Feb 21, 2013

[Proses Kreatif] Airmata di balik kisah “Kesabaran Yang Menguatkan”.

Launching buku Duhai Muslimah, Bersyukurlah di UIN, Ciputat, Jakarta



Lagi-lagi keisenganku blog walking ke MP teh Pipiet Senja, membuatku mampir sejenak, untuk membaca sebuah pengumuman audisi naskah, bertemakan Perempuan Tangguh. Aku sempat ragu untuk ikut serta, karena rasanya tak ada sifat itu pada diriku.

Namun karena keinginan yang kuat untuk melatih diri agar bisa lebih baik lagi menulis, akupun mencoba menceritakan karakter dua orang temanku di kampus yang tegar menjalani cobaan dalam meraih keturunan. Sayangnya tulisan itu tidak selesai.

Kucoba lagi menuliskan kisah tante yang berjuang kuat untuk mendapatkan anak setelah 15 tahun pernikahan, namun kemudian bayinya meninggal, tapi aku tak mendapatkan greget pada tulisan itu, karena saat itu, aku belum pernah hamil atau kehilangan bayi.

Akhirnya kertas-kertas penuh coretan itu kuabaikan saja.

Aku ingat, kala itu bulan Februari 2008. Aku ada di salah satu hotel berbintang di Jakarta Utara, menemani suami yang mendapatkan training dari kantor selama 2 minggu di sana. Hari-hari kuisi dengan aktivitas berenang, bersepeda keliling Ancol, menikmati Ancol dengan berbagai hiburannya. Sendirian. Karena suami dari pagi hingga sore hari menjalani training.

Aku mengalami kebosanan tingkat tinggi. Perutku terasa mual, hingga aku merasa maag kumat karena stress sendirian di hotel. Kertas untuk menulis tidak kulanjutkan. Di  kala iseng sedang memandangi eksotisnya laut dari kamar hotel, telepon dari sepupu jauhku mengabarkan dia hamil. Berita yang kuterima dengan suka cita.  Si sepupu itu baru bisa menikah di usianya ke 34 tahun, sehingga rasanya sangat wajar, ketika ia mendapati dirinya hamil, maka berita gembira itu ia sebarkan ke segenap handai taulan.

Di tengah kecamuk hati antara bahagia mendengar berita saudara tersebut, mual karena merasa maag  dan rasa miris karena belum punya momongan selama 8 tahun lebih pernikahan, akhirnya kuambil kertas, dan mengalihkan perhatianku, dengan mencoret-coret kertas itu dan kemudian, merobeknya.

Kubatalkan diri, untuk ikut serta dalam audisi naskah tersebut.

Ternyata, sepulang dari hotel tempat aku dan suami menginap, aku mendapati berita baik, bahwa aku telah mengandung, sepasang janin kembar. Mereka telah bersemayam di usia 6 minggu. Perasaan mual yang kurasakan selama di hotel, ternyata bukan maag, melainkan mual karena perubahan hormon dan kondisi rahim yang membesar. Alhamdulillah.

Hingga, 6 bulan setelah kabar baik tersebut, aku mendapatkan cobaan. Kehilangan salah seorang janin dari calon anakku. Dan, itulah perasaan kehilangan yang paling berat yang pernah aku hadapi hingga saat itu. Rasa dukanya sangat mendalam. Hingga kupilih untuk menelan rasa sedih itu bulat-bulat, agar putriku yang berhasil survive tidak merasa ibunya terlalu sedih.

Aku pun lama tidak menyentuh komputer bahkan internet. Beberapa teman di dunia maya menjadi teman nyata, datang menjengukku di rumah sakit.

Setelah kelahiran putriku, dan kondisi mental dan fisikku mulai stabil, aku pun membuka internet dan kembali mencoba menulis di blog multiply. Setelah sempat, mengisahkan sedikit rasa duka kehilanganku tersebut, tak lama aku menerima chat dari teh Pipiet Senja di YM. Beliau menyarankanku untuk tetap ikut audisi naskah bertema Perempuan tangguh. Aku bingung bercampur senang. Bingung hendak menulis apa, tapi senang karena teh Pipiet Senja menyarankanku untuk ikut serta.

Akhirnya kuputuskan untuk menuliskan kesabaran suamiku dalam menghadapi cobaan hidup memiliki seorang istri yang lama memberinya keturunan. Betapa Bang Asis begitu kuat dan menyabarkan diriku dalam menjalani setiap ujian hidup terkait punya anak dan cobaan kehilangan anak. Aku bahkan menuliskan satu fase dalam hidupku, ketika aku menyarankan suamiku menikah lagi. Aku tahu, meskipun tak boleh menyalahkan diri sendiri, aku tetap menganggap diriku yang merupakan pasien suspect PCO lah yang membuatku sulit memberikan keturunan.

Aku ingat sekali ketika Bang Asis bilang “Yang kita butuhkan sekarang ini adalah menyakinkan Allah, bahwa kita siap untuk mendapatkan amanah-Nya, Sayang…”  [hlm 163]

Airmataku deras sekali ketika mengetikkan setiap kata dalam naskah yang akhirnya lolos dalam buku Duhai Muslimah Bersyukurlah. Cukup lama aku mengerjakan naskah ini. Selain karena baru punya bayi, juga karena aku adaptasi dengan perananku sebagai ibu baru, serta mencoba untuk tak terlalu bersedih dalam menuliskan setiap kata, karena mengingatkanku pada almarhum Miftah, kembarannya Billa.

Aku cukup lama mengendapkan tulisan itu, membaca ulang dan mengedit lebih banyak lagi agar aura kemarahan kepada beberapa pihak yang aku tulis di situ lebih bisa elegan dan tak menyakiti hati orang lain.

Setelah yakin tidak ada pihak lain yang merasa dirugikan atas tulisan tersebut, baru kukirim ke teh Pipiet Senja. Namun naskah itu lama tidak ada kabar.

Nyaris dua tahun kemudian, bulan Juli 2010, Teh Pipiet baru memberi kabar, akhirnya buku itu lahir. Judul Naskahku diubah menjadi “Kesabaran Yang Menguatkan”. Sebelumnya aku lupa menggunakan judul apa, ada kata “Subhanallah” di awal judul kalau tidak salah.

Aku senang ikut serta dalam antologi ini. Karena dalam buku itu aku sebuku dengan Gola gong, salah seorang penulis yang kusuka ketika remaja. Tulisanku berada di halaman 157 hingga 170.  Kontributor lainnya dalam buku ini antara lain : Anneke Putri, Kinoysan, Diansya, Rini Badriah, Rosita Sihombing dan beberapa penulis lainnya. 

Satu hal yang membuatku bahagia lagi adalah, launching buku Duhai Muslimah Bersyukurlah yang diadakan di UIN, atas bantuan teman-teman di Pena Lectura, membuatku akhirnya bertemu secara langsung dengan seorang Pipiet Senja. Alhamdulillah.

Patah Hati Berbuah Domain Diri

Berdiri di samping banner buku " Dan Akupun Berjilbab" yang aku susun.
Isi buku ini berasal dari lomba "Jilbab Pertama"
yang aku gusung di Multiply tahun 2010, terbit 2011 akhir dan best seller di tahun 2012.


Aku sudah lama mengenal blog. Sekitar awal tahun 2004. Sebelumnya cukup rajin menuliskan kisah dan curhatan hati di blog milik (alm) Friendster.

Belajar ngeblog dengan lebih rutin justru di Blogspot, dan kemudian makin intens di Multipy, yang sebentar lagi akan "membunuh diri".

Aku benar-benar patah hati, ketika tahu Multiply tak akan lama bisa dinikmati. Nyaris pertengahan bulan Ramadan tahun 2012, aku menghentikan tulisanku di sana. Sibuk menyimpan file-file dan akhirnya migrasi ke Blogspot lamaku, dan menjajal areal baru di Wordpress.


Tapi aku kehilangan gairah ngeblog.
read more