Dec 16, 2015

Maafkan Bundamu Yang Pemarah Ini, Ya, Nak.

gambar pinjem dari pinterest.com


Alunan suara seorang hafizh di smartphone mengisi keheningan dalam mobilku. Putri sulungku tertidur di kursi depan. Ia baru selesai kupaksa mendengarkan surah Al Bayyinah. Itu untuk persiapan ujian tahfiznya pagi ini di sekolah. Namun, kondisi mengantuk dan mungkin letih mental habis kuomelin, membuatnya ingin mengistirahatkan diri.

Diomelin?

Iya... kuomelin.


Aku menarik napas. Kulirik sekali lagi dia. Kondisi jalan yang agak macet memungkinkan buatku menatap wajah innocentnya agak lama. Matanya terkatup rapat. Napasnya teratur. Tapi aku tahu. Billa, putri sulungku lelah.

Seketika, rasa sesal menggelayut di dalam hati.

Pagi ini, kurusak suasana rumah dengan omelanku.

"Bill... kenapa melamun terus sih!. Minum susu melamun. Disuruh pake seragam melamun. Mau sholat melamun dulu. Billa tahu nggak, kalau melamun itu temannya setan!"

Suaraku membahana. Bisa jadi memekakkan telinga kecilnya. Entah kutipan darimana, jika aku menyimpulkan kalau melamun itu teman setan. Aku hanya mengucapkannya agar putriku berhenti melamun. Rasa nyeri di tengkuk dan bahuku akibat asam urat yang tinggi mendukung emosi mengomel.

Mata Billa berkaca-kaca. Tapi sepertinya setan sudah menjadi temanku. Air yang tertahan di matanya tak membuatku diam. Aku terus berbicara dengan suara tinggi perihal kelambanannya berpakaian, kebiasaannya melamun dan tidak fokus. Pokoknya segudang kesalahannya di mataku.

Denyut rasa sakit di tengkuk semakin menjadi. Aku akhirnya memilih duduk dan mengatur oksigen yang masuk ke paru-paruku. Ini semua harus kustop. Harus kuhentikan. Sesaat aku merasa..., aku telah berubah menjadi monster. 

Billa mendekatiku. Saat itulah, kulihat matanya yang terluka. Aku ikut terluka.

“Tolong sisirin rambut Kakak, Bund.” Ucapnya lirik diselingi sedan lemah. Billa masih menunjukkan kalau ia butuh aku. Ibunya.

Badanku melemas. Hatiku terhempas. Aku menyakitinya. Putri yang kehadirannya ada setelah hampir 9 tahun pernikahanku.

“Tiiin... ! Tiiin!”

Suara klakson dari mobil belakang membangunkanku dari lamunan. Alunan surah Al Bayyinah sudah berganti dengam surah Az zalzalah. Billa semakin terlelap dalam tidur paginya. Perjalanan kami ke sekolah baru separuhnya. Sekarang kemacetan tak begitu berarti. Roda kendaraanku berjalan pelan namun terus bergerak. Kondisi ini sedikit menghibur, meski aku sesekali tetap meringis menahan sakit di tengkuk. Serta menahan pilu di satu bilik hati.

Apakah aku bukan ibu yang baik, ya? Apakah aku seorang monster? Apakah aku gagal menjadi Ibu yang baik, seperti yang dikatakan para ahli dan pakar parenting di banyak buku yang kubaca? Apakah aku telah menghancurkan jiwa kecil Billa? Selumbung rasa bersalah menutupi hati. Rahangku mengeras. Ada apa dengan aku?

Sekilas aku teringat betapa Billa begitu romantis. Ia begitu ekspresif menyatakan cinta dan sayangnya padaku. Pelukan, celotehan dan tulisannya selalu menunjukkan jika ia sangat mencintaiku. Apakah cintaku tak sebesar milik Billa?

Billa Yang Romantis. Selalu membuatku luluh dengan surat cintanya

Tak terasa air mataku ikut mengalir. Selalu begitu. Penyesalan datang belakangan. Panas di ujung mataku tak mampu bertahan. Emosiku jebol. Airmata itu mengalir deras namun tanpa suara.  Kembali kulirik Billa dan juga Aam, putra bungsuku, yang suara dengkur halusnya terdengar dari kursi belakang. Beruntung mereka tidak melihat tangisku pagi ini.

Saat tisu mengelap basah pipi, ingatanku seperti ditarik pada setiap fase dalam hidupku 10 tahun terakhir. Saat aku meratapi nasibku yang sudah 6 tahun menikah, namun belum dikarunia anak. Ketika aku harus memilih antara melanjutkan sekolah atau fokus pada terapi kehamilan. Di waktu harus menentukan pilihan antara fokus pada anak-anak atau kerja di Palembang sebagai dosen dan PNS.

Satu demi satu lembar masa lalu dan pilihan hidup itu menari di kepalaku.

Akhirnya, aku memilih jadi seorang Ibu.

Tapi hari ini...aku merasa gagal menjadi seorang Ibu. Aku bagaikan monster yang berujud Ibu. Airmataku kembali mengalir. Aku tak bisa memperbaiki yang sudah terjadi. Aku masih harus belajar memperbaiki kelakuanku, mengingat kembali alasan aku mengemis pada Allah untuk diberi keturunan serta meyakini jika semua ujian anak padaku selama ini harus mampu kuhadapi.

Ujian kesabaran. Ujian utama menjadi seorang ibu. Aku sering merasa gagal jika yang diuji masalah mental ini. Referensi hidup terdekat adalah Mamaku. Seorang perempuan penyabar yang cenderung memilih diam dalam marahnya. Aku tak ingat kapan terakhir mendengar suaranya meninggi. Karena ia tak pernah memilih menaikkan suara saat memarahiku. Ia memilih kata-kata yang sedikit menghujam jantung, sehingga aku dan adik-adikku kapok sekapok-kapoknya, sampai tak berani mengulangi kesalahan yang diomelin Mama.

“Berwudhulah, Dian.”

Itu juga, nasehat yang paling sering dikatakan beberapa orang dekat, termasuk suamiku. Ini salah satu jurus agar kemarahanku menurun. Agar omelanku dengan suara tinggi mereda. Agar sikap buruk tak sabar menghilang terbang.

Sesaat aku kembali ke dunia nyata. Mobil harus kubelokkan ke kiri. Aku membelokkannya agak tajam. Sehingga Billa terbangun dan ia menyipitkan matanya karena menahan cahaya.

“Kita sudah hampir tiba di sekolah. Bangun, Kak!.”

Masih ada nada emosi di suaraku. Astaga... sulitnya menurunkan emosi agar tidak lagi mengomeli putri cantikku ini. Bayangan menjadi Ibu dengan suara yang lembut dan karakter yang santun, lenyap sudah. Aku mencoba. Tapi suaraku tidak mewakili usahaku.

Billa memperbaiki posisi duduknya. Meletakkan smartphoneku ke dalam tasku.

“Kakak hanya mampu menghapalnya setengah surah, Bund.” Katanya lirih.

Aku segera mengangguk memaklumi. Kali ini, aku bersyukur berhasil memakluminya. Tak semua anak memiliki kemampuan cepat menghapal. Harusnya aku ingat itu tadi malam. Tak semua anak memiliki daya ingat yang kuat. Harusnya itu yang kujadikan patokan sebelum mengomel semalam dan tadi pagi.

Kuparkir mobil di lapangan luas sekolah Billa. Kami sepertinya agak terlambat  Tapi aku sudah tak begitu memikirkannya. Aku tengah membenahi hatiku sebagai seorang Ibu. Apa yang dilakukan seorang Ibu yang telah bersalah seperti aku? Bagaimana sikap yang harus kulakukan karena kadung mengomeli Billa sedemikian rupa?. Dan terus terang... ini bukan kali pertama. Meski aku tidak sering melakukannya. Biasanya jika pekerjaan rumah menumpuk, kesehatanku yang memburuk, ide menulis tak tertumpahkan dengan baik dan kondisi sekitar yang tak mendukunglah yang memicuku menjadi pemarah.

Ah... alasan itu lagi. Batinku marah pada diri.

Fokusku kemudian teralih. Billa sudah siap turun dari mobil. Aam masih tertidur. Kupilih menurunkan jendela sedikit agar oksigen tetap masuk. Kukunci pintu. Jarak parkiran dengan pintu gerbang, hanya 15-20 meter. Aam akan baik-baik saja di dalam mobil.

Billa menarik tanganku dan menggenggamnya. Seperti hari-hari yang lalu. Kulirik Billa untuk kesekian kalinya. Ia terlihat biasa saja. Air matanya yang mengalir semalam dan sebelum berangkat sudah tak berbekas. Namun, apakah hatinya masih sakit akibat omelanku? Aku tak tahu dan tak berani untuk menerka. 

“Sampai sini saja, Bund.” Kata-katanya menghentikan langkahku. Kami sudah tiba di dekat gerbang sekolah. Kepalanya menengadah dan tersenyum manis. Aku mengganti posisi, sehingga setengah jongkok untuk menyamakan sudut pandang mata kami berdua.

“Semangat ya, Nak. Semoga berhasil UAS hari ini.” Kataku mencoba tenang dan tegas seperti biasa. Tapi tenggorokanku sakit. Hatiku perih. Aku tahu, ada yang salah dengan sikapku. Hati kecilku tahu. Kutahan agar hawa panas di ujung mataku tak memancing air mata lagi. Kutelan ludah. Getir kurasa.

“Iya Bund.” Senyum tipis mengulas di bibir kecilnya.

Ah, Billa.... Andai aku bisa menceritakan bagaimana jatuh bangunnya aku belajar menjadi Bundamu. Prosesnya tidak pernah mudah, Nak. Ini adalah perjuangan Si pemarah yang sudah berumur 40an tapi baru punya anak usia 7 dan 3 tahun. 

Terus terang aku iri pada para Ibu yang selalu berbagi cerita jika mereka tak pernah marah. Suara mereka selalu lembut saat tak suka atas sikap anaknya. Aku belum bisa. Sepertinya aku masih jauh dari sikap seorang Ibu yang sempurna.

Tapi,  aku selalu berusaha memperbaikinya. Bukan pekerjaan mudah. Karena pekerjaan menjadi Ibu, memang tak pernah mudah. Ada banyak kewajiban atas diri seorang Ibu. Meski pula ada hak di dalamnya. 

Aku pernah membaca, begitu banyak hal yang harus diperhatikan, saat berperanan sebagai ibu.

Aku harus berusaha keras untuk tidak  membohongi Billa dan Aam. Aku juga perlu menghargai setiap usaha Billa dan Aam sekecil apapun. Meski tak mudah, aku juga berusaha adil atas mereka berdua. Usahaku juga ditambah, dengan mencoba tidak menghina Billa dan Aam dengan kata-kata julukan kasar. Serta menepati janji pada mereka semampuku. Sejauh ini cukup berhasil. 

Kewajiban lain yang juga sulit adalah harus berusaha tidak membanding-bandingkan Billa dengan Aam. Masing-masing memiliki kelebihan masing-masing. Apalagi Aam dan Billa seperti langit dan bumi. Seperti air dan minyak. Sungguh sulit untuk tidak membandingkannya. Namun tugasku untuk berusaha membuat mereka nyaman dengan diri mereka sendiri.

Dalam proses belajar menuntaskan kewajiban, bukan tidak mungkin aku mengalami kesulitan. Seperti tingginya suaraku saat marah. Atau lama mengomeli Billa hingga ia menangis. Saat itulah, jika aku tak berhasil menahan emosi, aku berubah menjadi Monster dan bukan Mother. 

Namun, aku percaya. Ibarat bayi yang berada pada fase belajar berjalan. Sekali jatuh, jangan pernah menyerah untuk berdiri dan belajar jalan lagi. Sekali belajar menjadi Ibu, maka berusaha keras menjadi Mother yang bukan Monster.

“Emmm... Kak.” Kalimatku tertahan. Kutatap kedalaman matanya yang bening. Bahasa tubuhnya sudah tak sabar untuk melangkah ke arah gedung sekolahnya.

“Kakak tahukan, kalau Bunda marah bukan karena benci pada Kakak?” tanyaku perlahan.

Senyum tipisnya kembali muncul.  Billa mengangguk tegas.

“Bunda kan kalo marah karena Bunda sayang Kakak. Karena Bunda ingin Kakak patuh. Iya kan, Bund?” jawabnya berupa tanya, namun bernada ceria.

Aku menarik napas dan merasakan sesak dada sesaat. Anak kecil ini lebih pengertian bahkan lebih pemaaf dari pada aku, Ibunya.

“Iya. betul, Kak.” Kupeluk Billa. Kualihkan rasa bersalah menjadi rasa cinta yang besar. "I love you," lirih kukatakan mantra 3 kata itu dekat telinganya.

“I love you too, Bunda.” Dibalasnya pelukanku. Pelukan yang selalu kami lakukan sejak Billa masuk kelas 2 SD. Sudah 6 bulan kami melakukan itu. Tujuan utamanya, agar Billa merasa nyaman. Sejauh ini, prosesi memeluk ini memang mempengaruhi emosi kami berdua. Bahkan pagi ini, justru hatiku terasa nyaman setelah memeluk tubuh mungilnya.

Kucium pipinya yang licin. Mata Billa kembali berbinar. Billa bisa jadi memaafkanku. Meski aku dapat mengira, ada sesaat ia merasa terluka atas omelanku. Kulepaskan tubuhnya untuk melangkah menuju kelas. Beberapa langkah menjauh dariku, Billa menoleh dan melambaikan tangan ke arahku. 

Ah..., Aku harus belajar darimu, Nak. Belajar menjadi pemaaf. Sekaligus belajar menjadi Ibu yang memaklumi kekurangan anaknya. Termasuk kekurangan diri Bunda sendiri.  

Maafkan Bunda, ya Bill...


*Kutulis karena rasa malu atas sikap pemarahku. Semoga Allah menguatkan mental anak-anakku karena memiliki Ibu yang sering gagal berhasil mengalahkan sikap pemarahnya. :(

***



Tulisan ini diikutsertakan dalam GA Sejuta Kisah Ibu

Patah Hati Berbuah Domain Diri

Berdiri di samping banner buku " Dan Akupun Berjilbab" yang aku susun.
Isi buku ini berasal dari lomba "Jilbab Pertama"
yang aku gusung di Multiply tahun 2010, terbit 2011 akhir dan best seller di tahun 2012.


Aku sudah lama mengenal blog. Sekitar awal tahun 2004. Sebelumnya cukup rajin menuliskan kisah dan curhatan hati di blog milik (alm) Friendster.

Belajar ngeblog dengan lebih rutin justru di Blogspot, dan kemudian makin intens di Multipy, yang sebentar lagi akan "membunuh diri".

Aku benar-benar patah hati, ketika tahu Multiply tak akan lama bisa dinikmati. Nyaris pertengahan bulan Ramadan tahun 2012, aku menghentikan tulisanku di sana. Sibuk menyimpan file-file dan akhirnya migrasi ke Blogspot lamaku, dan menjajal areal baru di Wordpress.


Tapi aku kehilangan gairah ngeblog.
read more