Aug 31, 2013

Day #6 : Bicara Laos Versi Ibu Rumah Tangga, Bukan Bumbu Masakan Belaka

Laos di antara Thailand dan Vietnam


               Diakui atau tidak, berita seputar negara Laos nyaris tak sering saya dengar, ketimbang negara-negara ASEAN lainnya. Bisa jadi tagline promosi pariwisata yang digunakan tak sepopuler Malaysia, kondisi kekayaan alam tak sekaya Brunei, kebudayaan tak semenarik Thailand atau Filiphina. Atau mungkin tingkat kesejahteraan tak sekeren Singapura, dan bahkan, keluasan negara, jelas tak seperti Indonesia. Bagi saya, informasi tentang Laos itu tak jauh berbeda dengan Myanmar dan Kamboja. Apalagi ketiga negara terakhir ini, memang termasuk yang terakhir bergabung di ASEAN, kisaran tahun 1997 -1998.

               Saya juga baru “ngeh”, bahwa Laos, meskipun sudah tergabung di ASEAN 26 tahun lalu, ternyata baru membuka diri dalam hal bekerjasama di segenap aspek, dengan negara-negara anggota ASEAN, justru baru di tahun 2004. Artinya, belum banyak kontribusi Laos dalam komunitas tunggal ASEAN.

               Jika sudah demikian kondisinya, ketika muncul pertanyaan, bila posisi saya sebagai negara Laos, maka apa bentuk investasi diplomatik yang dapat saya berikan, dalam kemitraan yang terjalin di dunia internasional, terutama dalam konteks ini adalah komunitas ASEAN? Meski ini bukan pertanyaan sederhana, lagi-lagi sebagai ibu rumah tangga yang bermodalkan kecepatan mencari info di dunia maya, saya mencoba menjawabnya dengan pola yang sederhana.

               Saya akan mulai dengan mencari jawaban, kenapa Laos baru membuka diri? Kondisi apa yang menyebabkan itu terjadi? Kira-kira bagaimanakah proses yang perlu dilakukan, untuk mencapai investasi diplomatik yang menarik dunia internasional untuk melirik Laos? Dan pada akhirnya, manfaat apa yang akan Laos berikan bagi ASEAN, jika berhasil memberikan satu bentuk investasi diplomatik tersebut?

               Kemungkinan terkuat, terkait dengan baru membuka dirinya Laos kepada negara ASEAN dan dunia internasional, adalah kondisi politik dalam negara. Umumnya, kondisi politik sebuah negara, mempengaruhi pilihan untuk aktif atau tidak dalam satu komunitas. Apalagi, Laos ternyata merupakan salah satu negara penganut komunis yang tersisa di Asia Tenggara.[i] Perbaikan diri secara internal, terkait ekonomi, juga ikut mempengaruhi kebijakan untuk berkontribusi di ASEAN di tahun 2004. Masalah seperti banyaknya penduduk berpendidikan yang pergi bekerja di luar negeri, cukup mempengaruhi kondisi ekonomi laos.[ii]

Berkibar "semangat" Bendara Laos


               Karena itu, agar tercapainya investasi diplomatik yang membuat Laos dilirik, langkah pertama tentulah melakukan banyak kerjasama dengan negara internasional. Laos melakukannya pertama kali di tahun 2004, dengan menjadi negara pengekspor ke Amerika Serikat. Belum lagi, fakta bahwa industri pariwisata Laos adalah salah satu bidang yang paling cepat berkembang dan berkontribusi bagi negaranya.[iii] Ini artinya, untuk bidang pariwisata, Laos sudah bisa memposisikan dirinya sejajar dengan negara ASEAN, sehingga dapat bersama-sama secara tunggal mempromosikan diri sekaligus ASEAN. Pemilihan tagline yang tepat bagi promosi pariwisata, serta melakukan promosi ASEAN bersama melalui beragam seminar, hubungan kerjasama antara negara yang paling dekat (misalnya Thailand atau Vietnam sebagai negara-negara yang dilewati sungai yang sama, yakni sungai Mekong), dapat menjadi pilihan dalam berinvestasi.

               Bahkan, Laos di tahun 2013 ini telah dinobatkan sebagai negara Tujuan Turis Terbaik di Dunia, oleh Dewas Pariwisata dan Perdagangan Eropa (ECTT). Dengan meningkatnya turis yang datang hingga 22 persen setiap tahunnya, memberikan sumbangan pendapatan kedua terbesar bagi negaranya.[iv]

pariwisata laos yang menggeliat dari "tidur"

Ini artinya, jika Laos berhasil mengatur hubungan kerjasama pariwisata dan ekonomi dengan bijak, maka dapat dipastikan, manfaat yang diberikan Laos bagi ASEAN, jelas akan diperhitungkan. Kontribusi Laos di bidang pariwisata, dapat mendongkrak peningkatan pariwisata di negara-negara yang dilalui sungai Mekong, seperti Thailand dan Vietnam. Saat ini, Laos pun telah memberikan bebas visa bagi negara-negara ASEAN. Dengan demikian, tidak lagi menjadi masalah bagi Laos, untuk mengenal bidang mana yang akan memberikan daya tarik untuk berinvestasi diplomatik.

Dengan demikian, Laos di negara ASEAN, tak sekedar “bumbu” belaka. Namun memberikan nilai tambah bagi ASEAN, dan juga bagi negara di sekitarnya.

Patah Hati Berbuah Domain Diri

Berdiri di samping banner buku " Dan Akupun Berjilbab" yang aku susun.
Isi buku ini berasal dari lomba "Jilbab Pertama"
yang aku gusung di Multiply tahun 2010, terbit 2011 akhir dan best seller di tahun 2012.


Aku sudah lama mengenal blog. Sekitar awal tahun 2004. Sebelumnya cukup rajin menuliskan kisah dan curhatan hati di blog milik (alm) Friendster.

Belajar ngeblog dengan lebih rutin justru di Blogspot, dan kemudian makin intens di Multipy, yang sebentar lagi akan "membunuh diri".

Aku benar-benar patah hati, ketika tahu Multiply tak akan lama bisa dinikmati. Nyaris pertengahan bulan Ramadan tahun 2012, aku menghentikan tulisanku di sana. Sibuk menyimpan file-file dan akhirnya migrasi ke Blogspot lamaku, dan menjajal areal baru di Wordpress.


Tapi aku kehilangan gairah ngeblog.
read more