Dec 31, 2012

[FF Perempuan] Permintaan Terakhir Sang Penulis





Assalamualaikum Kak…”,  sapa Rini sambil menyentuh lenganku lembut. Kubuka mata dan perlahan menatap wajah editorku yang cantik. Rini terlihat anggun di usianya menjelang empat puluh tahun.

Waalaikumsalam Rin. Alhamdulillah kita masih berjumpa lagi hari ini ya?” balasku lemah sembari memberikan senyum optimisku. Rini memaksakan seulas senyum di bibirnya, meski aku tahu hatinya berduka. Rini cukup tabah mendampingi sejak hari pertama ketidakberdayaanku. Kanker rahim yang menggerogotiku telah sampai pada level bahwa aktivitas berbaring merupakan  satu-satunya kegiatan yang  tak membuatku kelelahan.

Kecintaan Rini pada dunia editing serta kesukaannya membaca berbagai karya penaku membuatnya sabar dan betah berjam-jam mendampingiku. Kerja samaku dengannya telah berlangsung lama. Pagi itu, tak sengaja kulirik lagi jari manisnya yang telanjang tanpa satu cincinpun.

"Hari ini kita melanjutkan cerita yang kemarin kan Kak?” tanya Rini membuyarkan lamunanku.

“Tidak Rin. Kali ini aku ingin membicarakan hal lain yang tidak terkait dengan memoarku Rin. Rasanya sudah tak banyak lagi yang perlu ditulis di naskah itu.”jawabku perlahan.

Keputusanku  sudah bulat untuk mengungkapkan isi hati yang telah lama mengendap.  Memikirkannya berhari-hari saja sudah membuatku letih. Aku yakin ini adalah keputusan terbaik.

“Mam, Ratna berangkat sekolah dulu ya…” sapa putri tunggalku yang langsung membuyarkan susunan kalimat yang tengah kupersiapkan. Ratna mencium tangan dan keningku. Cahaya mata remajanya menunjukkan semangat yang  menutupi selaput duka di hatinya. Ratna juga mencium tangan dan pipi Rini. “Ratna pergi dulu ya Bu Rini, sampai ketemu nanti siang. Ibu jangan kemana-mana sampai Ratna pulang. Ada karya Ratna yang ingin Ratna tunjukkan pada Ibu.” rayu Ratna.

Kulihat, Rini tersenyum mengangguk. Beberapa detik kemudian, Rini menundukkan wajah. Ada kabut samar terlihat di ujung matanya. Kugenggam tangannya. “Jangan berduka Rin, Ratna sudah terbiasa dengan kondisiku. Ia pasti kuat jika aku pergi.”  Rini perlahan menganggukkan kepalanya.  

“Rin…, aku ingin mengatakan sesuatu. Kuharap engkau mengabulkannya. Anggap saja ini adalah permintaan terakhirku padamu.”

Rini memandangku seolah tak suka akan kata-kata tersebut. Ia menggelengkan kepalanya. “Jangan bicara seperti itu Kak. Ajal itu milik Allah.” Jawabnya sambil berusaha mengalihkan perhatian ke arah notebook birunya.

“Rin... Kanker ini sudah sampai stadium yang tak dapat disembuhkan. Nafaskupun semakin pendek. Mohon kau kabulkan pintaku ini. Pleaseee…” rayuku penuh harap. Mataku mencari matanya untuk memastikan ia mendengar permohonanku.

Perlahan aku melihat anggukan kecil kepalanya yang tertutup rapat oleh jilbab. Aku tersenyum bahagia. Aku memberi isyarat agar Rini lebih mendekat.  

“Rin, aku ingin kamu menjadi ibu bagi Ratna dan juga mendampingi Mas Agus. Aku tahu kamu sangat sayang Ratna.”


***

Jumlah Kata : 400 kata termasuk judul

gambar pinjem dari sini 

Patah Hati Berbuah Domain Diri

Berdiri di samping banner buku " Dan Akupun Berjilbab" yang aku susun.
Isi buku ini berasal dari lomba "Jilbab Pertama"
yang aku gusung di Multiply tahun 2010, terbit 2011 akhir dan best seller di tahun 2012.


Aku sudah lama mengenal blog. Sekitar awal tahun 2004. Sebelumnya cukup rajin menuliskan kisah dan curhatan hati di blog milik (alm) Friendster.

Belajar ngeblog dengan lebih rutin justru di Blogspot, dan kemudian makin intens di Multipy, yang sebentar lagi akan "membunuh diri".

Aku benar-benar patah hati, ketika tahu Multiply tak akan lama bisa dinikmati. Nyaris pertengahan bulan Ramadan tahun 2012, aku menghentikan tulisanku di sana. Sibuk menyimpan file-file dan akhirnya migrasi ke Blogspot lamaku, dan menjajal areal baru di Wordpress.


Tapi aku kehilangan gairah ngeblog.
read more