Feb 16, 2014

[Proses Kreatif] Buku Kumpulan Cerita Flash Fiction MAHAKARYA #1 dan ANTOLOGY LOVE JOURNEY #2

      Tulisan berikut ini adalah mengenai proses kreatif dari dua antologi terbaruku. Dua buku ini terbit akhir Desember 2013.

             Satu buku merupakan Kumpulan Flash Fiction  Mahakarya #1, terdiri dari 4 penulis yang menang di lomba FF di blog Multiply akhir tahun 2012 lalu. Masing-masing penulis, menuliskan sekitar 8 FF dengan tema ditentukan penyelenggara lomba. Buku ini menjadi buku ke 35 yang aku tulis sebagai kontributor.

MAHAKARYA #1


            Buku satu lagi adalah Love Journey #2, sebuah antologi yang menceritakan kisah-kisah traveling dari belasan kontributor dengan menggambarkan wajah Indonesia dalam berbagai versi, dan buku ini termasuk agak “serius”. Untuk audisi antologi ini, aku lumayan “berjibaku” agar lolos.  Karena niatku sangat besar bisa bergabung di proyek audisi antologi yang disusun oleh Lalu Fatah dan Dee An. Ini adalah buku ke 36 juga sebagai kontributor. 

LOVE JOURNEY #2
            Baiklah, …

            Sebelum kumulai sharing tentang proses kreatif, terlebih dahulu ingin kuceritakan, kalau aku mulai menulis dalam banyak antologi, sejak tahun 2008. Pertama kali bergabung dalam antologi besutan Pipiet Senja di tahun 2008, dan dalam antologi kedua, besutan Imazahra di tahun 2009.

            Kemudian, di tahun 2010 awal, aku berniat kuat, untuk mengikut banyak audisi. Mulai dari yang gratisan (tak diberi apapun, kecuali buku 1 eks), yang serius (dengan sharing royalti yang menyenangkan), hingga untuk keperluan sosial (hasil royaltinya diberikan untuk membantu pengungsi dan para korban bencana alam).

            Jungkir balik kukuti semua audisi. Banyak yang gagal, namun banyak juga yang lolos. Akhirnya di tahun 2010-2011, aku menebar bibit hingga puluhan naskah, dan memanen belasan hingga akhirnya puluhan naskah di tahun 2011-2013. Aku juga mulai belajar menjadi PJ (penanggung jawab) naskah antologi, yakni untuk buku Dan akupun Berjilbab, yang royaltinya diberikan untuk kepentingan Rumah Dunia, Banten. Juga PJ untuk naskah antologi FF Pena Lectura, sebuah proyek komunitas kecilku bersama teman-teman di Pena Lectura.

            Boleh dibilang, aku banyak sekali belajar. Mulai dari belajar mengenali penerbit yang keren hingga yang enggak banget… :) 

            Akhirnya, aku mulai memilah ikut audisi antologi sejak tahun 2012. Aku berkenan ikut menulis, jika untuk kepentingan proyek sosial, atau PJ nya aku kenal baik, atau audisi yang menurutku cukup menantang. Khusus untuk antologi, aku tak melihat royalti atau nilai ekonominya sebagai reward. Karena jarang mendapatkan sejumlah materi yang besar dari sebuah antologi.  

            Untuk nilai ekonomi, aku memilih menulis novel solo. Fokusku, terutama novel anak.

            Nah, sekarang kembali ke proses kreatif dua buku terbaruku. Maka, untuk buku pertama,  Kumpulan Flash Fiction yang temanya sudah diberikan oleh pihak penyelenggara (kalau aku tak salah ingat, ada tema dangdut, angkringan, batik, sepeda, pasar, seruling, kopi, dan mitos). Untuk itu, aku melakukan riset awal beberapa hari. Mulai dari arti, gambar dan beragam hal terkait tema. Baru kemudian aku buat FF-nya dalam beragam ide dan versi. Bahkan ada satu FF, yang bertema batik, idenya kudapat dari status salah seorang kontak FB ku….:)

            Untuk FF, aku tak membuat batasan di awal. Jadi meskipun permintaannya, kurang dari 250 kata, aku tetap menulis sebanyak kusuka terlebih dahulu. Baru kemudian kuedit.

     Bagiku, tantangan utama membuat FF adalah mengedit dan penggunaan kalimat efektif. Ini bagian yang seru. Hal ini, sedikit banyak, membantuku untuk lebih “mudah” menulis cerita anak atau novel anak. Karena dalam novel atau cerita anak, kalimat efektif lebih menunjang cerita, ketimbang kalimat “bersayap” atau “puitis” atau penuh “metafora”. Dalam FF aku menghindari tiga hal terakhir yang kutulis dalam tanda kutip tersebut.

            Proses mengedit ini bisa bikin patah semangat juga. Karena di satu sisi, kita harus mempertahankan tema, namun di sisi lain, harus memotong banyak adegan atau kalimat. Ini berat. Dan butuh waktu berjam-jam, bahkan berhari-hari, utk 8 FF tersebut.

            Secara keseluruhan, 8 cerita FF ini, kuselesaikan kurang dari 2 minggu. Masih memenuhi target dari penerbit. Aku cukup puas dengan cerita-cerita tersebut. Mudah-mudahan para pembacaku kelak juga merasakannya. Buku ini terbit POD alias Print On Demand. Jadi kalau ada yang tertarik membelinya, bisa order lewat aku, atau Ninelight si penerbitnya.

            Selanjutnya, untuk proses kreatif buku Love Journey #2.

            Ketika Dee An dan Lalu Fatah membuat pengumuman akan audis naskah ini, aku mendadak tidak pede membaca syarat naskah. Alasan pertama, karena aku bukan traveling sejati. Kalaupun traveling, bukan tipe light traveler atau backpacker. Jadi rasanya tak mungkin menemukan hal-hal seru di sepanjang perjalananku yang “nyaman” tersebut. Alasan kedua, adalah aku benar-benar tidak yakin bisa menggambarkan “salah satu, wajah Indonesia” dalam 8-10 halaman naskah.

            Namun, keinginan bergabung cukup kuat juga.  Alasan pertama, karena ingin sebuku dengan para traveler keren yg kukenal (seperti Dee An, Lalu Fatah dan  Dina Y Sulaeman, misalnya), dan alasan kedua, aku merasa tertantang untuk ikutan audisi antologi lagi, setelah sekian lama selalu ditawarkan menulis untuk beberapa antologi (dalam arti tanpa audisi).  

            Akhirnya, kupilih kisah Sungai Musi untuk menjadi tema besar naskahku. Kugali semua pengalaman masa laluku tentang Sungai Musi. Kulakukan riset sederhana terkait sungai musi, wawancara via BB dengan sepupuku, yang besar di kawasan Sungai Musi, dan menjalinnya dalam kalimat-kalimat yang lebih “puitis” atau sedikit bermain diksi (pilihan kata), sebuah tantangan lain lagi buatku, yang minim diksi. Jadi berbeda dengan FF yang kalimatnya harus efektif, maka di naskah ini, aku mencoba menggunakan sedikit metafora ataupun pilihan kata yang tak biasa kupakai.

            Proses menulis ide mentah cerita ini hanya sehari. Tapi proses riset, edit dan pengendapan naskah, memakan waktu nyaris 2 minggu. Jadi, riset seminggu, proses edit seminggu. Baru, kuendapkan cerita ini 2 hari sebelum aku lakukan final editing. Ini yang biasa kulakukan terhadap audisi-audisi serius atau lomba-lomba serius. Kutulis cerita mentah, edit, kubaca kuat-kuat, edit, endapkan, dan terakhir, edit lagi.

            Akhirnya, naskah dengan judul “Mengeja Cinta di Permukaan Batang Hari Sembilan” lolos audisi, dan tercetak manis di halaman 71, cerita ke 6 dalam antologi Love Journey #2  “Mengeja Seribu Wajah Indonesia” terbitan deTeens (imprint dari Diva Press).

            Kuperhatikan, jika aku serius menjalani audisi, cenderung berhasil lolos. Kemungkinan besar, berhasil lolos, berkat proses yang kulakukan. Yakni : tulis  saja ide cerita yang masih mentah, edit, baca kuat-kuat, edit, endapkan, dan edit lagi.  Ada juga sih, 2-3 naskah yang sudah serius kugarap, tapi tak lolos audisi. Lucunya naskah tersebut itu hanya tak lolos di satu penerbit tertentu. Dan ketika naskah itu kuberikan ke penerbit lain, malah diterima. Hehehe… *Hingga hari ini aku masih gregetan dan pengen coba untuk ikutan audisi lagi di penerbit tersebut, suatu hari kelak. ^_^V

***

Tulisan ini sudah dishare dan diskusikan dalam group Facebook Women Script n Co tanggal 11 Februari 2014

Patah Hati Berbuah Domain Diri

Berdiri di samping banner buku " Dan Akupun Berjilbab" yang aku susun.
Isi buku ini berasal dari lomba "Jilbab Pertama"
yang aku gusung di Multiply tahun 2010, terbit 2011 akhir dan best seller di tahun 2012.


Aku sudah lama mengenal blog. Sekitar awal tahun 2004. Sebelumnya cukup rajin menuliskan kisah dan curhatan hati di blog milik (alm) Friendster.

Belajar ngeblog dengan lebih rutin justru di Blogspot, dan kemudian makin intens di Multipy, yang sebentar lagi akan "membunuh diri".

Aku benar-benar patah hati, ketika tahu Multiply tak akan lama bisa dinikmati. Nyaris pertengahan bulan Ramadan tahun 2012, aku menghentikan tulisanku di sana. Sibuk menyimpan file-file dan akhirnya migrasi ke Blogspot lamaku, dan menjajal areal baru di Wordpress.


Tapi aku kehilangan gairah ngeblog.
read more