Jun 8, 2015

Sebelum Menjadi Penulis, "Menderitalah" Terlebih Dahulu Dalam Hidup. Betulkah?


pinjem dari sini 



Judul yang panjang ini melintas begitu saja di kepalaku, saat aku menemukan beberapa informasi personal dari banyak teman penulis, dan juga beberapa buku atau informasi terkait penulis terkenal. 

Sebut saja yang paling mudah dicari infonya, seperti JK Rowling... coba saja ketik nama itu dan sandingkan dengan kata pengangguran, insomnia akut serta depresi berat. Itulah sebagian kecil penderitaan JK Rowling. Belum kalau kita bicarakan kehidupan rumah tangga dan kemiskinan yang dilaluinya. 

Ada juga, kisah menarik Agatha Christie yang baru menulis beberapa novel misterinya, justru menghilang selama 11 hari (setelah mengetahui suaminya berselingkuh) dan setelah dirawat oleh tim medis, kemudian malah melahirkan puluhan novel misteri yang menjadi hits hingga saat ini. Agatha Christie sendiri sempat merasa depresi, tidak saja karena kelakuan suami pertamanya, namun juga karena novel karyanya bergenre romantis, tidak berhasil di dunia kepenulisan, alias tidak laku. 


Bahkan penulis Roald Dahl, juga memiliki fase kehidupan yang menguji kehidupannya. Saat ia sebagai pilot membawa terbang pesawat dan mendarat darurat, ia mengalami kecelakaan yang mengakibatkan tengkorak kepalanya retak, hidungnya patah, dan matanya menjadi buta sementara. Dikabarkan, saat itu Roald berhasil menyeret dirinya keluar dari badan pesawat yang terbakar kemudian pingsan. Paska Kecelakaan, setelah penglihatannya kembali normal, ia menulis. Tulisan pertama yang diterbitkan pada tahun 1942 adalah kisah keberhasilannya hidup dari kecelakaan tersebut. 

Masih banyak lagi penulis luar negeri sana yang melewati fase tak enak atau menderita dulu dalam hidupnya, sebelum akhirnya memilih menjadi penulis dan terkenal dari dunia menulis tersebut. 

Di Indonesia sendiri, kita bisa melihat bagaimana perjuangan hidup Pipiet Senja dalam urusan rumah tangga dan penyakit talasemianya, serta kehidupan pelik di tepi rel kereta api yang dialami oleh duo pendekar penulis perempuan, Helvy Tiana Rosa dan Asma Nadia. Atau bahkan seseorang seperti Dewi Lestari yang awalnya memiliki rumah tangga yang baik dengan Marcell, terpaksa bercerai dan menemukan soulmate barunya di pernikahan ke dua. Artinya, ia juga melewati fase tak nyaman dalam hidupnya. 

Dari sini, aku melihat dan menyimpulkan (asumsi ini bisa jadi salah), bahwa dibutuhkan "bitter" dalam kehidupan ini, untuk bisa menulis. Tak cukup sekedar "sweet"nya saja. 

Ketika seorang manusia berproses, menjadikan menulis sebagai lahan kehidupannya, melewati satu fase "menderita" dalam hidupnya, bisa berupa penyakit, kehidupan rumah tangga, ujian dari suami atau anak dan bahkan masalah ekonomi sekalipun, maka ia akan "lebih mudah" menuliskan unsur penderitaan yang menjadi penguat dalam setiap urusan konflik di dunia menulis.

Sebuah karya tulis yang menarik, bisa terlihat dari konflik yang digusung. Konflik yang menarik, umumnya mendasarkan pada penderitaan yang pernah dirasakan si penulis konflik.

Aku tahu... Lagi-lagi ini sebuah asumsi.

namun asumsi harus diuji kebenarannya, untuk bisa dijadikan teori. Agar kelak -mungkin- diamini orang lain.

Meski butuh waktu untuk membenarkan asumsiku ini, namun aku mencoba menelaahnya dari kehidupanku sendiri. 

Saat aku belum merasakan pahit getirnya berumah tangga, aku nyaris tak bisa menuliskan kisah sedih sedikitpun. Tak bisa secuilpun kalimat kubuat yang bisa menarik perhatian atau bahkan airmata pembaca. Boro-boro menuliskan yang sedih-sedih, memaknai rasa sedih yang dalam pun nyaris tak pernah kucicipi, saat belum menikah.

Hingga ketika menikah, hidupku pun berubah. 

Apakah aku terkena KDRT? atau perselingkuhan? atau masalah mertua versus menantu?

Oh tidak... beruntungnya aku, bukan itu yang kualami.
Tapi...tidak memiliki anak selama 9 tahun pernikahan. Menghadapi cemooh orang, komentar yang katanya simpati tapi justru menyakiti, pandangan menyepelekan, rayuan dan ajakan mengarah berselingkuh dari para lelaki hidung belang baik di dunia kampus maupun di dunia pendidikan (terutama jika mereka tahu, aku juga seorang istri pelaut yang ditinggal berbulan-bulan), maka otak mesum laki-laki buruk hati dan sebagian juga buruk wajah itu, seringkali ditunjukkan padaku, sehingga sukses membuat mereka mendapatkan makian dan ceramah menyakitkan dariku. :D

Ujian 9 tahun menikah baru berhasil hamil ini, tidak saja menjadi sebuah kisah happy ending, ketika salah seorang janin (laki-laki) yang kukandung meninggal dunia dalam kehamilan 29 minggu, meninggalkan kisah sedih, karena aku berjuang berminggu-minggu mempertahankan janin satu lagi yang perempuan, untuk berjuang hidup.

Singkat cerita.... tahun 2008 adalah titik baru dalam kehidupanku. Rotasi kehidupanku tiba-tiba berputar di poros yang berbeda.

Kepedihan, kesedihan dan kerinduan pada sosok anak, membuatku mencari cara agar bisa menerapi hati. Aku tahu, ada Allah, ada quran, ada suami, ada orang tua yang bisa menjadi tempat mencurahkan isi hati. Tapi aku butuh tempat lain, meskipun hanya kecil lingkupnya, namun bisa memberikan ketenangan jiwa.

Menulis.

Aku menemukannya di dunia menulis.

Perlahan namun pasti, sejak tahun 2008 aku mulai menulis. Awalnya hanya di blog, kemudian mencoba menulis untuk antologi, dan berkelanjutan. Kisah sejatiku mulai bertebaran di puluhan antologi. Hingga akhirnya tahun 2010, aku putuskan... ini bisa jadi path atau jejak hidupku yang baru. Langkahku tidak lagi gemetar, aku mulai memikirkan sebuah pilihan hidup.

Dan di sinilah aku. Meski belum dan jauh dari kategori penulis terkenal, apalagi penulis profesional, namun aku berani bilang, aku adalah seorang penulis.

Seseorang yang melewati fase tak enak dalam hidupnya, sebelum menggerakkan pena di atas kertas putih yang baru dimiliki. 

Bercermin dari kehidupan pribadi, membaca status dan curhatan teman-teman sesama penulis, melihat dengan langsung kehidupan para penulis novel (terutama) dalam berjibaku mencari sesuap nasi, hingga memperhatikan setiap komentar dari setiap teman di dunia kepenulisan. Aku menemukan satu simpulan kecil, yang mirip dengan apa yang kurasakan. 

Seorang penulis, baru akan bisa menulis dan menyentuh perasaan pembacanya, jika ia sudah mengalami kehidupan yang pelik dan menderita terlebih dahulu dalam hidupnya. 

Jadi, jika kamu, hendak menjadi penulis, maka galilah pengalaman hidupnya di sisi yang paling tidak enak. mulailah dari sana. Karena penderitaan dan ketidaknyamanan hidup itu memberimu satu nilai plus untuk memulai sebuah tulisan. 

Percayalah... Karena aku memulainya dari sana...:)


*efek dari melihat teman yang kesulitan menulis, dan saat kulihat dari aspek ekonominya, ia berkecukupan. Hingga tak ada motivasi dalam menulis. Saat kulihat dari aspek penderitaan hidup, ia kesulitan mencarinya...:) 

Patah Hati Berbuah Domain Diri

Berdiri di samping banner buku " Dan Akupun Berjilbab" yang aku susun.
Isi buku ini berasal dari lomba "Jilbab Pertama"
yang aku gusung di Multiply tahun 2010, terbit 2011 akhir dan best seller di tahun 2012.


Aku sudah lama mengenal blog. Sekitar awal tahun 2004. Sebelumnya cukup rajin menuliskan kisah dan curhatan hati di blog milik (alm) Friendster.

Belajar ngeblog dengan lebih rutin justru di Blogspot, dan kemudian makin intens di Multipy, yang sebentar lagi akan "membunuh diri".

Aku benar-benar patah hati, ketika tahu Multiply tak akan lama bisa dinikmati. Nyaris pertengahan bulan Ramadan tahun 2012, aku menghentikan tulisanku di sana. Sibuk menyimpan file-file dan akhirnya migrasi ke Blogspot lamaku, dan menjajal areal baru di Wordpress.


Tapi aku kehilangan gairah ngeblog.
read more