Dec 1, 2012

[Proses Kreatif] Mengeja dan Menyusun Buku Antologi Pertama Yang Kususun



Buku Antologi Pertama yang aku susun


Ketika aku asyik di depan komputer, tahun 2010 di hotel Pearl Garden, Guangzhou. Aku membaca tulisan tentang jilbab dari salah seorang kontakku bernama dr.Pritta. Dari sini aku tertarik untuk membuat sebuah lomba menulis di blog Multiply terkait ulang tahun blog MP ku kala itu. Maka lahirlah lomba menulis tentang Jilbab Pertama di blog MP ku. Alhamdulillah peminatnya banyak dan bikin aku kelimpungan juga menilainya.

Lomba yang mengharuskan pesertanya mengisahkan awal atau moment pertama mereka berjilbab tersebut ternyata memberikan begitu banyak kesan bagiku. Tak jarang aku tersenyum, karena beberapa cerita yang "aku banget", serta banyak pula yang penuh perjuangan dan mengharu biru ketika pertama kali mengenakan jilbab. Sungguh kumpulan cerita yang tak mudah untuk dilupakan.

Beberapa bulan kemudian setelah pengumuman pemenang, aku memandang tumpukan naskah tersebut. Rasanya sayang jika tidak ada kelanjutan dari naskah-naskah teman2 yang menarik untuk dibagi tersebut.

Akupun berinisiatif mengundang 25 teman yang aku perkirakan ceritanya menarik untuk dishare. Alhamdulillah semuanya menyukai ide mengumpulkan naskah tersebut.

Maka prosesnya pun dimulai. Naskah tersebut aku kembalikan ke teman-teman untuk melakukan self editing kembali. Tak lama, akupun mengumpulkan dan membaca serta mengeditnya ulang.

Bersamaan dengan itu, ada informasi dan pengumuman mengenai Komunitas Rumah Dunia yang membutuhkan naskah untuk menjadi bagian donasi atau pengumpulan dana untuk kepentingan pelepasan lahan bagi Rumah Dunia. Komunitas yang dipimpin oleh Gol a Gong ini sudah lama menarik perhatianku.

Melalui diskusi dan ijin teman-teman kontributor, buku yang telah aku susun rapi tersebut, aku sumbangkan ke mbak Tias Tatanka dan Mas Gol a Gong. Alhamdulillah niat baik itu diterima oleh mereka.

Naskah itupun pindah tangan ke freelance editor, Mbak Triani Retno. Mengalami perbaikan di sana sini. *Terima kasih atas setiap kritik, perbaikan dan pembelajarannya ya mbak Eno. BAru kemudian naskah yang sudah "nyaris jadi" tersebut, diberikan ke Mbak Tias untuk dicarikan "jodoh penerbitnya" sesegera mungkin.

Dalam hitungan bulan juga, kabar gembira akan lahirnya buku itu muncul. Editor pihak penerbit Inti Medina (dibawah bendera Penerbit Tiga SErangkai) menghubungiku dan berdiskusi sedikit melalui chat YM.

Akhirnya, di penghujung tahun 2011 yang indah. Ketika mbak Tias mengirim sms berita tentang cover buku antologi tersebut. Aku segera mendapatkan tag foto dari pihak tim Publishing and development TSnya, mbak Wonty.

Kupandangi cover cantik buku itu. Niat baik yang aku dan teman-teman usung ternyata mendapatkan peluang baik dari penerbit besar. Aku pun terharu melihat ada namaku terpampang di depan buku. Meskipun ini adalah buku antologi, alias kumpulan cerita, dan aku hanyalah sekedar menyusunnya, namun proses dari lahirnya ide hingga kelahiran buku ini sungguh memberi kesan sangat dalam.

Untuk itu, aku berharap, banyak teman yang membeli buku ini, tidak sekedar karena ingin tahu, atau karena ingin membeli buku itu karena masih temanku, namun juga karena dengan membeli buku tersebut, berarti membantu komunitas Rumah Dunia, sekaligus menyebarkan aroma penutup aurat yang indah bagi kaum perempuan di sekitarnya.



Selamat menikmati buku yang diniatkan untuk kebaikan bersama ini.

Patah Hati Berbuah Domain Diri

Berdiri di samping banner buku " Dan Akupun Berjilbab" yang aku susun.
Isi buku ini berasal dari lomba "Jilbab Pertama"
yang aku gusung di Multiply tahun 2010, terbit 2011 akhir dan best seller di tahun 2012.


Aku sudah lama mengenal blog. Sekitar awal tahun 2004. Sebelumnya cukup rajin menuliskan kisah dan curhatan hati di blog milik (alm) Friendster.

Belajar ngeblog dengan lebih rutin justru di Blogspot, dan kemudian makin intens di Multipy, yang sebentar lagi akan "membunuh diri".

Aku benar-benar patah hati, ketika tahu Multiply tak akan lama bisa dinikmati. Nyaris pertengahan bulan Ramadan tahun 2012, aku menghentikan tulisanku di sana. Sibuk menyimpan file-file dan akhirnya migrasi ke Blogspot lamaku, dan menjajal areal baru di Wordpress.


Tapi aku kehilangan gairah ngeblog.
read more