Aug 27, 2013

Day #2. Borobudur versus Angkor Wat : (Sebuah Sudut Pandang Sederhana Seorang Ibu Rumah Tangga)

Gambar Borobudur Pinjem dari sini 


          Sebagai seorang ibu rumah tangga, pengetahuan sejarah atau hal yang melingkupi informasi yang berbau sejarah, tak jarang sering terlewatkan. Karenanya ketika ada berita seputar kesamaan Candi Borobudur di Jawa Tengah, Indonesia, dengan Candi Angkor Wat, di Kamboja, saya menggunakan fasilitas internet untuk mencari tahu.

          Saya pernah ke Borobudur. Ketika masih kecil. Oleh karenanya gambaran patung atau cerita yang ada di setiap relief Borobudur masih blur. Sementara saya tak pernah ke Kamboja, apalagi melihat Candi Angkor Wat. Namun, hikmah adanya internet, membuat saya melek pengetahuan tentang hal ini. Saya akhirnya tahu, bahwa hubungan bangsa Indonesia dan Kamboja ternyata mulai terjalin, sebelum masa Raja Jayawarman II di Kamboja, yaitu sebelum abad ke -9.[i]

Gambar Angkor Wat pinjem dari sini 

          Satu hal yang mengulik rasa ingin tahu saya, adalah ketika ada pernyataan, atau mungkin pertanyaan, apakah, dengan adanya kesamaan atau kemiripan antara kedua candi tersebut, menandakan negara Kamboja dan Indonesia adalah serumpun? Malah secara global mencoba mempertanyakan, apakah ini indikasi bahwa negara-negara di ASEAN adalah serumpun?

          Saya cukup tahu diri, bahwa untuk mengulik masalah ini, tidaklah sederhana, dengan hanya mengobrak-abrik artikel di internet, atau buku-buku sejarah sekalipun. Tapi ada satu analisis sederhana yang bisa digunakan untuk mencari jawabannya. Yakni menggunakan pendekatan filosofis.[ii]

          Kenapa menggunakan cara ini? Karena secara keilmuan, pola pisau bedah filosofis cenderung mengena untuk mengurai permasalahan. Pendekatan yagn dilakukan adalah melalui pendekatan ontologi, atau mencari makna/hakekat atau pun definisi dari tema permasalahan. Lalu pendekatan epistemologi, yakni berusaha mencari tahu bagaimana atau proses tema tersebut, dan terakhir melalui pendekatan aksiologi atau melihat manfaat atau tujuan dari munculnya pemasalahan.

          Dikaitkan dengan pendekatan makna (ontologi), maka, pengertian serumpun berdasarkan kamus besar bahasa indonesia adalah :

serumpunse.rum.pun
[n] (1) satu nenek moyang; satu keturunan; (2) sekumpulan (sekelompok) yg berasal dr satu induk (tt tumbuhan,bahasa)[iii]

          Menilik konsep tersebut, perlu diperhatikan, apakah Indonesia dan Kamboja memiliki bahasa yang mirip atau sama? Atau adakah informasi yang menyatakan bahwa Indonesia dan Kamboja memiliki satu nenek moyang atau satu keturunan? Hal ini membutuhkan penelaahan yang lama, panjang dan tak akan sedikit. Tak cukup dengan hanya berdasarkan kesamaan satu candi di Jawa Tengah dan candi di Kamboja.

          Pendekatan kedua, adalah mencari tahu proses (epistemologi) kemungkinan serumpun, antara Indonesia dan Kamboja, berdasarkan kesamaan dua candi tersebut.

          Berdasarkan informasi singkat yang ada, diketahui bahwa terjadinya kemiripan antara kedua candi adalah karena proses interaksi yang terjalin melalui kegiatan perdagangan, yang melibatkan kerajaan di Kamboja dan Indonesia pada abad ke-6 tersebut. Hal ini menunjukkan, bukan karena adanya kesamaan nenek moyang atau akar rumpun yang sama, yang membuat dua candi tersebut memiliki kemiripan, namun adanya kerja sama perdagangan yang menunjukkan adanya hubungan sejarah ke dua negera.

          Terakhir, adalah pendekatan secara aksiologi, atau melihat tujuan dari pernyataan serumpun atau tidak ke dua negara, dengan hanya melihat kesamaan candi. Selain untuk meningkatkan promosi pariwisata, saya tak melihat tujuan lain dari berita atau pernyataan mengenai kesamaan candi tersebut. Karenanya, berdasarkan pendekatan ini, jelas kesamaan dua candi saja, tak cukup untuk menyatakan Indonesia dan Kamboja itu serumpun.

          Pada akhirnya, memang sulit untuk menyatakan satu negara di ASEAN itu serumpun dengan Indonesia. Mengapa? Karena Indonesia ini terlalu luas. Satu rumpun dengan satu wilayah saja tak cukup. Sebagai contoh, hanya karena kawasan Sumatera dan Kalimantan banyak suku melayu, tak langsung serta merta kita mencap diri serumpun dengan negara Malaysia dan Brunei. Begitu juga ketika banyak unsur relief hindu atau budha Jawa yang muncul di candi milik Kamboja, juga tak langsung membuat Indonesia merupakan negara serumpun dengan Kamboja.

          Proses pengakuan sebagai negara serumpun dengan Indonesia ini menjadi sulit, karena Indonesia tak hanya Sumatera, Kalimantan atau Jawa saja. Tapi kita punya wilayah Sulawesi, wilayah Maluku dan Papua. Saya sangat setuju dengan pernyataan Dr Anhar Gonggong terkait pertanyaan apakah Indonesia serumpun dengan Malaysia. , “Kalau disebut bangsa serumpun, identik dengan melayu saja, sedangkan suku bangsa, bahsa dan budaya suku lain dinihilkan.”[iv] Hal ini dikarenakan luasnya wilayah dan banyaknya suku bangsa di negara kita.
gambar luasnya Indonesia pinjem dari sini


Oleh sebab itu, rasanya terlalu naif, jika hanya berdasarkan kesamaan relief candi di satu negara dengan negara lain, lalu Indonesia menyatakan diri serumpun dengan Kamboja, atau negara di ASEAN. Lagi pula, tak harus menjadi satu negara serumpun, untuk menjalin kerjasama yang memberikan banyak kebaikan bagi dua atau lebih negara seperti ASEAN. Yang diutamakan adalah sikap menghormati setiap aturan negara, termasuk ketentuan pasar bebas ASEAN yang akan hadir di tahun 2015 kelak.

Jadi, kita memang harus sedikit hati-hati dengan kata “serumpun”.

Patah Hati Berbuah Domain Diri

Berdiri di samping banner buku " Dan Akupun Berjilbab" yang aku susun.
Isi buku ini berasal dari lomba "Jilbab Pertama"
yang aku gusung di Multiply tahun 2010, terbit 2011 akhir dan best seller di tahun 2012.


Aku sudah lama mengenal blog. Sekitar awal tahun 2004. Sebelumnya cukup rajin menuliskan kisah dan curhatan hati di blog milik (alm) Friendster.

Belajar ngeblog dengan lebih rutin justru di Blogspot, dan kemudian makin intens di Multipy, yang sebentar lagi akan "membunuh diri".

Aku benar-benar patah hati, ketika tahu Multiply tak akan lama bisa dinikmati. Nyaris pertengahan bulan Ramadan tahun 2012, aku menghentikan tulisanku di sana. Sibuk menyimpan file-file dan akhirnya migrasi ke Blogspot lamaku, dan menjajal areal baru di Wordpress.


Tapi aku kehilangan gairah ngeblog.
read more