Sep 15, 2014

Jodoh dan Naskah

pinjem dari sini 


Pernah berpikir nggak, kenapa naskah buku kita ditolak penerbit? Atau dikasih balasan dari penerbit, misalnya “maaf ditolak karena bahasannya terlalu padat.”

Nah bisa jadi penolakan terjadi karena beberapa hal, seperti 
  1. Mungkin naskah kita tersebut banyak kalimat tidak efektifnya.
  2. Bisa juga karena isi naskah belum disederhanakan. Serta perlu disisipin tips dan beberapa kisah nyata yang mendukung. (karena kebanyakan penerbit menyukai naskah yang aplikatif).  
  3. Masukkan juga point-point penting (jika naskah non-fiksi) pada naskah tersebut. Bahasan yang terlalu panjang, bisa dipecah atau dibagi-bagi lagi menjadi beberapa bagian, sehingga tidak terkesan padat.
  4. Bahkan jika ceritanya kebanyakan ide yang muncul sehingga membuat tulisan jadi tak focus, dapat membuat penerbit menolak juga. Sama halnya dengan banyaknya narasi dibanding dialog atau sebaliknya.
  5. Selain itu, kita juga harus tau jenis buku yang diterbitkan oleh penerbit, sehingga terhindar kemungkinan ditolak penerbit karena naskahnya tidak cocok dengan jenis buku atau genre yang digusung oleh penerbit.
  6. Dan masih banyak lagi alasan lainnya.


Satu hal yang pasti, bahwa banyaknya naskah yang masuk pada satu penerbit, dapat juga menyebabkan naskah tidak mendapat kabar, atau kalaupun dikabarkan ditolak, tapi tak ada alasan penyebab penolakan. Jadi beruntunglah seorang penulis, apabila naskahnya ditolak, tapi disertai kritikan atau masukan dari pihak penerbit.

Yang penting, seperti halnya jodoh yang datang dari Tuhan, maka demikian pula perjalanan jodoh naskah dengan penerbit.

Dibutuhkan kekuatan mental penulis untuk menerima kenyataan penolakan, kemudian bangkit disertai kreativitas yang tinggi untuk merevisi serta membaca kemauan penerbit dan pembaca, serta memiliki kepercayaan diri yang bagus untuk menyakini bahwa naskah tersebut kelak akan berjodoh dengan satu penerbit.

Toh, jodoh tak akan lari kemana. J

(Berdasarkan hasil diskusi tentang jodoh dan naskah di group FB Iruta Penulis, telah ditulis ulang).






Patah Hati Berbuah Domain Diri

Berdiri di samping banner buku " Dan Akupun Berjilbab" yang aku susun.
Isi buku ini berasal dari lomba "Jilbab Pertama"
yang aku gusung di Multiply tahun 2010, terbit 2011 akhir dan best seller di tahun 2012.


Aku sudah lama mengenal blog. Sekitar awal tahun 2004. Sebelumnya cukup rajin menuliskan kisah dan curhatan hati di blog milik (alm) Friendster.

Belajar ngeblog dengan lebih rutin justru di Blogspot, dan kemudian makin intens di Multipy, yang sebentar lagi akan "membunuh diri".

Aku benar-benar patah hati, ketika tahu Multiply tak akan lama bisa dinikmati. Nyaris pertengahan bulan Ramadan tahun 2012, aku menghentikan tulisanku di sana. Sibuk menyimpan file-file dan akhirnya migrasi ke Blogspot lamaku, dan menjajal areal baru di Wordpress.


Tapi aku kehilangan gairah ngeblog.
read more