Oct 31, 2014

Dari Fauzi Baadila Hingga Kufu di Dunia Menulis



       Sabtu, kemarin, aku nggak sengaja nonton acara Mata Hati di Kompas TV. Isinya satu jam bersama Fauzi Baadila.
       Kuikuti acara tersebut sampai habis. Beruntung, hari itu anak-anak lagi asyik bermain.
       Aku terkesan dengan kisah hidupnya. Kalau dijadiin novel atau karya fiksi, menarik sekali. Anak bungsu dr 3 bersaudara, memiliki ayah diplomat. Kedua kakak meninggal karena kanker. Menjadikannya sebagai anak tunggal yg berkarakter keras.
       Beberapa kali mengalami fase nyaris mati, mulai dr nyaris tenggelam hingga over dosis, hingga akhirnya membuat dia kembali ke jalan religi dan tak pernah lagi meninggalkan sholat 5 waktu.
       Jarang jadi tokoh utama dalam film, (alasannya dia lebih memilih peran yang punya moment untuk "mencuri perhatian penonton") sehingga baru main di 20an film dan menolak 30an naskah film krn tidak sesuai prinsip hidup. Suka main iklan krn honornya gede, namun hanya sekali main sinetron stripping demi biaya pernikahan, beli mobil dan rumah 

       Saat ini berstatus duda tanpa anak, dan fokus pada ibadah dan pekerjaannya sbg pekerja seni. Uniknya lagi, ia mengaku memiliki alter ego, atau jiwa-jiwa "hidup" di sekitarnya sekitar 3-4 orang, yang mengajaknya ke arah kebaikan. Dia bahkan menyimpulkan sendiri -dalam obrolannya- bahwa bisa jadi dia terkena sakit schizophrenia atau sakit jiwa. Ketawanya bikin aku merinding. 

      Terus? Poin nulis ini apa?
      Sebetulnya sih.... Gak ada, 

      
       Hanya tadi terpikir perihal karakternya Fauzi Baadila yg awalnya keras banget dan hobby berantem, dan jika bicara gak ada tedeng aling2, mengingatkanku, pada sedikit kesamaan dgn aku "dulu".
       Dulu, sebelum berhijab, aku kalau marah gak pake tedeng aling-aling, susah basa basi dan air muka gak bisa ditutupi jika tidak suka.
       Setelah berhijab, gimana?
       Ya, adalah sedikit perubahan. Kalau marah, liat-liat sekitar, meski air muka tetap tidak bisa bohong, keliatan banget kalau udah gak suka. 

       Nah, di dunia maya, saat usia sudah masuk angka 4, pengennya bisa lebih bijak donk ya?  Tapi ternyata susah.
       Susahnya itu kalau sudah tak suka, padahal harus satu komunitas, harus memposisikan sebagai profesional (atau semi-pro) sebagai penulis, atau teman di satu komunitas. Itu berat banget, buat karakter yg susah basa-basi kayak aku.
       Bisa aja sih, berprinsip, ya unfriend aja, atau blocked sekalian! Masalahnya adalah... aku berusaha tidak kekanak-kanakan mengingat usia sudah tak patut lg bersikap demikian 

        *enakan jadi anak2 kalau udah gini ya? berpikirnya gak njelimet 


        Itu aja yg mau ditulis?
        Nggak juga, kalau mau baca terus boleh kog! 


      Satu lg yg dibahas oleh Fauzi Baadila kemaren yg juga menarik perhatianku adalah, bahwa dia gak suka dunia film yg ada "kufu-kufuan" atau blok2an gitu. Si anu sama genk anu. 

      Kondisi ini kayaknya mulai kurasakan di dunia kepenulisan.
        Yang gak suka sama si A, ntar rame2 ngejauhin si A, bikin rumpian sendiri. Yg berusaha disayangin editor dan penerbit akan berusaha memberi komen dan tanggapan yg menyenangkan editor, bahkan berhati-hati membuat status, agar tidak membuat illfeel editor atau penerbit.
      *Terkadang aku suka mikir, kalau aku jd editor atau penerbit, kira2 bisa bedain gak ya penulis yg basa-basi, penjilat atau yg emang beneran tulus berkomentar ya? Pasti susah menilainya di dunia maya  Kudu ketemu langsung supaya tau karakter aslinya.
      Ada  group yg menolak si X di groupnya, atau bahkan merasa diri senior dan menegur yunior karena si yunior berteman dgn org yg tidak disukai oleh si senior.
      Oh well, itu pengalaman teman sih, bukan aku. Sebagai orang yg sudah "tua", mungkin orang sudah males negur aku, yg kalau ditegur juga, terkadang cuwek, gak ngerti atau sekalian balas nyindir dan marah juga, gak peduli mau di komunitas manapun. entahlah... seperti tadi, masih susah belajar santun lebih banyak lagi, agar disayang banyak orang di dunia menulis.
     Belajar dr acara Mata Hati dan Fauzi Baddilla kemarin, aku jadi merenungkan banyak hal. Termasuk status-status facebook teman yg kuhormati (dulunya) hingga yg masih kusegani sampai sekarang. 


          Tulisan diatas i sudah kubuat sebagai status di FBku, reaksi banyak pihak, ternyata menurut sebagian teman penulis, mereka mengalami "bully" atau sikap tak nyaman dari teman sesama group kepenulisan. Namun ada juga dengan santai berkata.. "just be yourself"... Dan banyak reaksi lainnya. 
         
          Sebetulnya, terlepas dari kesukaanku pada wawancara Fauzi Baadila, apalagi mendengar komen salah seorang teman, bahwa rumahnya Fauzi digunakan sebagai markas Komunitas Indonesia Tanpa JIL yang hadap-hadapan dengan markas JIL, membuatku semakin kagum dengan karakter alami dan macho serta religi Fauzi. Namun, tulisan di facebookku itu adalah bentuk keprihatinanku, atas sikap sebagian (mungkin tak banyak) dari sesama penulis yang merasa perlunya kufu. Apalagi paska pilpres, bukan main terasanya kufu para penulis tersebut. Padahal sebagai bagian dari dunia ekonomi kreatif, sikap demikian tak begitu membangun dan bisa saja menjadi penghalang akses menuju peningkatan kreatifitas penulis. Entahlah...

         Perang mental sering terjadi di kalangan para penulis yang menggunakan media sosial. Mungkin aku sesekali terlibat di dalamnya. Bisa jadi, banyak yang mulai tak suka dengan status facebookku. Tak masalah, karena itu pure dari diriku. Tak ada desakan dari kufu manapun. 

        Dari sini, mungkin perlu dipikirkan juga, mengapa terjadi kufu di dunia ekonomi kreatif? Siapa yang membuatnya terjadi? Jangan-jangan, tanpa disadari, tingkat kreatifitas kita pun mulai dibatasi oleh invisible hand? :) *ah dasar penulis penggemar fantasy, mulai kemana-mana pikirannya. 


*Akhir Oktober 2014. Mencoba kembali ngeblog. :) 

Patah Hati Berbuah Domain Diri

Berdiri di samping banner buku " Dan Akupun Berjilbab" yang aku susun.
Isi buku ini berasal dari lomba "Jilbab Pertama"
yang aku gusung di Multiply tahun 2010, terbit 2011 akhir dan best seller di tahun 2012.


Aku sudah lama mengenal blog. Sekitar awal tahun 2004. Sebelumnya cukup rajin menuliskan kisah dan curhatan hati di blog milik (alm) Friendster.

Belajar ngeblog dengan lebih rutin justru di Blogspot, dan kemudian makin intens di Multipy, yang sebentar lagi akan "membunuh diri".

Aku benar-benar patah hati, ketika tahu Multiply tak akan lama bisa dinikmati. Nyaris pertengahan bulan Ramadan tahun 2012, aku menghentikan tulisanku di sana. Sibuk menyimpan file-file dan akhirnya migrasi ke Blogspot lamaku, dan menjajal areal baru di Wordpress.


Tapi aku kehilangan gairah ngeblog.
read more