka di badan benda itu.

Hidrometer

“Nah, kalau yang ini Hidrometer, alat pengukur kelembaban udara. Ini sama pentingnya dengan Termometer. Kita juga butuh Anemometer dan Wind Vane,” kata Guri sambil menunjuk tiga alat lainnya. Camira memperhatikan satu demi satu benda itu. Ada yang mirip Termometer, namun diletakkan di dekat sebuah ember kecil.  Lalu ada tiang yang penuh bulatan setengah bola, dan ada yang seperti penunjuk arah mata angin, dengan putaran khusus di atasnya.

          “Untuk apa Ane…?, Ane apa tadi Paman?” Camira kesulitan menyebut nama alat tadi.
Anemometer

          “Anemometer,” tegas Guri. “Alat ini untuk mengukur kecepatan angin. Sedangkan Wind Vane, yang ada arah mata angin itu adalah alat untuk mengetahui arah angin.” Lanjut Guri menunjuk alat yang bagian atasnya terdapat gambar kapal.

“Ini hanya variasi saja, Camira. Ada juga yang bagian atasnya lambang kuda, ayam atau bahkan bola dunia.” Guri menjelaskan sambil tersenyum, memperhatikan Camira yang terlihat tertarik dengan lambang kapal di atas alat Wind Vane. Camira mundur dari Wind Vane, lalu kembali mendekati Guri.
Wind Vane 
“Nah, apabila angin kecepatannya di atas 88 – 102 km perjam, bisa dipastikan badai sudah terjadi. Sedangkan kondisi laut, dapat dilihat dari gelombang laut akan meninggi dan makin tinggi. Lalu muncul buih memutih dan membuat permukaan laut memutih, biasanya gulungan ombak akan menjadi sangat dasyat. Sehingga kamu, Camira, tak akan dapat melihat apa-apa dihadapanmu,” lanjut Guri.

          Camira menggidik. “Apakah sekarang akan badai, Paman?” lirih Camira menahan takut.

          Guri memperhatikan angka-angka di atas alatnya.

          “Hemmm, sepertinya bukan badai, tapi mungkin angin yang sangat kuat. Kita tetap harus waspada, Camira.”

          “Duh, kalau sampai terjadi badai, apa yang harus kita lakukan, Paman?” desak Camira.

          “Hemmm,” Guri mendehem lagi. Camira tak begitu suka kalau Paman Guri seperti itu, karena tentakelnya ikut-ikutan menari-nari. Tak jarang, tanpa sengaja salah satu tentakelnya menjitak kepala Camira.

          “Kalau memang terjadi badai, kita harus menyiapkan beberapa hal. Seperti menyiapkan cukup air untuk persediaan minum, juga makanan. Yaaah kita harus membeli makanan kaleng dari supermarket milik Pak Akung si Anjing laut. Kamu juga jangan mendekati perabotan yang menghantar listrik, tapi gunakan yang unsur kayu, seperti kursi kayu atau bersembunyi di ruangan berunsur kayu. Jangan lupa untuk menyiapkan kompor portabel untuk memasak, tentunya dengan cadangan gas. Oh iya, siapkan juga cemilan. Kau kan suka cemilan ikan teri. Itu bagus untuk disiapkan di kamarmu,” jelas Guri.

          “Waaah, sepertinya memang harus menyiapkan payung sebelum hujan, ya Paman?” kata Camira sambil kembali mengepakkan sayapnya. Kali ini sebagai tanda senang mendapat pengetahuan baru hari ini.

          “Sekarang, lebih baik, kau pulang ke rumah kakekmu, Camira. Angin mulai makin naik kecepatannya, meski belum tentu badai, tentu akan lebih aman bagimu, untuk tetap berada di dalam rumah dan berkumpul bersama keluarga. Biar aku lanjutkan pekerjaanku, ya,” pinta Guri pada Camira.

          Camira mengangguk mengerti. Ia pun segera berjalan ke arah jendela dan bersiap mengepakkan sayapnya, ketika tiba-tiba Guri menegurnya kembali.

          “Lewat pintu, Camira.”

          Dengan wajah bersemu, Camira membelokkan kakinya dan membuka pintu kantor Guri yang sekaligus merupakan mercusuar. Tak lama Camira mengepakkan sayapnya, berusaha menghindari cuaca buruk, lalu terbang menuju rumahnya.

***

Diikutkan dalam lomba winnercity 

Patah Hati Berbuah Domain Diri

Berdiri di samping banner buku " Dan Akupun Berjilbab" yang aku susun.
Isi buku ini berasal dari lomba "Jilbab Pertama"
yang aku gusung di Multiply tahun 2010, terbit 2011 akhir dan best seller di tahun 2012.


Aku sudah lama mengenal blog. Sekitar awal tahun 2004. Sebelumnya cukup rajin menuliskan kisah dan curhatan hati di blog milik (alm) Friendster.

Belajar ngeblog dengan lebih rutin justru di Blogspot, dan kemudian makin intens di Multipy, yang sebentar lagi akan "membunuh diri".

Aku benar-benar patah hati, ketika tahu Multiply tak akan lama bisa dinikmati. Nyaris pertengahan bulan Ramadan tahun 2012, aku menghentikan tulisanku di sana. Sibuk menyimpan file-file dan akhirnya migrasi ke Blogspot lamaku, dan menjajal areal baru di Wordpress.


Tapi aku kehilangan gairah ngeblog.
read more