Mar 1, 2013

[Proses Kreatif] Bersama "Morning Sickness" Kuselesaikan Naskah "Kepercayaan, Sebuah Laut Tanpa Tepi"

Tulisanku pada buku Long Distance Love




Setahun setelah tulisan pertamaku masuk dalam buku antologi Persembahan Cinta (disusun oleh Pipiet Senja, dan merupakan tulisan perdanaku yang muncul di dalam sebuah kumpulan kisah).  Aku tak begitu mengikuti lagi kegiatan tulis menulis. Hanya saja, kala itu, teman di kontak multiplyku bertambah satu orang. Yakni Imazahra.

Awalnya memang maju mundur mau berteman dengan Ima yang super sibuk dan hobby backpacker itu. Namun ketika aku tahu, ia juga suspect PCO seperti diriku [Ini hikmah suka blog walking ya, jadi bisa ketemu teman lewat cara yang unik], lalu aku PM Ima untuk ngajak ngobrol perihal PCO.

Aku memang pasien suspect PCO, dan kala berteman dengan Ima itu, aku masih dalam proses terapi dengan Dokter Yuslam Edi Fidianto di RS Pondok Indah.

Obrolanku dan Ima pun jadi panjang dan mengarah pada cerita kehidupanku sebagai istri MANTAN pelaut. Yups, Bang Asis –suamiku- sejak tahun 2005 telah pindah pekerjaan, tidak berlayar lagi, meskipun tetap menjadi kapten yang bertugas sebagai Mooring Master di sebuah terminal kapal bunker di Laut Jawa sana.

Ima seperti biasa, sangat antusias membahas ini dan ujung-ujungnya mengajakku untuk ikut serta dalam proyek pribadinya. Ia tengah menggarap buku antologi yang disusunnya, mulai dari siapa yang diajaknya menulis, hingga cover dan pengaturan royalti. Semua dilakukannya dengan sangat terbuka dalam bentuk PM bagi seluruh kontributor.

Sebuah berkah bagiku, karena ikut serta dalam proyek Ima ini membuatku jadi kenal banyak orang baik dan keren di Multiply. *Nanti akan aku sebutkan siapa saja orang-orang itu ya? ^_^
Aku, si new comer di dunia penulisan, diundang menulis oleh seseorang yang full of writing spirit seperti Imazahra, tentulah akan tertarik dan ikut tersemangati.

Aku mulai menuliskan sebuah naskah, terus terang aku lupa judul awalnya. Karena nanti judul yang tercantum di buku itu, adalah judul pemberian dari Imazahra.

Saat itu, alhamdulillah, awal Februari 2008, aku mengalami mual-mual. Allah yang Maha Pengatur, telah mengatur bahwa setelah berhasil sabar selama 9 tahun menanti keturunan, akhirnya Allah percayakan juga aku dan Bang Asis memiliki keturunan.

Aku paksakan diri ini menulis dalam keadaan mual. Boleh dibilang, menulis naskah untuk menjadi bagian dari antologi Long Distance Love ini adalah cobaan buatku. Karena saat hamil, aku benar-benar tak suka melihat buku tebal dan komputer.

Ujung-ujungnya, baru beberapa paragraf menulis, aku lari ke kamar mandi dan muntah. Tak terlalu parah sih. Karena memang morning sickness-ku masih bisa kukontrol.

Aku tidak tahu bagaimana hasilnya. Seperti biasa, aku hanya menuliiisss saja tanpa memperhatikan EYD dan hasil akhir. Ah, kalau urusan menceritakan jarak pemisah antara aku dan suami, mungkin 10 halaman itu kurang, hehehe. Aku rasa selama menuliskan naskah itu, aku cukup mengingat beberapa adegan kehidupanku bersama suami. Ini bukan perihal yang sulit  untukku. 

Apalagi proses perkenalan kami secara pribadi selama ini memang hanya lewat surat dan baru beradaptasi setelah menikah, karena tidak melewati fase pacaran seperti orang lain. Sehingga banyak moment yang membekas di hati, dan itu saja yang kutulis dalam naskah tersebut.

Satu hal yang pasti, aku belajar mencari sudut pandang yang fokus dan tak melebar. Ketika menuliskan naskah itu, aku hanya fokus pada latar belakang aku menikah dgn seorang pelaut, serta ikatan apa yang membuat kami menjadi kuat meski jarak memisahkan. Jadi tak hanya cinta, namun takut pada Allah serta kepercayaan menjadi inti tulisanku. 

Aku belajar untuk tak melebarkan isi cerita, karena memang jumlah halaman naskah yang dibatasi, membuatku harus bisa membuat ending yang cepat namun tidak terlalu “bergantung”. Aku tak punya tips apa pun, hanya menulis, mencoba ambil satu moment saja dan belajar fokus di satu tema yang aku pilih.

Jika di buku Persembahan Cinta, aku menceritakan karakter Bang Asis, maka di buku Long Distance Love ini aku menceritakan suka duka menjadi istri pelaut serta pengikat kuat hubungan jarak jauh kami itu.

Kisah duka seperti sulitnya signal handphone, menjadi salah satu topik tulisanku, dan pada intinya aku menuliskan bahwa sikap saling mempercayai satu sama lain dan takut dengan Allah adalah kunci kesetiaan kami berdua satu sama lain. Tak pernah terbersit rasa takut dan cemburu pada diri seorang Pelaut bernama Onasis, demikian pula sebaliknya, tak ada rasa khawatir dari seorang Onasis mengenai kesetiaan diriku. Kuncinya ya itu tadi, Kepercayaan. Alhamdulillah, bertahun menjadi istri Pelaut, aku tak pernah goyah,  dengan beragam selentingan aneh di sekitar kami.

Tulisan itu cukup cepat kuselesaikan. Aku tidak tahan berlama-lama depan komputer. Rasa mual itu selalu menyertaiku setiap kali layar komputer aku buka. Aku coba menuliskannya di atas kertas, aku rapikan di word dan dalam hitungan 1-2 hari selesai. Kukirim kepada Imazahra. Beruntung naskah itu tidak dikembalikan olehnya, dan kuperhatikan hanya pilihan kata pada beberapa kata yang diubah oleh Ima.

Alhamdulillah.

Akhirnya, tulisanku yang berganti judul menjadi “Kepercayaan, Sebuah Laut Tanpa Tepi,” berbaris rapi di halaman 193 – 201. Bersama teman-teman multiply lainnya seperti  : Suci Al sadiq, Rosita Sihombing, Titin Fatimah, Eva. Y. Nukman, Dian Akbas, Desti J. Basuki, Fita Chakra, Yudith Fabiola, Andi Sri Suriati Amal, Shanti Saptaning, Alan Ridlon S, Irawati Prilia, Wiwit Wijayanti, Syaifuddin, Dani Ardiansyah, Zakiah Dauli, Etta Erinda, Leila Niwanda, Vanny Mediana, Liza Anggraeny, Revina Octavianita, Indah IP dan Imazahra.

Nyaris 95% dari kontributor tersebut menjadi temanku baik di Multiply dan Fesbuk hingga hari ini. Alhamdulillah masih terus bersilaturahim. Makanya, aku tak pernah putus mengucapkan terima kasih pada Ima yang telah membuka pintu kepenulisan dan pertemananku dengan mereka.

Sejak itu, aku mulai belajar apa itu menulis cerita FAKSI [non fiksi yang ditulis dengan alur fiksi] serta bagaimana cara mempromosikan buku [ Buku LDL ini menjadi best seller di tahun 2009 – 2010 dan terpilih menjadi salah satu nominasi buku terbaik pilihan pembaca goodreads serta pemenang cover non fiksi terbaik di ajang yang sama].

Pelajaran berharga ini terus kukenang. Meskipun, aku tahu, cara menulisku masih belum maksimal. Masih banyak yang aku harus pelajari. Satu hal yang pasti, sejak buku LDL ini, aku mulai melirik dunia menulis. Aku mulai jatuh hati pada dunia kepenulisan.

Patah Hati Berbuah Domain Diri

Berdiri di samping banner buku " Dan Akupun Berjilbab" yang aku susun.
Isi buku ini berasal dari lomba "Jilbab Pertama"
yang aku gusung di Multiply tahun 2010, terbit 2011 akhir dan best seller di tahun 2012.


Aku sudah lama mengenal blog. Sekitar awal tahun 2004. Sebelumnya cukup rajin menuliskan kisah dan curhatan hati di blog milik (alm) Friendster.

Belajar ngeblog dengan lebih rutin justru di Blogspot, dan kemudian makin intens di Multipy, yang sebentar lagi akan "membunuh diri".

Aku benar-benar patah hati, ketika tahu Multiply tak akan lama bisa dinikmati. Nyaris pertengahan bulan Ramadan tahun 2012, aku menghentikan tulisanku di sana. Sibuk menyimpan file-file dan akhirnya migrasi ke Blogspot lamaku, dan menjajal areal baru di Wordpress.


Tapi aku kehilangan gairah ngeblog.
read more