Apr 4, 2013

Bosan Menulis?

gambar di ambil dari sini



Aku baru pulang dari mengantar Kakak Billa sekolah. Sepeda yang kukendarai nyaris mengenai seseorang. Ternyata mbak E, salah seorang tetangga di komplek yang anaknya sekolah di TK yang sama dengan Kakak.

“Hai, mbak Dian?” sapanya.

Aku tersenyum membalas sapaan, sembari berusaha meminggirkan sepeda ke tepi jalan, agar tak mengganggu pengguna lain. Jalan itu sempit, hanya muat 2 motor saja, sehingga sepedaku itu, bisa jadi mengganggu kelancaran arus lintasan. Tapi, karena telah disapa, mau tak mau aku menghentikan sepeda.

“Mbak E tinggal di jalan apa?” tanyaku basa-basi.

Selanjutnya percakapan biasa saja. Hingga mbak E bertanya satu hal.

“Mbak Dian penulis, ya?”

Aku tersenyum malu. Belum terbiasa menyatakan diri sebagai penulis. Meski ini adalah komitmen baruku di tahun 2013.

“He eh,”

“Wah, berarti anggota FLP donk ya?” tuduhnya.

Aku tersenyum. Meski bingung, kenapa kalau sudah ngaku penulis, kebanyakan orang mengidentikkannya dengan Forum Lingkar Pena. Nyaris beberapa kali pertanyaan teman-temanku selalu mengaitkan penulis dengan FLP.

“Nggak… saya baru menulisnya, tahun 2008, dan belum tergabung di FLP. Mbak E, anggota FLP?” tanyaku.

“Duluuuu, tapi udah nggak lagi. Ikutan FLP Depok, tapi udah lama banget,” jawabnya malu-malu.

Iseng kuajukan pertanyaan, “Kenapa gak menulis lagi?”

Dan, jawabannya cukup mengejutkanku.

“Bosan, mbak!”

Sungguh! Jawaban itu membuatku kaget. Mentalku siap dengan alasan tak punya waktu, atau lagi fokus ama urusan lain, atau apalah. Tapi bukan bosan. Dengan bijak, kutimpali kalimatnya, dengan kata-kata…”Mungkin bukan passionnya, ya? Jadi bosan.”

Mbak E hanya tersenyum lebar, menunjukkan kawat giginya yang berwarna sayur bayam.

Tak lama, kami berpisah.

Tapi percakapan pagi ini masih terus berputar di kepalaku, seolah-olah rekaman suaranya membuatku tersadar.

Ternyata ada ya fase bosan menulis? Atau mungkin, bisa begitu karena memang bukan minat/passion?

Hingga kuputuskan untuk menulis ini di blog. Kucoba mencerna semuanya. Kuingat-ingat masa pertama kali aku mengenal dunia kepenulisan. Terus terang sebagai dosen di FH Unsri, tentu kegiatan menulis tak pernah jauh dari diriku. Menulis tugas, laporan, penelitian, memeriksa skripsi dan thesis mahasiswa. Semua itu adalah makananku sehari-hari.

Tapi menulis, di luar pekerjaan sebagai dosen, baru kukenal di tahun 2008. Pertama kali mengikuti audisi antologi milik Pipiet Senja. Dan lolos. Hanya setahun satu tulisan 10 halaman. Dilanjutkan 10 halaman lain untuk antologi ke dua, milik Imazahra.

Namun, di tahun 2009, ketika aku masuk dalam 10 juara harapan lomba menulis cerita anak misteri di Majalah Bobo, yang membuka mata hatiku, ternyata aku punya “tempat” di dunia menulis, di luar tugas kampus.

Gairahku menggebu.

Nyaris setiap audisi antologi, berhadiah tak berhadiah. Berbukti terbit atau tidak. Beroyalti ataupun tidak, semuanya kuikuti. Kujajal, kalah atau menang.

Hingga lahir, puluhan antologi, hingga hari ini.

Cintaku pada kepenulisan makin menjadi, bahkan sekarang aku justru terpesona pada dunia cerita anak. Ada semangat, gairah dan hikmah yang kudapat di dunia cerita anak. Ada fase, aku merasa semangat sekali, menggali dan menikmati kembali masa-masa kecilku yang amat menyenangkan.

Menangkap lady bug atau kumbang totol, makan buah salam hingga sakit perut, berpura-pura menjadi petualang, dengan menapaki kaki ke daerah terjal di belakang rumah, serta bersepeda hingga lupa waktu dan menghitamkan kulit dengan main kasti. Seru sekali masa kecil itu, hingga tak pernah bosan untuk kujadikan ide beragam cerita.

Satu persatu novel anak karyaku lahir. Namun, aku masih merasa haus dan kelaparan akan pengetahuan di dunia anak ini. Akhirnya, kupilih mengikuti beragam kelas online di jejaring facebook. Mencoba berguru dengan orang-orang yang mumpuni di dunia menulis cerita anak. Berharap, hingga pertengahan tahun ini pengetahuanku bertambah, hingga percaya diri meningkat untuk terus menulis dan mengirimkannya ke media massa atau penerbit manapun.

Sampai hari ini, aku tak terpikirkan kata bosan untuk menulis. Tidak sedikit pun. Kurasa, aku jatuh cinta dengan dunia ini. Aku berharap, jika fase bosan itu datang, hanyanya sekedar pemberi kode untuk rehat, diganti dengan membaca, mencari pengetahuan dan mendalami beragam ilmu terkait penulisan.

Aku bahkan terpikir, untuk melanjutkan sekolah, tidak lagi di bidang hukum, tapi mencoba fokus di bidang penulisan. Yang pasti, aku tak mau bosan menulis.

Patah Hati Berbuah Domain Diri

Berdiri di samping banner buku " Dan Akupun Berjilbab" yang aku susun.
Isi buku ini berasal dari lomba "Jilbab Pertama"
yang aku gusung di Multiply tahun 2010, terbit 2011 akhir dan best seller di tahun 2012.


Aku sudah lama mengenal blog. Sekitar awal tahun 2004. Sebelumnya cukup rajin menuliskan kisah dan curhatan hati di blog milik (alm) Friendster.

Belajar ngeblog dengan lebih rutin justru di Blogspot, dan kemudian makin intens di Multipy, yang sebentar lagi akan "membunuh diri".

Aku benar-benar patah hati, ketika tahu Multiply tak akan lama bisa dinikmati. Nyaris pertengahan bulan Ramadan tahun 2012, aku menghentikan tulisanku di sana. Sibuk menyimpan file-file dan akhirnya migrasi ke Blogspot lamaku, dan menjajal areal baru di Wordpress.


Tapi aku kehilangan gairah ngeblog.
read more