Sep 4, 2013

Day #10 : Saya, Ibu Rumah Tangga Yang Bangga Dengan Jakarta.

Jakarta, Diplomatic City 
Lho kenapa bangga sama Jakarta? Lah, iya dong… Terpilih menjadi Diplomatic City of ASEAN gitu, gimana gak bangga?. Demikian statement atau pernyataan saya, sebagai ibu rumah tangga, jika ada yang menanyakan perasaan saya mendengar Jakarta terpilih sebagai Kota Diplomasi bagi ASEAN. Meski saya tahu, perasaan saya tak begitu penting untuk didengar. Hehehe.

Saya pribadi tak terlalu heran, bila Jakarta terpilih jadi Diplomatic City of ASEAN. Lah wong negara terbesar ini, apalagi kantor sekretariat ASEAN juga di sini!
Eits!, Tapi, jangan nuduh begitu… Bukan karena alasan kantor sekretariat ASEAN atau karena negara paling besar se-Asia Tenggara lalu Indonesia jadi Kota Diplomatik bagi ASEAN. Pertimbangannya tentu tak sesederhana itu.

Lho? Bukankan karena pemikiran sederhanalah, maka yang terpikir seperti itu?

Eeeeh, tunggu dulu. Jangan cepat mengambil kesimpulan. Mari sama-sama kita telaah, mengapa Jakarta bisa terpilih sebagai Diplomatic City of ASEAN? Lalu, apa dampak positif dan negatifnya bagi Indonesia khususnya Jakarta? Kesiapan apa saja yang perlu dilakukan oleh Jakarta sebagai tuan rumah dari Perhimpunan Bangsa-bangsa ASEAN?

Nah, di sesi terakhir dalam tantangan 10 hari ngeblog bertema ASEAN ini, saya akan coba analisis dengan cara yang sederhana. 
       

Life need a diplomacy
Yang pertama, apa itu Diplomatic City of ASEAN?

Menurut pengertian bahasa, kata diplomatic yang sinonimnya adalah diplomatical, berarti “using or marked by tact in dealing with sensitive matters of people”. Ini berarti sebuah upaya yang menggunakan cara bijaksana (taktik), dalam mengatasi masalah sensistif di masyarakat”.[i] Dengan kata lain, diplomasi adalah seni dan praktek bernegosisasi oleh seseorang yang mewakili negara atau organisasi.[ii]

Dengan demikian, makna Diplomatic City of ASEAN adalah sebuah kota yang menjalankan seni dan praktek bernegosiasi secara bijaksana dalam mengatasi masalah sensitif di masyarakat ASEAN.

Dengan demikian, alasan utama Jakarta terpilih sebagai Diplomatic City of ASEAN, tentulah karena Jakarta dianggap mampu menjadi sebuah kota (negara) yang melakukan seni bernegosiasi secara bijaksana, dalam mengatasi masalah sensitif di masyarakat ASEAN. Beberapa kasus internasional yang Indonesia terlibat aktif dalam berdiplomasi, seperti dijelaskan oleh Pak Marty Natalegawa, bahwa sepanjang tahun 2012, Indonesia telah berperan dalam diplomasi forum ASEAN, APEC, G-20, WTO, PBB, Pasific Island Forum (FIF) dan Melanesian Spearhead Group (MSG).

Mengutip kalimat Pak Marty, bahwa diplomasi Indonesia difokuskan dalam menjaga perdamaian dan kemakmuran dunia. Dinyatakan oleh beliau “Apapun permasalahan trans nasional dan global yang dihadapi, dari ancaman bencana alam, tantangan ketahanan pangan dan energi, hingga kejahatan lintas batas seperti terorisme, trafficking, kontribusi politik negeri Indonesia jelas dan nyata.”[iii]
Kharisma dan Kerjasama
 Belum lagi, sepanjang sejarah diplomasi Indonesia, telah menunjukkan perannya sejak awal kemerdekaan. Terlihat dari kharisma Indonesia ketika dipimpin Bung Karno di era 1940 -1950, hingga dapat membentuk KTT Non-Blok, serta memprakarsai lahirnya ASEAN ini sendiri. Jadi kharisma Indonesia yang merupakan negara besar dan berpenduduk banyak ini tak terbantahkan.

Beberapa alasan pendukung lainnya, adalah :[iv]

Kondisi kota Jakarta yang dekat dengan negara-negara pusat ekonomi dunia, seperti Singapura, Sydney, Tokyo, Beijing dan New Delhi, semuanya dapat dijangkau hanya hitungan 1 hingga 8 jam angkutan udara.
Indonesia juga memiliki komitmen yang besar serta posisi yang strategis sebagai anggota G-20, sehingga dapat dianggap sebagai pusat kekuasaan.

Lalu, apa dampaknya bagi Indonesia, terutama Jakarta?

Tentu dampaknya sangat besar. Dengan menjadi kota diplomasi, membuat banyak organisasi internasional yang menghabiskan uangnya jutaan dollar di Jakarta, serta memperkerjakan ribuan anggota staf mereka. Tentunya memberi pemasukan devisa bagi Indonesia, khususnya Jakarta.

Artinya, peluang investasi akan berkembang. Kharisma Jakarta akan makin terasa dari waktu ke waktu dengan kondisi ini. Kharisma sangat dibutuhkan dalam memberi pengaruh positif dalam berdiplomasi. Bahkan dalam asumsi mitos sekalipun, kharisma seseorang atau negara, mempengaruhi kebijakan politik nasional dan luar negeri.


Bahkan, di tahun 2010, Globalization and World Cities Study Group melaporkan, kalau Loughborough University di Inggris memberi predikat Kota Alhpa bagi Jakarta. Setara dengan banyak kota lainnya, seperti Amsterdam, Beijing, Brussel, Milan, hingga Washington. Jakarta telah memiliki posisi strategis dan mempengaruhi interaksi global.

Namun, ini semua, berarti menantang kota Jakarta, untuk lebih fokus pada fasilitas umum, keamanan, ketersediaan transportasi umum yang layak, membuat Mass Rapid Transit, termasuk peningkatan infrastruktur kota Jakarta. Termasuk memperbanyak wilayah hijau atau hutan kota sebagai paru-paru kota, menjadi Pekerjaan Rumah (PR) bagi pemerintah Jakarta.

Untuk mencapai itu semua, apa persiapan yang harus dilakukan oleh Jakarta, mengingat Jakarta sebagai tuan rumah dari Perhimpunan Bangsa-bangsa ASEAN? Karena layaknya sebagai tuan rumah, tentu harus merasa nyaman di rumah sendiri sekaligus memberi kenyamanan bagi negara lain yang menjadi tamu atau teman dalam perhimpunan.

 Menuju Jakarta Hijau 
Persiapan pertama, tentunya memastikan kenyamanan publik bagi ribuan diplomat yang akan wara-wiri tinggal, berkunjung bahkan menetap di Jakarta. Misalnya keterkaitan dengan tempat tinggal, keamanan lingkungan, kondisi kondusif bagi setiap perwakilan negara, dan kemudahan-kemudahan lainnya. Artinya, Jakarta harus menyediakan ruang dan pelayanan yang maksimal bagi para ekspatriat diplomat ini.

Belum lagi, promosi Jakarta sebagai kota Diplomasi ini harus juga disebarluaskan kepada masyarakat kota Jakarta. Agar rasa bangga diikuti dengan rasa menghargai diri sendiri muncul. Secara tak langsung, masyarakat Jakarta akan menunjukkan kondisi terbaiknya. Mengurangi segala bentuk kekerasan dan ketidakpatuhan hukum. Mendukung segenap aturan pemerintah Jakarta, seperti aturan tentang lalu lintas, pengaturan wilayah perdagangan, menghormati aturan larangan merokok dan larangan buang sampah sembarangan, serta banyak lagi hal-hal “kecil” namun berpengaruh besar bagi kenyamanan kota Jakarta.

Saya, meskipun adalah hanya warga tetangga Jakarta, hidup di kawasan Pamulang, sangat mendukung pilihan ASEAN menjadikan Jakarta sebagai kota diplomasi. Sudah waktunya kita menunjukkan pada dunia luar, bahwa Jakarta adalah tuan rumah yang baik, disegani, kharismatik dan mampu mengatasi persoalan internal maupun internasional melalui kemampuan diplomasi yang sudah sangat mumpuni.

Kali ini, saya bangga pada Jakarta.
  

     


      

Patah Hati Berbuah Domain Diri

Berdiri di samping banner buku " Dan Akupun Berjilbab" yang aku susun.
Isi buku ini berasal dari lomba "Jilbab Pertama"
yang aku gusung di Multiply tahun 2010, terbit 2011 akhir dan best seller di tahun 2012.


Aku sudah lama mengenal blog. Sekitar awal tahun 2004. Sebelumnya cukup rajin menuliskan kisah dan curhatan hati di blog milik (alm) Friendster.

Belajar ngeblog dengan lebih rutin justru di Blogspot, dan kemudian makin intens di Multipy, yang sebentar lagi akan "membunuh diri".

Aku benar-benar patah hati, ketika tahu Multiply tak akan lama bisa dinikmati. Nyaris pertengahan bulan Ramadan tahun 2012, aku menghentikan tulisanku di sana. Sibuk menyimpan file-file dan akhirnya migrasi ke Blogspot lamaku, dan menjajal areal baru di Wordpress.


Tapi aku kehilangan gairah ngeblog.
read more