Aug 28, 2013

Day #3 : Jika Seorang Ibu Rumah Tangga Bicara Tentang Branding Nation Bagi Indonesia

Cintai Alam Jamrud Indonesia. Gambar pinjem dari sini 


Bukan perkara mudah untuk membuat branding bagi sebuah negara bernama Indonesia. Tak hanya butuh satu tim khusus, bisa jadi satu departemen tersendiri yang bekerja sama menemukan satu tagline bagi Indonesia.

Namun, ketika saya ditanya, apa branding yang cocok untuk Indonesia, dalam mempromosikan diri sebagai negara dengan beragam budaya? Apakah ada tagline yang pas dan cocok untuk Indonesia di kawasan ASEAN?

Maka, yang terlintas di kepala saya terlebih dahulu adalah, apa itu Tagline? Karena bagaimana mungkin saya membuat sebuah tagline mewakili negara saya, tanpa tahu makna dari tagline tersebut.

Secara harafiah, tagline adalah susunan kata atau frase yang digunakan untuk merangkum atau mengekspresikan tujuan dan semangat merek[i] (atau dalam hal ini pribadi Indonesia), serta mengonsolidasi filosofi yang diwakili oleh tagline. Belum lagi, niat utama sebuah tagline, juga untuk menaikkan harga diri yang terwakili. 

Jika branding tersebut sukses, tak jarang, negara yang terwakili oleh tagline akan bangga dan berani untuk lebih menonjolkkan diri, terutama memasuki pasar bebas tahun 2015 kelak.

Karenanya, bukan perkara mudah, membuat sebuah tagline yang hanya terdiri dari beberapa kata, untuk mewakili satu negara besar seperti Indonesia. Belum lagi, perwakilan nilai filosofi yang digusung harus jelas. Mengapa dipilih tagline tersebut? Prosesnya mendapatkannya seperti apa? Lalu manfaat atau tujuan dibuat tagline seperti itu untuk apa?

Baiklah….
Karena ini adalah sebuah tantangan. Tentu harus dijawab.

Pola pikir sederhana saya sebagai seorang ibu rumah tangga, melihat Indonesia ini sebagai negara yang hijau. Negara yang besar oleh hutan. Negara yang memiliki banyak pohon. Dari pohon yang hijau ini, lahir beragam karakter budaya, melibatkan manusia dan alam. Untuk hal ini kita boleh berbangga, sebagai negara nomor tiga setelah Brazil dan Kongo dalam urusan kekayaan hutan.

Bagian kecil dari hutan Indonesia. Gambar pinjem dari sini 

Saya bahkan sempat melihat dan membaca, bahwa jika diibaratkan hutan itu paru-paru bumi, maka hutan Indonesia masuk dalam 10 besar paru-paru dunia. Bahkan mungkin paru-paru dunia terbesar se ASIA, dan sudah pasti se-ASEAN.

Namun, hutan ini juga sangat rawan. Jika tak dipelihara dengan baik, dengan keseimbangan alam yang sempurna, tentu akan menghasilkan kesulitan-kesulitan bagi Indonesia. Termasuk ketidakmampuan mempromosikan diri sebagai paru-paru dunia. Jadi, Indonesia terkait hutan dan pohon ini, ibarat jamrud. Karena sangat hijau, berharga, sekaligus rawan atau rapuh. Jika potongan sebuah jamrud salah, maka nilainya akan turun. Demikian Indonesia, jika tak mampu menjaga hutan dan menjadikannya perwakilan negara, tentu nilai diri Indonesia dapat turun juga.

Untuk itu, terpikir oleh saya, sebuah tagline, yang mungkin akan menjadi dua sisi pisau. Dimana, satu sisi, bisa jadi akan sangat meningkatkan semangat menjaga hutan alam, sehingga bangga mempromosikan diri sebagai negara yang menentukan nafas dunia (sebagai paru-paru dunia), namun di sisi lain, menjadi negara yang disorot terkait masalah penjagaan hutan dan kekayaan alam. Bisa jadi sisi yang ini malah menjadi bumerang bagi Indonesia, karena maraknya perlakuan banyak orang yang semena-mena terhadap kekayaan alam Indonesia.

Otak saya lalu berpikir secara sederhana. 

Mengapa tidak menjadikan kekayaan alam ini sebagai branding utama Indonesia? Paru-paru dunia! Sebuah posisi yang maha penting. Andaikan semua orang Indonesia menyadarinya, tentu akan membuka mata dunia, betapa hebatnya kekayaan alam Indonesia.

Tak perlu kita berbondong-bondong mempromosikan mal, kemegahan gedung serta fasilitas yang negara lain memiliki dan mungkin lebih baik dari Indonesia. Karena kita memiliki wilayah yang super penting bagi seluruh negara di ASEAN, bahkan di ASIA, dan mungkin DUNIA. Kita memiliki kekayaan hutan, yang kalau dijaga dengan hati-hati seperti kita menjaga batu jamrud dengan potongan sempurna, maka kita menjadi pusat perhatian dunia.

Menjadi pusat perhatian dunia secara positif, akan menggiring banyak hal baik. Termasuk meningkatnya potensi devisa negara melalui pariwisata.

Tak bisa kita bayangkan, jika ingin mempromosikan kekayaan laut, tapi terumbu karang hancur dan banyak yang mencuri ikannya. Ingin mempromosikan kekayaan Papua, tapi tak berani bilang tidak untuk penjajahan alam oleh negara asing. Ingin mempromosikan kekayaan alam Kalimantan, tapi sudah kadung tak percaya diri akibat kekuatan korupsi pemerintah. Dan banyak lagi, sikap lain yang mengindikasikan rendahnya kepercayaan diri negara kita.

Harapan saya, sebuah tagline sederhana, tak saja mengundang banyak wisatawan untuk melihat kekayaan Indonesia dari dekat, tapi juga membuka mata hati orang Indonesia sendiri, melihat betapa pentingnya posisi Indonesia untuk negara-negara sekitar, dan betapa harusnya kita bangga dengan negara sendiri, dengan cara menjaga alam sekitar, termasuk hutan.

Oleh karena itu.

Saya memilih Tagline : Indonesia is the World’s Emerald. Indonesia adalah Jamrud Dunia.

World's Emerald
gambar pinjem dari sini 

Mengapa Jamrud?

gambar pinjem dari sini

Karena sebagai batu mineral yang unik, semua aspek mempengaruhi nilai sebuah jamrud. Warna jamrud sangat menentukan kualitas. Semakin hijau warna zamrud semakin mahal. Semakin besar jamrud, semakin berharga. Semakin baik potongan jamrud, maka semakin bernilai.[ii]

Filosofi ini pas dengan negara Indonesia sebagai jamrudnya dunia. Karena hijau hutan Indonesia mewakili kekayaan alam Indonesia sebagai sebagai paru-paru dunia. Besarnya wilayah Indonesia juga menentukan besarnya kekayaan Alam. Hingga kerapuhannya yang harus dijaga dengan hati-hati, mewakili sikap yang harus dimiliki oleh orang Indonesia dalam menjaga kekayaan alam.

Belum lagi, proses pembuatan atau menghasilkan jamrud tidak mudah. Ini mewakili proses lahirnya negara Indonesia, penanaman hutan dan penjagaan kekayaan alam, tidaklah gampang.

Dan tujuan tagline ini, tidak hanya untuk kepentingan promosi negara, tapi juga menaikkan rasa percaya diri bangsa, serta menyentil nurani rakyat Indonesia untuk menjaga kekayaan alam, terutama hutan dan lingkungan sekitarnya.

Alam yang hijau, hutan yang terawat, penggunaan yang sesuai dengan kapasitas, akan membentuk karakter manusia di sekitarnya memiliki harga diri yang tinggi. Jika self-esteem sudah baik, maka mempengaruhi segenap aspek, termasuk meningkatnya nilai jual pariwisata sekitarnya.

Maka, bukan tak mungkin, memasuki pasar bebas ASEAN 2015, negara kita ikut andil dengan rasa percaya diri yang baik, karena tagline nya mengingatkan posisi penting Indonesia bagi negara lain.


Patah Hati Berbuah Domain Diri

Berdiri di samping banner buku " Dan Akupun Berjilbab" yang aku susun.
Isi buku ini berasal dari lomba "Jilbab Pertama"
yang aku gusung di Multiply tahun 2010, terbit 2011 akhir dan best seller di tahun 2012.


Aku sudah lama mengenal blog. Sekitar awal tahun 2004. Sebelumnya cukup rajin menuliskan kisah dan curhatan hati di blog milik (alm) Friendster.

Belajar ngeblog dengan lebih rutin justru di Blogspot, dan kemudian makin intens di Multipy, yang sebentar lagi akan "membunuh diri".

Aku benar-benar patah hati, ketika tahu Multiply tak akan lama bisa dinikmati. Nyaris pertengahan bulan Ramadan tahun 2012, aku menghentikan tulisanku di sana. Sibuk menyimpan file-file dan akhirnya migrasi ke Blogspot lamaku, dan menjajal areal baru di Wordpress.


Tapi aku kehilangan gairah ngeblog.
read more