Feb 10, 2013

[Proses Kreatif ] Berhari-hari Menuliskan “Sembilan Tahun Menanti” Dalam Buku “Jangan Lukai Ibumu!”



Terus terang, ketika membaca pengumuman Sayembara Menulis Penerbit Qultummedia , aku sangat ingin ikut serta. Selain hadiahnya menggiurkan, aku juga belum pernah ikut sayembara menulis yang diadakan oleh sebuah penerbitan.

Seringnya ikut audisi, membuatku ingin mencoba kemampuanku menulis lewat sebuah sayembara.

Tema yang aku pilih adalah “ketika menjadi ibu”. Sebuah tema yang menjadi favoritku, karena aku cukup bercerita tentang diriku tanpa perlu mengkhawatirkan banyak pihak.

Namun, karena ini pertama kali ikut lomba, aku mempersiapkan naskah yang kuposting di blogku di blogspot ini selama beberapa  hari.

Pertama, aku hanya membuat draft kasar, mengenai rencana tulisan  yang ingin aku tuangkan. Kedua, kupelajari beberapa pilihan kata yang ada di dalam kamus besar Bahasa Indonesia *sesuatu yang jarang aku lakukan. ^_^. 
Ketiga, aku sering meninggalkan naskah itu dua tiga hari, untuk aku baca ulang dan perbaiki di sana sini. Boleh dibilang, nyaris 2 minggu aku menuliskan naskah berjumlah 8 halaman tersebut.

Kuangkat tema tentang perasaanku ketika menjadi seorang ibu. Sempat beberapa kali aku mengusap airmata, karena membuatku harus membuka kembali kenangan lama. Tapi aku percaya, menulis adalah terapi hati. Dengan menulis, aku bisa mengeluarkan kesedihan yang terkadang kututupi dengan aktifitas sehari-hariku.

Ketika menjelang deadline, 2 hari sebelum deadline, tulisan itu kuposting. Sialnya aku, ternyata speedyku mengalami masalah. Lemoooot minta ampun. Tapi aku enggak kehilangan akal. Kubawa laptop kecilku ke rumah tante yang masih satu kompleks. Te’ Ima menggunakan ISP bukan speedy, jadi kemungkinan besar, akses internetnya aman.

Sesampai di rumah Te’ Ima, alhamduillah, internetnya lancar jaya. Kuposting tulisan di blogspot dengan judul “Sembilan Tahun Menanti”. Kutulis email ke Qultummedia, dan kupastikan semua syarat telah kupenuhi, termasuk mengirim scan surat mengenai keaslian naskahku. Setelah yakin, semuanya sesuai syarat, ku enter dan send message.

Bismillah….

Setelah itu, kupasrahkan saja pada Allah nasib naskah itu. Apalagi kudengar dari Mbak Efin, istri Mas Tian, bahwa pesertanya ratusan naskah. Hiks, aku jadi deg-degan. Tapi sekali lagi, sekalinya naskah sudah kukirim, maka pantang untuk aku pikirkan lagi nasibnya.

Hingga pada suatu hari, hasil lomba itu diumumkan di websitenya. Aku senang mendapati nama Mbak Efin menjadi juara tiga lomba tersebut. Hadiah uangnya lumayan…hehehe. Sementara dengan deg-degan aku mencari kemungkinan naskahku masuk dalam 10 naskah pilihan. 

Alhamdulillah, mataku rasanya tak percaya melihat ada nama dan naskahku di sana.

Senangnya minta ampun. Karena hadiahnya tidak saja berupa paket buku dari pihak penerbit, namun juga  kemungkinan akan dibukukan.

Beberapa bulan kemudian, naskah itu memang menjadi bagian dari sebuah buku berjudul “Jangan Lukai Ibumu”. Tulisanku terpampang manis di halaman 44 – 53, bersebelahan dengan naskah Mbak Efin yang berjudul “ Apapun Yang Terjadi, Aku Selalu Mencintaimu” sebuah cerita yang juga menguras airmataku.

Masuknya naskahku ke dalam 10 tulisan terpilih di sebuah sayembara menulis ini, juga menambah rasa percaya diriku. Sama seperti ketika aku pernah masuk dalam 10 terbaik lomba menulis majalah Bobo tahun 2009. Sebuah kepercayaan diri, bahwa menulis itu bisa dipelajari, bahwa bakat hanyalah memainkan peranan kecil dalam sebuah kerja keras.

Aku memang sempat tak pernah yakin, jika diri ini mampu menulis secara baik atau menarik. Namun aku selalu belajar dan bertanya pada banyak teman yang sudah mumpuni atau berpengalaman menulis. Beberapa hal yang aku dapatkan, bahwa tak malu bertanya, bersedia menerima kritikan dengan hati lapang, rajin membuka kamus besar Bahasa Indonesia maupun Thesaurus, serta membiasakan mengendap tulisan sebelum melakukan self editing, adalah beberapa kiat yang patut untuk diterapkan dalam proses pembelajaran ini.

Itu yang aku lakukan, dan hasilnya adalah tulisanku berada dalam buku yang sejak Agustus 2011 ini dapat teman-teman beli di toko buku-toko buku besar seluruh Indonesia.




Patah Hati Berbuah Domain Diri

Berdiri di samping banner buku " Dan Akupun Berjilbab" yang aku susun.
Isi buku ini berasal dari lomba "Jilbab Pertama"
yang aku gusung di Multiply tahun 2010, terbit 2011 akhir dan best seller di tahun 2012.


Aku sudah lama mengenal blog. Sekitar awal tahun 2004. Sebelumnya cukup rajin menuliskan kisah dan curhatan hati di blog milik (alm) Friendster.

Belajar ngeblog dengan lebih rutin justru di Blogspot, dan kemudian makin intens di Multipy, yang sebentar lagi akan "membunuh diri".

Aku benar-benar patah hati, ketika tahu Multiply tak akan lama bisa dinikmati. Nyaris pertengahan bulan Ramadan tahun 2012, aku menghentikan tulisanku di sana. Sibuk menyimpan file-file dan akhirnya migrasi ke Blogspot lamaku, dan menjajal areal baru di Wordpress.


Tapi aku kehilangan gairah ngeblog.
read more