Feb 26, 2021

Sabar adalah Koentji


26 September 2016.
4 Tahun lalu. 


Pagi ini adalah drama buatku dan Aam. 
Proses dia mau keluar dr mobil saat tiba di parkiran sekolah adalah ujian kesabaran buatku.

Setelah 40 hari lebih ijin tidak masuk sekolah.... berdasarkan pertimbangan karakter Aam selama ini, memang kuputuskan selama aku ke tanah suci adalah lebih mudah bagi para sodaraku untuk mengasuh Aam, jika ia di rumah. Karena pergi sekolah bagi Aam adalah drama.

Maka....,hari ini adalah hari pertama Aam kembali ke sekolah.

"I don't like school" menjadi statement awalnya.

Saat kukatakan "there will be a playground in school." Maka jawaban Aam... "no... play ground is in Giant and Aeon.".

Bahkan saat kusuruh masuk mobil saat mengantarnya tadi, ia masih sempat bilang "let's go to teraland at giant." Kala kutanya "what?"

Dengan sigap ia mengurai alphabet dari kata tersebut sambil membentuk huruf dgn jemari mungilnya.

"T... E...R...A...L...A...N...D" (Dia mengucapkan dgn gaya alphabet dlm bahasa Inggris). 

Aku tersenyum miris. Kubilang "at this time...that playground ia closed. We go to alsyukro playground."

Dan drama terus berlangsung alot. Kugendong Aam dan melangkah ke sekolah. Jeritan2 tak sukanya membahana dan menarik perhatian segenap orang di sana.

Ini ujian penebalan mental dan muka buatku.

Kubawa terus Aam sampai ke halaman TK. Dan Aam masih menangis sampai kuberikan teh kotak kesukaannya. Lalu ia diam dan minum.

Satu demi satu anak2 TK datang. Kulihat Aam mulai menunjukkan sikap melunak. Tak ada jeritan. Ia juga mulai bersedia salaman dgn beberapa guru TK.

Bbrp belas menit kemudian saat kuajak main di playground sekolah....meski menarik bajuku...namun Aam tertarik bermain.

Aku pribadi harus kreatif berupaya berbicara dgn menggunakan kondisi sekitar sambil melibatkan hurud dan angka dalam upaya menarik perhatian Aam.

"Look all the hanging letter there Aam!". Ini saat menunjukkan jendela dan langit2 sekolah.

"Let's counting our step. Step one... step two...step three...." ini sambil mendekati pintu kelas.

dan seterusnya. Sampai Aam tertarik masuk kelas. Sekalian mendapat reward bermain dfn sekaleng alphabet bersama wali kelasnya.

Aam memang berbeda. Ia tak mau bergabung dgn anak2 TK lainnya. Ia mengajak bicara temen2nya dalam bahasa Inggris. Dan ujian lainnya adalah para guru yg tak semua bisa berbahasa Inggris.

Satu sisi seharusnya aku mencari sekolah dgn English sebagai bahasa pengantar.  Di sisi lain aku mencari sekolah dengan pengenalan agama islam sejak dini.

Tak semua sekolah mau menerima gifted child seperti Aam. Aku bersyukur Al syukro tak keberatan menerima Aam. Jika kucuba sekolah lain... belum tentu mrk tertarik dgn kondisi Aam. Bahkan jikapun ada sekolah bilingual yg tertarik. Belum tentu ada pengenalan agama islamnya.

Terus terang ini PR besar buatku. Sepertinya fokusku pada Aam akan mempengaruhi fokus di dunia menulisku. *sambil melirik tumpukan ide di dekat komputer.

Sekarang siap2 mau jemput Aam sekolah. 

We will see what happen then... 😎😎

#diarybunda
#giftedchild
#mykriwilAam

Patah Hati Berbuah Domain Diri

Berdiri di samping banner buku " Dan Akupun Berjilbab" yang aku susun.
Isi buku ini berasal dari lomba "Jilbab Pertama"
yang aku gusung di Multiply tahun 2010, terbit 2011 akhir dan best seller di tahun 2012.


Aku sudah lama mengenal blog. Sekitar awal tahun 2004. Sebelumnya cukup rajin menuliskan kisah dan curhatan hati di blog milik (alm) Friendster.

Belajar ngeblog dengan lebih rutin justru di Blogspot, dan kemudian makin intens di Multipy, yang sebentar lagi akan "membunuh diri".

Aku benar-benar patah hati, ketika tahu Multiply tak akan lama bisa dinikmati. Nyaris pertengahan bulan Ramadan tahun 2012, aku menghentikan tulisanku di sana. Sibuk menyimpan file-file dan akhirnya migrasi ke Blogspot lamaku, dan menjajal areal baru di Wordpress.


Tapi aku kehilangan gairah ngeblog.
read more